Selasa, 06 Desember 2011

Duka Bhayangkara dari Tanah Papua


Mengenang jasa para Prajurit Polri yang gugur di tanah Papua dan diseluruh NKRI dalam melaksanakan tugas sebagai abdi Masyarakat, Bangsa dan Negara. Hari ini aku berkata tentang hari yang indah, tentang angin dan hujan yang membasahi bumi dan tentang kata dari hati yang terberi.

Kawan kami mati demi sebuah perintah dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang mulia demi masyarakat, bangsa dan Negara. Kami dianiaya, dipukul dan dibunuh tanpa berkedip namun tiada HAM yang melindungi kami, akan tetapi saat kami mempertahankan diri maupun menegakkan hukum, kami malah dianggap melanggar HAM.

Entah HAM yang seperti ini adil atau tidak, yang pasti kami anggota Bhayangkara juga manusia biasa yang punya rasa dan jiwa, kami juga memiliki rasa sakit dan terluka, apalagi melihat rekan kami yang terkapar di sana. Tiada penghormatan, tiada penghargaan di saat kami tinggalkan keluarga kami, anak-anak kami, istri kami tercinta dan kembali dengan tubuh yang tak lagi bicara. Terpendam dalam tanah nan sunyi dalam pangkuan ibu pertiwi, hanya simpati dari rekan-rekan kami sesama anggota Polri yang menemani kepergian kami.


~ Salam dari Kami, Bintara Polri ~


Minggu, 31 Juli 2011

Polisi Ahlinya Motivasi


Chaerul Tanjung tengah risau dan galau memikirkan Joe, tangan kanannya di perusahaan, yang sedang patah semangat. Belakangan ini, Joe bolak-balik gagal, baik dalam pekerjaan maupun dalam pergaulan. Tidak heran kalau Joe menganggap dirinya seorang pecundang. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, tegas Chaerul. Maka Chaerul pun mempertemukan Joe dengan Ippho Santosa pakar otak kanan untuk memberi semangat kepada Joe.

"Saya ini pemenang! Saya ini pemenang! Ayo akui itu! Ucapkan!" teriak Ippho. Berharap Joe mengikuti kata-katanya.

Dengan nada lemah Joe menjawab, "Mana mungkin saya akui itu, Pak. Saya ini pecundang. Betul-betul pecundang."

lantas Chaerul mempertemukan Joe dengan Tung Desem Waringin, seorang pelatih kondang.

"Saya ini pemenang! Saya ini pemenang! Ayo akui itu! Ucapkan!" teriak Tung Desem Waringin.

Ternyata, Joe tetap menjawab, "
Mana mungkin saya akui itu, Pak. Saya ini pecundang. Betul-betul pecundang."

Terus, Chaerul mempertemukan Joe dengan Andrie Wongso, seorang motivator kawakan.

"Saya ini pemenang! Saya ini pemenang! Ayo akui itu! Ucapkan!" teriak Andri Wongso.

Ternyata, Joe tetap saja menjawab, "
Mana mungkin saya akui itu, Pak. Saya ini pecundang. Betul-betul pecundang."

Untunglah Chaerul tidak kehilangan akal. Dia 'kan kreatif orangnya. Kemudian, ia mempertemukan Joe dengan seorang Polisi. Berbeda dengan motivator-motivator lainnya, Polisi ini sama sekali tidak berteriak. Ia cuma berbisik kepada Joe.

"Saya ini pemenang! Saya ini pemenang! Ayo akui itu! Ucapkan! Kalau ndak, tak kemlang kamu!" bisik Polisi setengah mengancam.

Tidak disangka-sangka, begitu mendengar bisikan itu Joe langsung berseru lantang, "Saya akui itu, Pak! Saya ini pemenang! Pemenang, Pemenang, Pemenaaang! Saya akan mengaku apa saja, Pak! Asal saya ndak diapa-apain!"

Huahaha! Mana ada kejadian seperti itu!, cuma joke. Ndak usah masukin hati, hehe....


SUMBER :
Buku Marketing is Bulshit....
Penulis Ippho Santosa





Sabtu, 04 Juni 2011

Surat dari Rio


Seorang bocah yang sangat ingin melanjutkan sekolah, tetapi orang tuanya tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya. Lagipula ibunya yang sedang sakit membutuhkan biaya untuk membeli obat. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan:

Kepada Yth.
Tuhan
di Surga

Tuhan yang baik, saya mau melanjutkan sekolah, tapi orang tua saya tidak punya uang. Ibu saya juga sedang sakit, mau beli obat. Tuhan, saya butuh uang Rp 20.000 utk beli obat ibu, Rp 20.000 untuk membayar uang sekolah, Rp 10.000 untuk membayar uang seragam, dan uang buku Rp 10.000. Jadi semuanya Rp 60.000. Terima kasih Tuhan, saya tunggu kiriman uangnya.

Dari : Rio

Rio pun pergi ke kantor pos untuk mengirim suratnya. Membaca tujuan surat tersebut, petugas kantor pos merasa iba melihat Rio, sehingga tidak tega mengembalikan suratnya. Bingung mau di kemanain surat itu, akhirnya petugas pos itu menyerahkannya ke kantor polisi terdekat. Membaca isi surat itu, Komandan polisi merasa iba dan tergerak hatinya utk menceritakan hal tsb kepada anak buahnya. Walhasil, para polisi pun mengumpulkan dana untuk di berikan ke Rio, tetapi dana yang terkumpul hanya Rp 55.000,-.

Sang Komandan pun memasukan uang yang terkumpul ke dalam amplop, menuliskan keterangan: “Dari Tuhan di Surga”, dan menyerahkan ke anak buahnya utk di kembalikan ke Rio.

Menerima uang tsb, Rio merasa sangat senang permintaannya terkabul, walaupun yang di terima hanya Rp 55.000,-. Rio pun bergegas mengambil kertas dan pensil, dan mulai menulis surat lagi :

TUHAN LAIN KALI KALO MAU KIRIM UANG, JANGAN LEWAT POLISI, KARENA KALO LEWAT POLISI DI POTONG RP 5.000,-.

Polisi: GUBRAKKKK…

SUMBER :
http://www.malau.net/tag/polisi/page/5/

Senin, 30 Mei 2011

Ngebut di Jalan


Seorang petugas Polisi di kota kecil menghentikan seorang pengendara sepeda motor yang kedapatan ngebut di jalan utama kota. “Tapi Pak,” Kata pria pengendara motor itu,”saya bisa menjelaskan alasannya.”

”jangan banyak omong,” bentak Polisi itu, ”Saya akan menahan kamu sampai Kepala Polisi datang.”

Tapi, Pak, anda harus dengar saya dulu, Saya......”

”Sudah kubilang jangan banyak omong! Kamu akan segera saya masukkan ke dalam tahanan!”

Beberapa jam kemudian, Polisi itu menengok kembali tahanan tersebut dan berkata,”Kamu sangat beruntung, karena hari ini Kepala Polisi sedang menghadiri pernikahan putrinya. Hatinya pasti senang saat dia kembali ke sini nanti.”

”Jangan harap,” jawab pria tersebut dari dalam tahanan.”Saya adalah pengantin prianya.”


SUMBER :
http://www.malau.net

Senyum Sejati Anggota Polri


Semua orang merindukan suasana sejuk dan menggembirakan. Kalau demikian, maka semua orang senang akan senyum, karena senyum ini menjembatani suasana sejuk yang menggembirakan. Bukan hanya menggembirakan, tetapi senyum simpatik mengundang rezeki dan jodoh lo....

Seorang pengusaha yang baik tidak akan memasang pegawai yang mahal senyum untuk menjaga toko, karena senyum adalah bagian mutlak dari pelayanan untuk menggaet pelanggan. Jika anda kesulitan mencari jodoh, maka jadikanlah senyum penghias. Orang yang kaku dan kurang cantik/ganteng murah akan senyum, maka akan terlihat supel, manis dan menarik. Memang pengaruh senyum luar biasa, sebab tidak jarang orang jatuh cinta lewat telepon atau dibalik dinding yang kokoh, karena mendengar suara ceria yang didukung senyum.

Menjadi anggota Polri bukan sembarang orang, mereka adalah hasil seleksi yang ketat termasuk postur dan penampilannya. Coba bayangkan, apabila postur dan penampilan seorang Polisi ditambah dengan senyum pasti akan terlihat semakin menarik. Tentunya bukan dengan sembarang senyum tapi senyum sejati, yaitu senyum yang memikat karena lahir dari lubuk hati yang ikhlas demi melindungi, mengayomi dan melayani masyarakatnya sehingga terasa hangat dan membawa suasana yang menggembirakan.

Polri dalam mengemban tugasnya tidak diharapkan lagi bersikap seperti Polisi jaman dulu, karena zaman itu sudah lewat. Dibutuhkan penampilan Polisi modern yang menjunjung tinggi HAM, bersikap dan berperilaku yang terlebih dahulu taat kepada aturan sehingga sikap dan perbuatannya menjadi sumber ketauladanan. Bersikap dan berperilaku simpatik yang pada gilirannya nanti Polisi akan tumbuh dan berkembang sebagai kebanggaan dan kecintaan masyarakat. Bravo Polri.

OLEH :
Brigjen Pol. Drs. M. Arief Wangsa
Kepala Dinas Psikologi Polri, Mabes Polri – Jakarta, Maret 1995
Dalam Buku :
Polisi, Cara bergaul Menarik Simpatik

Senin, 28 Maret 2011

Pesanku


Ketika nuansa senja mulai temaram
Ditandai dengan terbenamnya mentari di sela-sela bebukitan
Kembali bumi Bhayangkara menguakkan peristiwa bersejarah
Perjalanan pengabdian Polri Wisuda Purna Wira Pati Bhayangkara

Para generasiku.......
Kami para pendahulumu yang telah sekian lama mengabdikan diri
Jiwa dan raga untuk Ibu Pertiwi
Telah sampai diakhir masa pengabdian
Dengan dilambari semangat juang Bhayangkara Sejati
Yang selalu membara di hati kami
Aku serahkan obor dan perisai ini kepadamu
Lambang kelegawaanku mewariskan nilai-nilai pengabdian
Dan kejuangan Polri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat

Bersatulah engkau generasiku !!!!!!!!!
Tiada waktu lagi untuk saling menyalahkan
Bina dan pupuklah persatuan
Diantara engkau generasi penerusku
Tingkatkan terus kemampuanmu
Demi tegak berkibarnya bendera Tri Brata
Di lala dan nusantara ini

Kurindukan Dharma Bhaktimu ........
Dan pegang teguh wanti – wantiku
Kau datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani, dan
Dikerentaan usia senjaku, masih saja terbetik di sanubari yang paling dalam
bahwa purna bhaktiku bukanlah akhir dari pengabdianku !!!!!!!!

Kami para pendahulumu dengan setia mengiringi perjalanan
Pengabdianmu
Selamat bertugas putra-putriku......
Selamat berjuang generasiku.......
Demi kejayaan Bangsa dan Negara Ini


SUMBER :
Buletin SDM POLRI in action
Edisi Perdana April 2010

Senin, 21 Februari 2011

Masuk Polisi Pake D.U.I.T


Ada yang tanya pada saya, “Masuk Polisi pakai duit ya??”.
Sambil menghela nafas, rasanya miris sekali mendengar pertanyaan seperti itu. Nampaknya sudah mengakar dalam masyarakat bahwa untuk menjadi seorang Polisi harus mengeluarkan/menyogok sejumlah uang. Padahal sudah seringkali disosialisasikan bahwa pendaftaran Polisi GRATIS. Akhirnya, saya jawab saja pertanyaan di atas sambil tertawa dan bernada humor,”Iya masuk Polisi pakai DUIT, alias :
D = Doa,
U = Usaha,
I = Ikhtiar,
T = Tawakal.”

Suasana yang mulanya serius akhirnya mencair berganti dengan tawa dan canda. Setelah bembicaan agak renyah, baru saya sampaikan bahwa masuk Polisi itu GRATIS gak pake bayar.

Kalau ada Polisi yang mengaku bahwa dia masuk Polisi sehabis membayar sekian puluh juta, wah… itu termasuk Polisi yang habis kena tipu, padahal sebenarnya dia lulus murni.

Kenapa saya bilang begitu, nah….. begini ceritanya.
Anggap saya sebagai, “Makelar Calon Polisi” (contoh aja ye, bukan sungguhan). Saat penerimaan anggota Polisi, saya menawarkan kepada calon-calon Polisi yang masih lugu-lugu bahwa saya bisa menguruskan supaya lulus menjadi Polisi dengan membayar sejumlah uang misalnya Rp 30.000.000,-.

Setelah menebarkan janji manis, saya berhasil menjerat 10 calon korban & berhasil panen uang sebesar Rp 300.000.000,-. Nah… setelah seleksi penerimaan dimulai sebenarnya saya tidak menguruskan sama sekali, cukup duduk-duduk & santai-santai sambil kipas-kipas dengan duit. Biarin aja calon tersebut berjuang mengikuti seleksi sendiri & percaya aku yang sedang nguruskan dari dalam (padahal enggak… ^_^).

Pengumuman hasil seleksi penerimaan Polisi dikeluarkan.
Dari 10 calon korbanku, 3 lulus & 7 tidak lulus. Uang calon korbanku yang tidak lulus kukembalikan, alasan tidak lulus karena masih kurang ini itu atau kesehatan ada yang kurang dan lain sebagainya sehingga dia tidak nuntut secara pidana. Uang korbanku yang lulus kutilap, lumayan…. 3 orang berarti Rp 90.000.000,- (Padahal sebenarnya mereka lulus murni). Kukasih selamat kepada orang tua & anak tersebut, mereka malah nyembah-nyembah & terima kasih bagai aku malaikan keberuntungan mereka (padahal baru aja kutipu hehe…).

Akhir kisah, jangan percaya apabila ada yang mengaku bisa meluluskan menjadi Polisi. Cukup dengan D.U.I.T (Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakal) kepada Allah SWT maka bila Allah SWT menghendaki maka dia akan menjadi Polisi, tentunya dengan D.U.I.T yang positif. Dan bagi Polisi yang terlanjur membayar untuk masuk Polisi, sadarilah bahwa anda sebenarnya lulus secara murni karena skill, kemampuan & kompetensi saudara berdasarkan hasil seleksi penerimaan Kepolisian yang ketat, selanjutnya jalankanlah tugas anda dengan sepenuh hati dan profesional. Bravo Polri.

By Ahmad Ridha