Kamis, 12 Agustus 2010
Dasar Polisi...!
Alkisah, sebuah keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Berbagai upaya telah dilakukan sang ayah untuk meningkatkan taraf hidup, namun selalu gagal. Doapun selalu dipanjatkan setiap malam namun rezeki belum kunjung datang.
Dalam keputusasaan, akhirnya ia menulis sepucuk surat berisi permohonan agar dirinya diberi rezeki berupa uang sebesar Rp 200 ribu untuk membayar SPP anaknya dan beras bagi keluarganya. Surat itu dimasukkan ke dalam amplop. Pada sampul bagian depan ia tuliskan alamat: kepada Tuhan di langit, kemudian dimasukkan ke kotak surat.
Keesokan hari, tukang pos datang, melihat alamat yang hendak dituju, ia bingung mau dikirim ke mana. Dalam kebingungan tiba-tiba ia bertemu dengan seorang polisi yang sedang berpatroli,” Pak Polisi, saya bingung mengantarkan surat ini. Bisakah bapak bantu?”
Akhirnya Polisi itu membuka surat. Setelah dibaca, ia berkata kepada tukang pos,”Surat ini saya bawa, nanti saya urus dan saya sampaikan kepada pengirimnya.”
Saat tukang pos pergi, sang Polisi membuka dompetnya. ia hanya mendapati uang sejumlah Rp. 150 ribu,”Waduh, Cuma ada Rp. 150 ribu, bagaimana untuk makan siangku nanti...” hatinya membatin. Namun karena ia memang berhati baik, dia pun berniat memberikan seluruh uang yang ada di dompetnya itu kepada si pengirim surat. Dia yakin, si pembuat surat pasti sedang dalam kesusahan yang amat sangat. Seluruh uang ia masukkan ke dalam amplop balasan surat itu. Berikutnya, ia bergegas menuju alamat si pengirim.
Saat tiba pada alamat yang dituju, pintupun dibuka oleh seorang anak. ”Bapak ada?” tanya sang Polisi. ”Bapak sedang shalat dan biasanya dilanjutkan dengan berdoa cukup lama, Pak.” jawab si anak.
”Baik. Karena saya masih ada tugas lain, tolong berikan surat ini kepada bapakmu ya... ” Pak Polisi pun bergegas pergi. Usai sang ayah berdoa, si anak memberikan amplop itu. Betapa terkejutnya ia kala amplop itu dibuka ia dapati uang sebanyak Rp. 150 ribu.
”Halim!....” panggilnya pada si anak, ”Siapa yang mengantar surat ini tadi?”
”Tidak tahu namanya, Yah. Cuma tadi bapak itu ke sini pakai seragam Polisi.”
”Aaahhh... Dasar Polisi! Dasar Polisi!” sang ayah menggerutu, ”Permohonanku kepada Tuhan kan Rp. 200 ribu. Ini, kok Cuma tinggal Rp. 150 ribu? Dasar Polisi, masih suka pungli, bahkan kepada orang yang jelas-jelas susah sepertiku. Dasar Polisi! Dasar Polisi!”
Ada hikmah menarik yang dapat dipetik dari cerita ini. Terkadang citra negatif Polisi yang terlanjur melekat dari jaman dulu memang menjadi tembok yang menghalangi pandangan banyak orang terhadap mereka hari ini. Sehingga kadang orang yang berbuat baik belum tentu dianggap baik oleh yang tidak mengetahuinya.
Percayalah masih banyak Polisi yang baik di negeri ini. Dan semoga ke depan Polisi bisa menunjukkan profesionalitasnya dalam menegakkan hukum, kebenaran, keadilan, dan ketertiban masyarakat sehingga masyarakat pun dapat menyampaikan keluh kesah dan kepercayaannya kepada bapak dan ibu yang berprofesi sebagai Polisi.
Sumber :
Majalah Machdum Sakti
Nomor 6 Tahun XIV – Juni 2010
Oleh:Taufik
Peminat Masalah Kepolisian
Tinggal di Banda Aceh
Selasa, 10 Agustus 2010
Pengakuan Polisi di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan bulan penuh pengampunan dan makna kasih sayang. Tak mudah mendapatkan keberkahan di bulan suci ini. Sebuah kesucian hati dikala kita sebulan penuh menjaga hawa nafsu. Begitu yang dilakukan Polisi lalu lintas (Polantas) satu ini. Sebut saja Sersan Suyono.
Baginya menjadi polisi sebenarnya bukan cita-citanya. Namun apa daya, kebutuhan ekonomi keluarga yang akhirnya memilih untuk mengabdi pada negara. Sudah tujuh tahun ia dinas di kepolisian. Sempat ditugaskan berjaga-jaga menangani GAM di Aceh. Kini ia harus bertugas sebagai pengatur lalu lintas (Polantas). Ini pun sekali lagi bukan pilihannya.
Bagi kebanyakan polisi tugas di jalan adalah kerja berjuta suka. Dalam sehari Rp 500 ribu hingga Rp 1.000. 000 dapat masuk dalam kocek celana. Lain hal dengan polisi muda ini. Untuk mengambil uang tilang saja. Suyono harus mengerutkan dahi.
“Kenapa sih, ketika pengguna jalan bersalah selalu menyisipkan uang kepada polisi. Padahal belum tentu kami mau,” aku pria berumur 30 tahun ini. “Hari ini saya baru saja menghadap atasan untuk berharap dapat pindah tugas di bagian lain, tapi jawabnya justru malah cemooh, ”ucapnya. Menghadapi atasan bukan sekali ini saja.“ Ini sudah ketiga kalinya pak, ”ceritanya kembali.
Ironisnya ketika surat tilang terkumpul, seharusnya Ia diberikan reward sebesar Rp 2500, - hingga Rp 10. 000 (tergantung kendaraannya). “Tapi sudah 7 tahun bekerja, saya tidak pernah mendapatkan, ”ucapnya pilu. Suyono merasa terpukul dengan penderitaannya.
Sebagai ganti upaya sampingan ia sendiri selalu mengeluarkan jurus kemahirannya dengan memudahkan jasa pembuatan surat-surat kendaraaan. Sempat ia mendapatkan hasil uang tilang. Namun apa yang terjadi? Ia dan isteri merasa kebingungan. Lantas Ia lari ke sebuah masjid dan menanyakan kepada seorang ustadz. Tapi apa yang terjadi? Ustadz dengan mudah menjawab bahwa uang tersebut boleh diambil asal yang memberi ikhlas. Bapak 3 orang anak ini semakin bingung. Bagaimana yang memberikan uang tersebut terlihat ikhlas?
Seorang Suyono adalah figur Polisi yang taat pada agama. Anda pastinya akan mengatakan semua polisi tak lebih dari uang dan uang. Tapi polisi bertubuh tegap ini selain disiplin tinggi, ia juga sangat mempertimbangkan mana yang hak dan mana yang bathil. Siapapun tak mengira jika pengabdian pada negara digunakan untuk keluarga. Tapi di balik itu semua, ada keniscayaan dibenaknya. Suyono tak lebih dari korban keburukan citra polisi. Ia tidak hanya di gaji kurang dari 1, 5 juta (bruto) perbulan.
Dalam urusan asuransi kesehatan saja, kata Suyuno yang saat itu bertugas di Jakarta, instituisi pemerintahan/kedinasan (Polri) ternyata tidak memprioritaskan karyawannya. Bahkan rumah dinas yang ditempatinya dihargai Rp 15 juta oleh seniornya. “Jadi setiap anggota yang menempati rumah tersebut jika dijual selalu berlipat-lipat harganya, ”jelasnya. Dan Suyonopun harus berjibaku membayar dengan memotong gaji Rp 500 tiap bulannya.
Kini upaya Suyono terakhir, tetap bersikeras untuk pindah dari jabatan Polantas, pahitnya ia harus keluar dari Polri. Tapi untuk urusan keluar, nyatanya sangat sulit, karena terbentur dengan intervensi para atasan.
Di penghujung cerita ia memberitahu lahan-lahan empuk Polantas untuk mencari nafkah yang tidak halal di Jakarta. “Bapak lihat di sana ada berapa petugas yang mengatur lalu lintas. Padahal di sini bukan lokasi tempat mereka bertugas. “Bagi mereka Ramadhan bulan penuh berkah untuk mencari uang lebaran, ”tandasnya penuh arti. Sambil bersalaman, ia bergegas pergi. “Maaf pak, saya akan bertugas kembali”.
Mudah-mudahan, polisi-polisi lain seperti Pak Suyono ini cukup banyak, sehingga citra polisi yang masih saja terpuruk di mata masyarakat bisa meningkat postif. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini membawa kebaikan bagi mereka. Amien.
Sumber : EraMuslim
Oleh : Abumiftah
30 September 2007
Selasa, 27 Juli 2010
“Pekerjaanku mencintaiku lebih dulu daripada kamu”
“Pekerjaanku mencintaiku lebih dulu daripada kamu”, itulah kata-kata yang terpaksa Eddy ucapkan kepada pacarnya ketika tugas memanggilnya. Briptu Edy adalah seorang anggota Polri yang berdinas di Direktorat Reskrim.
Suatu ketika dia dan pacarnya sedang asyik nonton film di bioskop. Namun, di tengah kegembiraan mereka, hp berbunyi dan mengharuskan Eddy segera ke kantor. Jarang-jarang mereka bisa sempat jalan berdua di tegah kesibukan tugas, kali inipun di harus ditinggal pergi lagi, tentu saja di relung hatinya yang terdalam ada sedikit rasa tidak rela. Pacarnyapun membujuk Eddy agar jangan pergi dulu untuk menyelesaikan film dan mengantarkannya pulang.
Namun, mau bagaimana lagi. Tugas sudah memanggil, apalagi Eddy bertugas di Buser dimana harus selalu berurusan dengan penjahat. Penjahat dalam melakukan aksinya mana ada kata menunggu, menanti Polisi tiba. Kalau bisa mereka setelah melancarkan aksinya segera pergi jauh. Maka Polisi harus berlomba dengan waktu, mengejar tiap kejadian.
Dikala pacarnya membujuk agar menunda pergi, diapun tidak bisa. “Kau harus paham, pacarmu ini adalah seorang Polisi sewaktu-waktu bisa saja dipanggil tugas. Seandainya saja pacarmu ini adalah tukang jahit maka akan selalu duduk di meja dan berada di sisimu”. Akhirnya diapun merelakan kekasihnya pergi melaksanakan tugas dan dia harus pulang dengan ojek. Begitulah keadaannya, menjadi pacar atau istri seorang Polisi harus bisa mengerti keadaan seorang Polisi dan siap di tinggal tugas.
Kamis, 29 April 2010
Nurani Bhayangkara Sejati
Sadarkah aku......
Bahwa aku ada karena amanah rakyat
Sadarkah aku.....
gajiku, seragamku, tunjanganku, peralatanku,
itu semua dari rakyat
Sadarkah aku.....
yang rakyat butuhkan hanyalah perlindungan dan
Pengayoman atas keberadaanku,
bukan kegagahanku semata
Sadarkah aku.....
Bahwa mengemban amanah itu tidaklah mudah.....
harus didasari rasa syukur, ikhlas dan tulus
dan Sadarkah aku diantara perbaikan menuju citra
yang lebih baik dan mulia
"Semoga yang membaca buku ini mendapatkan
hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa"
Pengantar dari buku Nurani Bhayangkara Sejati
Kumpulan Mutiara Hati Insan Bhayangkara
Bahwa aku ada karena amanah rakyat
Sadarkah aku.....
gajiku, seragamku, tunjanganku, peralatanku,
itu semua dari rakyat
Sadarkah aku.....
yang rakyat butuhkan hanyalah perlindungan dan
Pengayoman atas keberadaanku,
bukan kegagahanku semata
Sadarkah aku.....
Bahwa mengemban amanah itu tidaklah mudah.....
harus didasari rasa syukur, ikhlas dan tulus
dan Sadarkah aku diantara perbaikan menuju citra
yang lebih baik dan mulia
"Semoga yang membaca buku ini mendapatkan
hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa"
Pengantar dari buku Nurani Bhayangkara Sejati
Kumpulan Mutiara Hati Insan Bhayangkara
Polisi yang Berhati Nurani
Polisi..... Ya..... Aku seorang Polisi
Sadar aku ada karena masyarakat
Masyarakat membutuhkan pelayananku
Aku memang tak ada arti tanpa mereka
Kucurahkan segenap akal budiku
untuk kebahagiaan masyarakat
kemanan, keselamatan orang lain
adalah hakekat pelayananku
Kemanusiaan adalah ranah tugasku
Kujalani pekerjaanku penuh liku
Suka duka menjadi bagian pengabdianku
Kewenanganku adalah amanah masyarakat
Kupertanggung jawabkan.....
Secara hukum dan moral.....
Kejujuran, kebenaran dan kemanusiaan
dalam pekerjaanku adalah kebanggaanku
dan pekerjaankum kucintai seumur hidupku
Penuh syukur perlahan kulalui dari waktu ke waktu
Citra yang mewujudkan kebaradaanku
Aku tahu banyak kekuranganku
Belum sempurna memang
Tetapi ak selalu berupaya
Drs. Djoko Susilo SH. M.Si
Sadar aku ada karena masyarakat
Masyarakat membutuhkan pelayananku
Aku memang tak ada arti tanpa mereka
Kucurahkan segenap akal budiku
untuk kebahagiaan masyarakat
kemanan, keselamatan orang lain
adalah hakekat pelayananku
Kemanusiaan adalah ranah tugasku
Kujalani pekerjaanku penuh liku
Suka duka menjadi bagian pengabdianku
Kewenanganku adalah amanah masyarakat
Kupertanggung jawabkan.....
Secara hukum dan moral.....
Kejujuran, kebenaran dan kemanusiaan
dalam pekerjaanku adalah kebanggaanku
dan pekerjaankum kucintai seumur hidupku
Penuh syukur perlahan kulalui dari waktu ke waktu
Citra yang mewujudkan kebaradaanku
Aku tahu banyak kekuranganku
Belum sempurna memang
Tetapi ak selalu berupaya
Drs. Djoko Susilo SH. M.Si
Rabu, 31 Maret 2010
Sapu itu bernama Polisi
Sapu berguna untuk menyapu, membersihkan dan membuang kotoran maupun sampah. Segala bekerjaan kotor menggunakan sapu untuk membersihkan. Di lantai, di dinding maupun di langit-langit.
Seandainya sapu tersebut adalah manusia akankah dia menjerit, akankah dia berteriak. Bisa ya, bisa juga tidak kalau dia menyadari bahwa itulah tugas dan tanggung jawabnya. Untungnya sapu bukanlah manusia, jadi sapu tidak bisa berbicara.
Kalo kita renungkan lagi dalam setiap negara ada organisasi yang berperan sebagai sapu di masyarakat. Sapu tersebut lebih dikenal dengan nama Polisi. Polisilah yang bertugas mengurai gelapnya kasus kejahatan. Polisi dituntut mampu menyibak belantara kejahatan di masyarakat.
Polisi merupakan “pekerjaan kasar”, mereka harus banyak berada di lapangan, di rimba belantara dunia hitam. Tidak mengherankan jika ada pendapat yang menjuluki Polisi sebagai penegak hukum jalanan Bitter pakar hukum dari AS menilai pekerjaan Polisi sebagai the dirty job or a tainted occupation (pekerjaan kotor atau jabatan penuh cela).
Inilah Polisi, sapu di masyarakat, melaksanakan pekerjaan kotor untuk ketentraman masyarakat. Namun, meskipun melaksanakan pekerjaan yang mulia, tapi terkadang tidak pernah lepas dari hinaan dan celaan dari masyarakat itu sendiri.
Seandainya sapu tersebut adalah manusia akankah dia menjerit, akankah dia berteriak. Bisa ya, bisa juga tidak kalau dia menyadari bahwa itulah tugas dan tanggung jawabnya. Untungnya sapu bukanlah manusia, jadi sapu tidak bisa berbicara.
Kalo kita renungkan lagi dalam setiap negara ada organisasi yang berperan sebagai sapu di masyarakat. Sapu tersebut lebih dikenal dengan nama Polisi. Polisilah yang bertugas mengurai gelapnya kasus kejahatan. Polisi dituntut mampu menyibak belantara kejahatan di masyarakat.
Polisi merupakan “pekerjaan kasar”, mereka harus banyak berada di lapangan, di rimba belantara dunia hitam. Tidak mengherankan jika ada pendapat yang menjuluki Polisi sebagai penegak hukum jalanan Bitter pakar hukum dari AS menilai pekerjaan Polisi sebagai the dirty job or a tainted occupation (pekerjaan kotor atau jabatan penuh cela).
Inilah Polisi, sapu di masyarakat, melaksanakan pekerjaan kotor untuk ketentraman masyarakat. Namun, meskipun melaksanakan pekerjaan yang mulia, tapi terkadang tidak pernah lepas dari hinaan dan celaan dari masyarakat itu sendiri.
Selasa, 30 Maret 2010
Seram.......!
Kisah yang menyeramkan ini terjadi Kamis malam lalu (malam Jumat), menimpa seorang perwira berpangkat Komisaris besar (Kombes) Polisi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta.
Pada hari itu, Kombes X bekerja lembur menangani kasus Bank Century yang sedang heboh-hebohnya, sehingga terpaksa ia pulang larut sekitar pukul 2 dinihari. Sesampainya ia di depan lift, Kombes X menekan tombol untuk turun. Kemudian, pintu lift terbuka tanpa ada siapa-siapa di dalamnya. Dia masuk dan memencet tombo “G” guna menuju ke lantai dasar atau ground floor. Tetapi entah mengapa, lift yang dia naiki itu tidak turun ke bawah, malah terus saja naik ke atas.
Ketika sampai di tingkat 30, lift berhenti. Pintu lift terbuka. Kemudian masuklah seorang perempuan yang sangat cantik, menawan, menebar senyum manis. Kombes X belum pernah melihat wanita ini sebelumnya meski sudah bertugas di bagian reserse dan criminal hamper tujuh tahun. Perempuan tadi masuk dan berdiri di belakangnya.
Otak reserse sang kombes pun bermain. Dia bertanya-tanya di dalam hati tentang siapa perempuan itu, dan mengapa pula hingga lewat tengah malam belum pulang ke rumah. Ong Julianakah dia yang kini sedang dicari-cari terkait kasus Anggodo? Kombes X lebih memilih diam. Si perempuan pun seperti itu. Tak sedikit pun suara keluar dari bibirnya yang dilapisi lipstik merah menyala.
Dalam suasana hening begitu, tiba-tiba lift meluncur turun dengan kecepatan yang tak biasa. Terus meluncur dari satu tingkat ke satu tingkat berikutnya secara cepat.
Tiba di tingkat 13 lampu lift padam dan lift terhenti. Seketika Kombes X mencium bau teramat busuk. Bulu romanya merinding. Dia pun mulai membaca ayat-ayat suci yang terlintas diingatan sambil memberanikan diri dan perlahan menoleh ke belakang.
Pada saat itu lampu lift tiba-tiba menyala kembali. Perempuan yang berada di belakangnya tertawa, lalu dengan suara nyaris berbisik dia bersuara: ”Maaf ya Mas, saya kentut...”
Majalah Machdum Sakti
Nomor 7 Tahun XII / November 2009
Pada hari itu, Kombes X bekerja lembur menangani kasus Bank Century yang sedang heboh-hebohnya, sehingga terpaksa ia pulang larut sekitar pukul 2 dinihari. Sesampainya ia di depan lift, Kombes X menekan tombol untuk turun. Kemudian, pintu lift terbuka tanpa ada siapa-siapa di dalamnya. Dia masuk dan memencet tombo “G” guna menuju ke lantai dasar atau ground floor. Tetapi entah mengapa, lift yang dia naiki itu tidak turun ke bawah, malah terus saja naik ke atas.
Ketika sampai di tingkat 30, lift berhenti. Pintu lift terbuka. Kemudian masuklah seorang perempuan yang sangat cantik, menawan, menebar senyum manis. Kombes X belum pernah melihat wanita ini sebelumnya meski sudah bertugas di bagian reserse dan criminal hamper tujuh tahun. Perempuan tadi masuk dan berdiri di belakangnya.
Otak reserse sang kombes pun bermain. Dia bertanya-tanya di dalam hati tentang siapa perempuan itu, dan mengapa pula hingga lewat tengah malam belum pulang ke rumah. Ong Julianakah dia yang kini sedang dicari-cari terkait kasus Anggodo? Kombes X lebih memilih diam. Si perempuan pun seperti itu. Tak sedikit pun suara keluar dari bibirnya yang dilapisi lipstik merah menyala.
Dalam suasana hening begitu, tiba-tiba lift meluncur turun dengan kecepatan yang tak biasa. Terus meluncur dari satu tingkat ke satu tingkat berikutnya secara cepat.
Tiba di tingkat 13 lampu lift padam dan lift terhenti. Seketika Kombes X mencium bau teramat busuk. Bulu romanya merinding. Dia pun mulai membaca ayat-ayat suci yang terlintas diingatan sambil memberanikan diri dan perlahan menoleh ke belakang.
Pada saat itu lampu lift tiba-tiba menyala kembali. Perempuan yang berada di belakangnya tertawa, lalu dengan suara nyaris berbisik dia bersuara: ”Maaf ya Mas, saya kentut...”
Majalah Machdum Sakti
Nomor 7 Tahun XII / November 2009
Langganan:
Postingan (Atom)