Selasa, 15 Januari 2013

Tidak Melihat Bapak



 Si Atong mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang. Walaupun sebenarnya dia melihat traffic light sdh menyala warna merah dia tetap saja terus jalan tanpa menghiraukannya yang akhirnya diberhentikan Polisi di persimpangan jalan.

“Apakah Saudara tidak melihat lampu merah?” tanya seorang polisi kepada Atong.

“Saya lihat, Pak.” Jawab Atong.

“Lalu kenapa Saudara tidak berhenti?”

Sambil malu-malu diapun menjawab, “Saya tidak melihat Bapak”






----------
Keep safety drive kawan, nyawa anda sungguh sangat berharga untuk dipertaruhkan di jalan raya. Tetap disiplin berlalu lintas walau tiada Polisi yg mengawasi, anda merupakan orang yg sangat penting.

SUMBER :
http://www.malau.net/tag/polisi/

Sabtu, 18 Agustus 2012

Polisi Dihari Nan Fitri


Alhamdulillah hanya karena kebesaran-Mu lah hari kemenangan ini dapat kami raih. Sayup gema takbir di kejauhan menyadarkan jiwa dan raga ini akan indahnya saling memaafkan, indahnya saling mengasihi, indahnya saling berbagi.

Ya Allah, Ya Robbi, ajari hamba-Mu untuk bersyukur atas anugerah yg berlimpah ini, atas keluarga yang sangat kami cintai, atas dukungan dan ketabahan yang mereka siratkan dalam menjalani hidup sebagai keluarga besar anggota Kepolisian Negara Republik ini, sehingga kami dapat menjalankan tugas dengan tenang, tulus dan ikhlas.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil-Hamd

Selamat Hari Raya idhul fitri 1 Syawal 1433 H, mohon maaf lahir dan batin

Jumat, 17 Agustus 2012

Masuk Surga atau Neraka

osolihin.wordpress.com

Terjadi kecelakaan yang menewaskan seluruh pekerja suatu bank dalam satu cabang setelah pulang dalam suatu acara kantor. Di dalamnya ikut juga BRIMOB yang mengawal, kemudian dianyalah mereka satu persatu oleh malaikat :

Malaikat : Kamu siapa?
Teller : saya teller bank malaikat.
Malaikat : Kamu masuk neraka!
Teller : Loh kenapa?
Malaikat : pokoknya neraka, waktu kamu kurang duit teriak-teriak, giliran lebih diam. Masuk !!!

Malaikat : Kamu siapa?
CS : Saya Costumer Service bank
Malaikat : Kamu masuk neraka
CS : Loh kenapa??
Malaikat : Karena kamu sering membuat nasabah menunggu karena hal yang tidak penting, Neraka !!

Malaikat : Kamu admin ya?
Admin : Iya malaikat, saya masuk surga ya?
Malaikat : Mana mungkiinn..... kamu sering mempersulit nasabah, kamu masuk neraka.

Malaikat : Kamu siapa?
Pincab : Saya Pincab (Pimpinan Cabang) Bank malaikat, jabatan saya tinggi jadi saya masuk surga yah?
Malaikat : Kata siapa? justru kamu masuk neraka karena memimpin mereka dengan cara yang gak bener, neraka titik !!

Setelah itu malaikat menutup pintu neraka, sebelum ditutup ternyata masih ada satu orang & ternyata POLISI, lalu dipanggillah dia oleh malaikat.
Malaikat : Hey kamu kemari, kamu siapa?
POLISI : Saya POLISI, sebelum saya disuruh masuk neraka apa saya boleh pili neraka yang mana?
Malaikat : Oh jadi kamu POLISI? jangan sok tau, kamu masuk surga!!
POLISI : Loh kok bisa malaikat??
Malaikat : KARENA POLISI HIDUPNYA DI DUNIA UDAH KAYAK DI NERAKA!!




Senin, 13 Agustus 2012

Mau masuk apa??


Bu guru bertanya, "Anak-anak siapa yang mau MASUK Surga...?"

Serempak anak-anak berteriak, "Sayaaaa...."

Tapi ada salah satu murid yang bernama Alex diam saja.

Bu guru bertanya lagi, "Siapa yang mau MASUK Neraka... ??"

Anak-anak pun berteriak, "Tidak mau.....!!"

Namun, hanya Alex yang tetap diam saja.

Bu Guru pun bertanya kepada Alex, "Kenapa kamu tidak menjawab Lex??"

Alex menjawab, "Saya bingung bu, karena sebelum bapak saya meninggal, beliau berpesan, "Alex, ingat ya...  apapun yang terjadi, kamu harus Masuk Brimob... !!""

Kamis, 19 Januari 2012

Terjun Bebas


Ceritanya ada satu orang turis dari Indonesia dateng vacation ke NewYork. Waktu dia lagi JJS (Jalan-Jalan Siang), dia notice kalo dia ada di depan Empire State building. Dia nengok ke atas and liat kalo building itu tinggi buanget. Nggak salah emang kalo dibilang Empire State itu salah satu gedong yang paling tinggi di dunia.

Sewaktu si Doi lagi mengagumi kemegahan building itu, Do’i di samperin same satu Bule and si Bule ngajak ngobrol ke si Do’i. Si Bule ngomong ke si Doi, “Elo tau nggak karena saking tingginya building ini, gravity force di atas sono tuh ampir nggak ada.”

Si Doi nengok ke si Bule and said, “That’s impossible, nonsense, tepuan.” Maklum si Do’i dulu bekas anak SMA IPA makanya Do’i nggak percaya ama si Bule. Si Bule ngomong lagi, “Swear, gua nggak bo’ong kok… Kalo elo nggak percaya coba aja deh elo naek ke lantai paling atas and loncat ke luar. Elo nggak bakalan jatuh, tapi melayang-layang kaya burung.” Si Do’i keki banget dianjurin loncat dari lantai paling atas Empire State building.

Do’i bales ngomong ke si Bule,”Kalo emangnya bener, kenapa nggak elo aja yang loncat dari atas sono, gua liatin dari bawah.” Si Bule bilang, “Oke deh, gua buktiin kalo gua nggak boong sama elo. Sekarang gua ke lantai paling atas and loncat ke luar. Elo liat pake keker-an elo kalo gua bakalan melayang-layang di udara kaya burung.”

Si Bule masuk ke dalem Empire State building. Sekitar 5 menit, si Do’i liat lewat keker-an kalo ada orang buka jendela dari lantai yang paling atas and then liat si Bule melambaikan tangannya ke si Do’i. “Gile juga nih Bule. Jangan-jangan nih Bule lagi dalam perawatan mental.” kata si Do’i dalem ati. Abis melambaikan tangannya si Bule mulai manjat ke jendela and HOOPLA, loncat ke luar. Si Do’i langsung menahan napas nya saking dag-dig-dug-nya.

Tapi si Do’i langsung cengok begitu liat si Bule nggak jatuh ke tanah tapi melayang-layang kaya burung. “Ajigile tuh Bule, kok bisa ya dia melayang-layang kaya burung??” bisik atinya si Do’i.

Setelah sekitar 1 menit melayang-layang di udara, si Bule masuk lagi ke building lewat the same window and turun ke bawah. Si Bule ngomong,” Gimana sekarang, elo percaya nggak sama omongan gua?!” Si Do’i masih amused sama apa yang baru di liat. Begitu otaknya sadar, si Do’i bilang begini ke si Bule, “Pasti elo pake tricks di atas sono, supaya elo nggak jatuh ke tanah!! Pasti, pasti, gue yakin banget… Coba elo loncat sekali lagi, and gua ikut liatin elo dari atas sono jadi gua yakin kalo nggak ada trick.”

Si Bule dengan senyuman setuju sama usul si Do’i. Setelah mereka udah berada di lantai paling atas, si Bule suruh si Do’i supaya perhatiin jelas-jelas kalo dia nggak pake trick buat melayang di udara.

Si Bule lompat lagi ke luar and melayang-layang kaya burung. Si Do’i cengok lagi. “Lho kok bisa ya nih orang nggak jatuh ke tanah?” Abis melayang-layang sebentar, si Bule masuk lagi lewat jendela and ngomong, “Gimana, percaya nggak sama omongan gua?” Si Do’i cuma manggut-manggut kaya orang bego.

Terus dia bilang ke si Bule, “Eh, Bule elo tolong fotoin gua ya waktu gua lagi melayang-layang di udara. Gua mau buat souvenir nih. Khan keren lho, melayang- layang kaya burung.” Si Bule cuma senyum-senyum aja waktu di kasih kamera sama si Do’i.

Si Do’i terus manjat ke pinggiran jendela and liat ke bawah, “Wuiihh, tinggi banget, kalo jatuh gimana ya? Ahh, tapi si Bule aja nggak jatuh gua juga pasti nggak jatuh. Khan gravity di atas sini kecil banget.” Terus si Do’i lompat ke luar and…

ZIIINNGGGG……….GEDEBUK!!!!!

Begitu si Do’i lompat ke luar, langsung aja dia free falling and mati seketika. Nggak lama dateng deh tuh police-police and ambulance-ambulance ke Empire State building. Waktu Chief polisinya ngatur-ngatur massa yang berkerumun, si Chiefnya tanpa disengaja ngeliat si Bule baru keluar dari Empire State building. Langsung aja di samperin ama si Chief. Si Bule cuma senyum-senyum aja ke si Chief.

Terus si Chief bilang ke si Bule, “Superman, Superman, kok elo isengnya nggak ilang-ilang sih???”


SUMBER :
http://www.malau.net/tag/polisi/page/5/

Minggu, 25 Desember 2011

Resep Bahagia Pernikahan dengan Polwan


Joni seorang perwira Polisi dan Istrinya seorang Polwan telah menikah selama 30 tahun dan belum pernah sekalipun mereka bertengkar ataupun mengalami hari-hari yang tidak mengenakkan bersama. Mereka selalu terlihat serasi dan mesra di setiap acara dan kesempatan bahkan hingga saat ini di penghujung masa pensiun mereka.

Banyak orang dan rekan kerja yang selalu memuji kehidupan pernikahan mereka. Akhirnya suatu ketika sebuah majalah Polri memutuskan untuk mewawancarai Joni mengenai rahasia dari pernikahan bahagia yang mereka jalani.

Joni bercerita :
Yahh..., peristiwa ini awalnya terjadi 30 tahun yang lalu pada saat kami sedang berbulan madu. Kami berdua sedang menunggang kuda di pinggir pantai, dimana tiba-tiba kuda yang ditunggangi istri saya tersandung, dan ia pun terjatuh. Tetapi istri tercinta saya bangkit dengan wajah yang gembira, tidak marah, tapi hanya mengucapkan 1 kata : " SEKALI ".

Lalu ia pun kembali menunggang kudanya dengan saya. Setelah beberapa menit kemudian, kudanya kembali tersandung dan istri saya jatuh untuk kedua kalinya. Tapi lagi-lagi, istri saya tetap bangkit dengan wajah yang tetap tersenyum, sambil berkata : " DUA KALI ".

Saat kami akan kembali ke villa tempat kami menginap, sang kuda kembali tersandung jatuh. Lalu, istri saya kembali menunjukkan wajah yang begitu menyenangkan, tapi kali ini ia mengeluarkan pistol dari dalam tasnya, dan "DORRR" !! Dia menembak mati kuda tersebut.

Saya sangat terkejut dengan reaksinya itu, dan langsung membentaknya:
"Heii, apakah kamu sudah GILA!?? kenapa kamu menembak kuda itu?".....

Istri saya menatap saya dengan wajah yang lembut dan mengucapkan satu kata : "SEKALI"..

Dan sejak hari itu, kami tidak pernah sekalipun bertengkar lagi dan itulah rahasia bagaimana pernikahan kami bisa bertahan dengan damai sampai 30 tahun ini.....

Haha..... Tenang saja sidang pembaca sekalian, gak ada kok Polwan Indonesia yang seperti itu. Ini hanya sebuah cerita jangan diambil hati ya rekan-rekan dan para senior Polwan..... XD

Sumber Inspirasi :
Majalah Jagratara The Police Magazine
Edisi 65, November 2011

Saat Sri Sultan HB IX terkena tilang


Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.


Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu . “Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati . Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik , naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup lumayan., entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan , namun sultan menolak.

“ Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“ Jadi…?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya .

“Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!” Brigadir Royadin heran , sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.

“Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi pekalongan , nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa , ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.

“ Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia , ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“ Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah ..dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku , kok malah mbok tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja ..memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun , masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah , Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.

Suatu sore , saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin , ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari , karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .

“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan , untuk apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan , ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “ Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar , namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .

“ Mohon bapak sampaikan ke sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010 , saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga dipekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya , pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.

Depok June 25′ 2011
Aryadi Noersaid

SUMBER :
http://www.fakhrial-trafficinfo.com/2011/12/kisah-nyata-penuh-makan-sri-sultan-hb.html