Rabu, 24 Maret 2010

Ditilang Polisi, dan Polisi itu temanku…!!!


Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Priiiiittt……….!!!!!!!!
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.

Hey, itu kan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jono agak lega, ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. “Hai Bob, senang sekali ketemu kamu lagi!”

“Hai Jon.” Tampa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”

“Oh ya?” Jawab Bobi.
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”

“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.” Ooooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah, Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
“Ayo dong Jon, kami melihatnya dengan jelas.Tolong keluarkan SIM-mu.”

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit.

Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini, ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

“Halo Jono, tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)”.

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan….!!!

Tak selamanya perngertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive Safely Guys…!!!!


SUMBER :
Majalah Jagratara
Edisi XLVII Juni 2009

Selasa, 23 Maret 2010

Mathilda Batlayeri Pahlawan Bhayangkari

Sejarah Bhayangkari Polda Kalimantan Selatan tidak dapat lepas dari kisah heroik Mathilda Batlayeri. Seorang istri Polisi yang gugur bersama ketiga anaknya dalam mempertahankan pos/asrama Polisi Kurau, Kabupaten Tanah Laut (dahulu Kewedanaan Tanah Laut).

Pada tahun 1950-an di Kalimantan Selatan terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Ibnu Hajar dengan nama Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT). Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) KRyT senantiasa melakukan teror dan penyerangan kepada kampung-kampung yang dilaluinya. Tak jarang terjadi penghadangan dan penyerangan terhadap patroli-patroli tentara dan Polisi dengan tujuan merebut senjata sebanyak-banyaknya. Bahkan GPK KRyT tak segan untuk menyerang pos dan asrama militer/polisi.

Pada Rabu, 28 September 1953, dini hari, gerombolan KRyT menyerangan pos/asrama Polisi Kurau yang termasuk wilayah terdepan, mengingat wilayah Kurau merupakan Basis pertahanan GPK KRyT. Dalam penyerangan tersebut, kekuatan GPK KRyT mencapai 50 orang yang dipimpin Suwardi. Mereka bersenjata api yang terbilang modern pada saat itu dan beberapa memakai senjata tajam.

Serangan mendadak di ambang fajar tersebut hanya dihadapi oleh lima orang anggota Polisi bersenjata dan seorang Bhayangkari menggunakan senjata jenis moser milik suaminya. Bhayangkari tersebut adalah Mathilda Batlayeri, yang melibatkan diri dalam pertempuran dikarenakan melihat kekuatan anggota Polisi yang tidak berimbang dalam pertempuran tersebut.

Suami mathilda Batlayeri, AP II (Agen Polisi II) Adrianus Batlayeri, saat pertempuran terjadi sedang mengambil air di sumur, namun karena posisinya yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Pos/Asrama, maka Adrianus tidak dapat terlibat dalam pertempuran.

Dalam pertempuran tersebut, GPK KRyT mengalami kesulitan untuk melumpuhkan kekuatan Pos/Asrama Polisi Kurau. Bahkan Suwardi, pemimpin penyerangan, yang konon memiliki ilmu kebal, tertembak oleh Mathilda Batlayeri. Namun, tetap saja pertempuran tidak seimbang. Satu persatu kusuma bangsa berguguran, termasuk ketiga anak dari Mathilda Batlayeri.

Anak Mathilda yang tewas yaitu Alex (9 thn) & lodewijk (6 thn) yang tewas di kamar asrama Polisi, yang mereka tempati dan Max (2,5 thn) tewas di pelukan ibunya. Melihat ketiga anaknya telah tewas, membuat semangat tempur Mathilda Batlayeri, seorang Bhayangkari semakin berkobar, akan tetapi setelah bertempur kurang lebih satu setengah jam, akhirnya Mathilda Batlayeri gugur sebagai kusuma bangsa bersama janin yang sedang dikandungnya. Setelah tidak ada perlawanan lagi dari pihak Polisi, maka GPK KRyT membumihanguskan Pos/Asrama Polisi Kurau. Jenazah Mathilda dan ketiga anaknya turut terbakar dalam kobaran api tersebut.

Semangat juang dan pengabdian yang tiada terkira Mathilda Batlayeri menjadi hal yang patut dihormati dan dikenang. Untuk jasa-jasanya tersebut, atas perintah Kadapol XIII Kaltengsel brigjend Pol. Drs. Moch. Sanusi (Mantan Kapolri periode 1987-1991), pada 13 Agustus 1983 dibangun “Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda batlayeri” di Kurau dan selesai di kerjakan pada 15 Oktober 1983. Kemudian bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 1983, monument tersebut diresmikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Bhayangkari Ny. Anton Soedjarwo (isteri Kapolri Jenderal Polisi Anton Soedjarwo, periode 1982-1987).

Pada bagian depan Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri terukir tulisan yang berbunyi, “KEPADA PENERUSKU, AKU BHAYANGKARI DAN ANAK-ANAKKU TERKAPAR DI SINI, DI BUMI KURAU YANG SUNYI, SEMOGA PAHATAN PENGABDIANKU MEMBERI ARTI PADA IBU PERTIWI”.



(Monumen Bhayangkari Teladan Mathilda Batlayeri)


SUMBER :
Buku Waja Sampai Kaputing
Profil Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan

Rabu, 03 Februari 2010

Harga Sebuah Pengabdian

Seorang Jenderal di Kepolisian memanggil tiga anggotanya yang dianggap berjasa sepulang bertugas dari Poso, “Karena ini bukan situasi perang, saya tidak bisa menganugerahkan kalian medali. Namun tetap ada hadiah buat kalian,” Kata sang Jenderal.

Ia berkata lagi,”Yang harus kalian lakukan hanya menentukan dua titik di tubuh kalian, lantas saya akan memberikan Rp 100 ribu untuk tiap sentinya. Kita mulai dari kamu.”

Andrian : “Dari ujung rambut sampai ujung kaki, Pak.”
Jenderal : “Hebat, 175 senti. Kamu saya beri Rp 17,5 juta. Lumayan untuk sewa rumah.”

Anton : “Dari ujung jempol kiri ke ujung jempol jari kanan, Pak!”
Jenderal : “Luar biasa, 180 senti. Total Rp 18 juta. Cukup untuk membuka warung kelontong!”

Reynold: “Dari pundak ke telunjuk, Jenderal.”
Jenderal : “Hmmm….. Aneh, tapi oke.”

Pada saat sang Jenderal mulai mengukur, “Mana kelingkingmu Nak?”
Reynold : “Di Poso, Pak”

Kamis, 31 Desember 2009

DIMANA KUTEMUKAN AKU

Dimana
Kutemukan Aku
Waktu aku kecil
Kubertanya pada ibuku

Ibu mengapa aku ada?
Karena Kasih Tuhan anakku, jawabnya
Ibu di mana aku engkau temukan ?
Tanyaku lagi
Di dalam cinta bapak dan ibumu, Nak!
Engkau dari Kantong Tuhan,
Katanya lagi

Setelah dewasa, aku menjadi Polisi
Kembali aku bertanya pada diriku
Mengapa aku jadi Polisi?
Apakah ini kasih Tuhan?
Di mana dapat kutemukan?
Kurenungkan, untuk mencari jawaban

Tahu aku, kutemukan sudah
Semua ada di Hati
Hati siapa tanyaku lagi
Yaa… hati rakyat yang kulayani

Chryshnanda DL

Rabu, 18 November 2009

Jauh Lebih Ketat

Bukan rahasia lagi jika wajah lembaga intelijen Indonesia masih dianggap semrawut. Namun di balik cap miring itu, masih ada satu peranan yang membuat Indonesia bangga. Rupanya dalam hal menjaga kerahasiaan Intelijen Indonesia yang mengaplikasikannya pada level yang sangat ketat.

Di Israel, agen satuan tugas (satgas) Mossa yang satu tidak akan saling mengetahui apa yang dikerjakan rekannya dari satgas lain.

Di Inggris, agen M16 dari biro yang satu tidak memahami misi apa yang diemban oleh agen M16 dari biro lainnya.

Bahkan, agen CIA (Dinas Intelijen Amerika) tidak tahun apa yang dilakukan sesame agen di sebelahnya.

Tapi itu semua tidak ada apa-apanya ketimbang agen Intelijen Indonesia. Di negeri ini, seorang intel tidak tahu apa yang dia kerjakan!

Pengemudi yang Taat

Lantaran sering ditilang Polantas di dekat Kantornya, Alfian berniat balas dendam lewat cara mempersenjatai diri dengan semua syarat menaiki motor : SIM, STNK, helm, kaca spion dan dengan pongah berkata pada Pak Polisi yang acap kali menangkapnya itu.

Alfian : “Hari ini saya menjadi pengendara motor yang taat”.
Pak Polisi : “Oh ya?”
Alfian : “Saya membawa SIM, STNK memakai helm dan kaca spion juga sudah saya pasang keduanya.”
Pak Polisi : “Namun, ada yang aneh pada dirimu hari ini.”
Alfian : “Apa itu, Pak?”
Pak Polisi : “Dimana motor kamu? Kenapa enggak dibawa?”
Alfian : “???????”.

Minggu, 27 September 2009

Polisi Yahukimo jadi Guru


Anggota Polri yang bertugas di pedalaman Papua harus memiliki mental yang tebal dalam menghadapi dan menangani semua kendala tugas dan keterbatasan, baik keterbatasan diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Anggota Polres Yahukimo yang bertugas di Distrik Sumohai Kabupaten Yahukimo tanpa mengkesampingkan tugasnya selaku anggota
Polisi juga peduli dengan lingkungan sekitarnya. Mereka menyempatkan diri untuk mengajar di salah satu SD yang terdapat pada Distrik tersebut.

Bripda Basri Jaya Tompo anggota Satuan Samapta Polres Yahukimo bersama-sama dengan beberapa rekannya merasa terpanggil untuk memberikan ilmu kepada murid-murid yang ada di SD tersebut. Hal tersebut dilakukan karena melihat keinginan dari masyarakat setempat yang mendorong anak-anak mereka yang masuk usia sekolah untuk bersekolah. Namun sayang, sekolah tersebut terkendala akan kurangnya tenaga pengajar.

Melihat situasi keamanan pada saat, akan dan pada pelaksanaan pemungutan suara berjalan aman dan terkendali, beberapa anggota Polres Yahukimo berinisiatif untuk mengajar di sekolah. walaupun hanya mengajar beberapa pelajaran dasar seperti menghitung ataupun membaca, tetapi kegiatan tersebut berjalan lancar. Murid-murid yang belum mengerti materi yang disampaikan, tanpa ragu langsung ke depan kelas untuk bertanya kepada para pengajar. Padahal bila kita sadari mereka merupakan seorang
figur Polisi yang notabene bukan seorang guru. Akan tetapi dengan niat tulus, diimbangi dengan semangat tugas yang luhur maka semua keterbatasan tersebut alhamduliilah dapat teratasi.

SUMBER :
Majalah Rastra Samara Polda Papua.
Edisi Khusus HUT Bhayangkara ke-63 Tahun 2009.