Senin, 30 Mei 2011

Ngebut di Jalan


Seorang petugas Polisi di kota kecil menghentikan seorang pengendara sepeda motor yang kedapatan ngebut di jalan utama kota. “Tapi Pak,” Kata pria pengendara motor itu,”saya bisa menjelaskan alasannya.”

”jangan banyak omong,” bentak Polisi itu, ”Saya akan menahan kamu sampai Kepala Polisi datang.”

Tapi, Pak, anda harus dengar saya dulu, Saya......”

”Sudah kubilang jangan banyak omong! Kamu akan segera saya masukkan ke dalam tahanan!”

Beberapa jam kemudian, Polisi itu menengok kembali tahanan tersebut dan berkata,”Kamu sangat beruntung, karena hari ini Kepala Polisi sedang menghadiri pernikahan putrinya. Hatinya pasti senang saat dia kembali ke sini nanti.”

”Jangan harap,” jawab pria tersebut dari dalam tahanan.”Saya adalah pengantin prianya.”


SUMBER :
http://www.malau.net

Senyum Sejati Anggota Polri


Semua orang merindukan suasana sejuk dan menggembirakan. Kalau demikian, maka semua orang senang akan senyum, karena senyum ini menjembatani suasana sejuk yang menggembirakan. Bukan hanya menggembirakan, tetapi senyum simpatik mengundang rezeki dan jodoh lo....

Seorang pengusaha yang baik tidak akan memasang pegawai yang mahal senyum untuk menjaga toko, karena senyum adalah bagian mutlak dari pelayanan untuk menggaet pelanggan. Jika anda kesulitan mencari jodoh, maka jadikanlah senyum penghias. Orang yang kaku dan kurang cantik/ganteng murah akan senyum, maka akan terlihat supel, manis dan menarik. Memang pengaruh senyum luar biasa, sebab tidak jarang orang jatuh cinta lewat telepon atau dibalik dinding yang kokoh, karena mendengar suara ceria yang didukung senyum.

Menjadi anggota Polri bukan sembarang orang, mereka adalah hasil seleksi yang ketat termasuk postur dan penampilannya. Coba bayangkan, apabila postur dan penampilan seorang Polisi ditambah dengan senyum pasti akan terlihat semakin menarik. Tentunya bukan dengan sembarang senyum tapi senyum sejati, yaitu senyum yang memikat karena lahir dari lubuk hati yang ikhlas demi melindungi, mengayomi dan melayani masyarakatnya sehingga terasa hangat dan membawa suasana yang menggembirakan.

Polri dalam mengemban tugasnya tidak diharapkan lagi bersikap seperti Polisi jaman dulu, karena zaman itu sudah lewat. Dibutuhkan penampilan Polisi modern yang menjunjung tinggi HAM, bersikap dan berperilaku yang terlebih dahulu taat kepada aturan sehingga sikap dan perbuatannya menjadi sumber ketauladanan. Bersikap dan berperilaku simpatik yang pada gilirannya nanti Polisi akan tumbuh dan berkembang sebagai kebanggaan dan kecintaan masyarakat. Bravo Polri.

OLEH :
Brigjen Pol. Drs. M. Arief Wangsa
Kepala Dinas Psikologi Polri, Mabes Polri – Jakarta, Maret 1995
Dalam Buku :
Polisi, Cara bergaul Menarik Simpatik

Senin, 28 Maret 2011

Pesanku


Ketika nuansa senja mulai temaram
Ditandai dengan terbenamnya mentari di sela-sela bebukitan
Kembali bumi Bhayangkara menguakkan peristiwa bersejarah
Perjalanan pengabdian Polri Wisuda Purna Wira Pati Bhayangkara

Para generasiku.......
Kami para pendahulumu yang telah sekian lama mengabdikan diri
Jiwa dan raga untuk Ibu Pertiwi
Telah sampai diakhir masa pengabdian
Dengan dilambari semangat juang Bhayangkara Sejati
Yang selalu membara di hati kami
Aku serahkan obor dan perisai ini kepadamu
Lambang kelegawaanku mewariskan nilai-nilai pengabdian
Dan kejuangan Polri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat

Bersatulah engkau generasiku !!!!!!!!!
Tiada waktu lagi untuk saling menyalahkan
Bina dan pupuklah persatuan
Diantara engkau generasi penerusku
Tingkatkan terus kemampuanmu
Demi tegak berkibarnya bendera Tri Brata
Di lala dan nusantara ini

Kurindukan Dharma Bhaktimu ........
Dan pegang teguh wanti – wantiku
Kau datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani, dan
Dikerentaan usia senjaku, masih saja terbetik di sanubari yang paling dalam
bahwa purna bhaktiku bukanlah akhir dari pengabdianku !!!!!!!!

Kami para pendahulumu dengan setia mengiringi perjalanan
Pengabdianmu
Selamat bertugas putra-putriku......
Selamat berjuang generasiku.......
Demi kejayaan Bangsa dan Negara Ini


SUMBER :
Buletin SDM POLRI in action
Edisi Perdana April 2010

Senin, 21 Februari 2011

Masuk Polisi Pake D.U.I.T


Ada yang tanya pada saya, “Masuk Polisi pakai duit ya??”.
Sambil menghela nafas, rasanya miris sekali mendengar pertanyaan seperti itu. Nampaknya sudah mengakar dalam masyarakat bahwa untuk menjadi seorang Polisi harus mengeluarkan/menyogok sejumlah uang. Padahal sudah seringkali disosialisasikan bahwa pendaftaran Polisi GRATIS. Akhirnya, saya jawab saja pertanyaan di atas sambil tertawa dan bernada humor,”Iya masuk Polisi pakai DUIT, alias :
D = Doa,
U = Usaha,
I = Ikhtiar,
T = Tawakal.”

Suasana yang mulanya serius akhirnya mencair berganti dengan tawa dan canda. Setelah bembicaan agak renyah, baru saya sampaikan bahwa masuk Polisi itu GRATIS gak pake bayar.

Kalau ada Polisi yang mengaku bahwa dia masuk Polisi sehabis membayar sekian puluh juta, wah… itu termasuk Polisi yang habis kena tipu, padahal sebenarnya dia lulus murni.

Kenapa saya bilang begitu, nah….. begini ceritanya.
Anggap saya sebagai, “Makelar Calon Polisi” (contoh aja ye, bukan sungguhan). Saat penerimaan anggota Polisi, saya menawarkan kepada calon-calon Polisi yang masih lugu-lugu bahwa saya bisa menguruskan supaya lulus menjadi Polisi dengan membayar sejumlah uang misalnya Rp 30.000.000,-.

Setelah menebarkan janji manis, saya berhasil menjerat 10 calon korban & berhasil panen uang sebesar Rp 300.000.000,-. Nah… setelah seleksi penerimaan dimulai sebenarnya saya tidak menguruskan sama sekali, cukup duduk-duduk & santai-santai sambil kipas-kipas dengan duit. Biarin aja calon tersebut berjuang mengikuti seleksi sendiri & percaya aku yang sedang nguruskan dari dalam (padahal enggak… ^_^).

Pengumuman hasil seleksi penerimaan Polisi dikeluarkan.
Dari 10 calon korbanku, 3 lulus & 7 tidak lulus. Uang calon korbanku yang tidak lulus kukembalikan, alasan tidak lulus karena masih kurang ini itu atau kesehatan ada yang kurang dan lain sebagainya sehingga dia tidak nuntut secara pidana. Uang korbanku yang lulus kutilap, lumayan…. 3 orang berarti Rp 90.000.000,- (Padahal sebenarnya mereka lulus murni). Kukasih selamat kepada orang tua & anak tersebut, mereka malah nyembah-nyembah & terima kasih bagai aku malaikan keberuntungan mereka (padahal baru aja kutipu hehe…).

Akhir kisah, jangan percaya apabila ada yang mengaku bisa meluluskan menjadi Polisi. Cukup dengan D.U.I.T (Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakal) kepada Allah SWT maka bila Allah SWT menghendaki maka dia akan menjadi Polisi, tentunya dengan D.U.I.T yang positif. Dan bagi Polisi yang terlanjur membayar untuk masuk Polisi, sadarilah bahwa anda sebenarnya lulus secara murni karena skill, kemampuan & kompetensi saudara berdasarkan hasil seleksi penerimaan Kepolisian yang ketat, selanjutnya jalankanlah tugas anda dengan sepenuh hati dan profesional. Bravo Polri.

By Ahmad Ridha

Jumat, 28 Januari 2011

Tugas Pertama Sebagai Polisi


Seorang calon polisi sedang menjalankan tugas pertamanya dalam mobil polisi dengan seniornya yang sudah berpengalaman.

Sebuah panggilan meminta mereka untuk membubarkan beberapa orang yang mondar-mandir di jalan. Polisi itu segera menuju ke jalan yang dimaksud.

Di sebuah sudut jalan terlihat sebuah kerumunan kecil. Calon polisi itu membuka jendelanya dan berkata, “Ayo bubar, bubar.”

Beberapa orang memandang saja, tetapi tak seorang pun bergerak, lalu ia berteriak lagi dengan suara yang lebih keras dan digalak-galakkan, “Ayo cepat bubar… sekarang!!!!”

Karena merasa terancam, kumpulan orang itu mulai bubar, sambil melihatnya dan bertanya-tanya dalam hati.

Bangga dengan tindakannya, polisi muda itu menoleh pada seniornya dan berkata, “Bagaimana bang aksiku tadi?”

“Hebat!!!” kata seniornya, “Baru pertama kali ini aku melihat seorang Polisi membubarkan orang-orang yang sedang menunggu bis di halte!”


SUMBER :
http://www.malau.net/

Selasa, 25 Januari 2011

Ketika Kita Harus Menghargai Polisi

“Saya tidak punya saudara Polisi, bukan pula anak Polisi apalagi seorang Polisi.. Saya hanya ingin melihat sisi lain dari Polisi..”

Beberapa hari yang lalu saya berencana men
gadakan buka puasa bareng dengan teman-teman yang sudah cukup lama tidak ketemu. Meskipun saya “tidak berpuasa”, tetapi tentu tidak ada salahnya ikut dalam acara tersebut.

Berangkat dari kantor menuju lokasi bukber (buka bersama red.) yang berlokasi di Jl. Thamrin tentu harus dilakukan dengan bergegas, karena seperti biasa, Jakarta pasti dihinggapi kemacetan yang luar biasa. Apalagi di bulan Ramadhan, tentu semua orang ingin pulang cepat, semua orang ingin berbuka puasa dirumah.

Hari itu Jakarta dilanda hujan yang lumayan deras, dan hal ini tentu saja membuat Jakarta semakin macet. Dimana-mana terjadi stagnasi kendaraan. Tentu bagi orang yang berpuasa ini merupakan tantangan berat. Disamping lapar dan haus, kemacetan yang luar biasa membuat pikiran sumpek ditambah kekhawatiran (kepasrahan lebih tepatnya) tidak bisa berbuka bersama keluarga yang disayangi.

Integritas seorang Polisi

Memandang dari kaca jendela bus kota, saya melihat sesosok manusia yang dari uniformnya sudah sangat dikenal di negara ini sedang sibuk dan tidak kenal lelah tetap meniup peluitnya untuk mengatur kendaraan yang sudah tidak terkendali. Ya benar, manusia itu adalah seorang Polisi Lalu Lintas.

Hati saya langsung terenyuh melihat kegigihan beliau untuk tetap stay dibawah hujan yang sudah mulai reda demi lancarnya perjalanan orang-orang yang ingin melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing. Entah kenapa saya meyakini bahwa beliau juga seorang muslim, yang kemungkinan besar juga sedang berpuasa. Ketika orang duduk enak didalam mobil yang ber-AC ditemani dengan ta’jil yang banyak, Pak Polisi tersebut tetap sabar mengatur lalu lintas yang terlanjur macet. Jika beliau sedang berpuasa, saya yakin beliau juga merasakan lapar dan haus seperti orang berpuasa lainnya. Saya juga meyakini, Pak Polisi itu juga tentu ingin berbuka puasa dirumah bersama isteri dan anak yang disayangi.

Segala asap yang sudah bercampur baur rela untuk dihirup karena tidak memungkinkan memakai masker sembari meniup peluit/semprit. Celana yang sudah agak basah tentu saja bisa membuat masuk angin apalagi disebabkan oleh perut kosong karena puasa. Di sisi lain, Asuransi kesehatan yang diberikan negara tentu sangat tidak cukup untuk mengcover apabila beliau sakit. Apalagi mengurus asuransi untuk pegawai yang berbelit-belit di Rumah Sakit dan kompensasi yang tidak maksimal (karena pemegang Askes seringkali dianggap sebagai “pasien anak tiri”) tentu tidak sebanding dengan pengorbanan yang diberikan oleh beliau.

Objektivitas

Melihat semua itu saya berfikir, bahwa ada Polisi-Polisi lain yang rela tidak berlebaran demi mengatur lancarnya arus mudik. Ada Polisi-Polisi lain yang melihat orang lain berlebaran, sementara dirinya masih di jalan dan meninggalkan anak isteri yang berlebaran tanpa kehadiran mereka.

Saya memang termasuk orang yang ikut melakukan kritik keras terhadap Polisi. Apalagi melihat berita-berita yang ditayangkan di berbagai media. Tetapi saya juga harus menjaga objektivitas saya dengan mengatakan salut kepada Polisi-Polisi yang masih memiliki integritas dan loyalitas tidak saja kepada institusi dan negara, tetapi juga kepada Tuhan.

Terlepas dari kejadian-kejadian yang tidak enak yang mungkin dialami oleh saya dan teman-teman dengan Polisi Lalu Lintas, saya mengapresiasi loyalitas Pak Polisi itu. Dan ketika menyadari ini semua, saya meyakini bahwa “Harapan untuk menjadikan Polisi sebagai institusi yang berwibawa itu masih ada.” Saya yakin bahwa Kepolisian mampu untuk berwibawa karena bersih, berwibawa karena Jujur dan berwibawa karena Tegas!!

Ketika saya berhasil melewati kemacetan lalu lintas, dan bertemu dengan teman-teman sambil berbuka puasa menikmati hidangan yang menggugah selera, dari kaca gedung yang tinggi itu, saya melihat kebawah dimana ada Pak Polisi yang lain masih sibuk mengatur lalu lintas.
Berbuka duluan ya Pak… (padahal ga puasa..)

Salam hangat buat Pak Polisi di perempatan Palmerah dan Sarinah yang saya lihat pada 24 Agustus 2010 antara jam 16.00 - 18.30 WIB.

Regards

-Ricky Saragih-


SUMBER :

http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/26/ketika-kita-harus-menghargai-polisi/


Rabu, 08 Desember 2010

Surat Kelakuan Baik


Denny ditangkap Polisi karena mencuri tape mobil. Inilah dialog ketika ia diperiksa di kantor Polisi.

“Den, kenapa kamu mencuri?” Tanya petugas.

”Habis, saya terpaksa Pak,” jawab Denny tanpa perasaan bersalah.

”Jawaban klasik!” hardik Polisi, ”terpaksa bagaimana?”

”Iya, Pak. Berani disambar gledek kalau saya bohong Pak. Begini ceritanya. Sya tuh sebenarnya mau cari kantor Polisi, tapi nggak ketemu-ketemu. Tanya ke orang-orang, juga nggak ada yang tahu. Tapi saya nggak kehilangan akal, Pak. Saya malingin aja tape mobil, dan... akhirnya saya sampai juga kan di kantor Polisi.

Antara percaya dan tidak, si petugas pun lalu bertanya,”Memangnya kamu mau apa cari-cari kantor Polisi?”.

“Mau buat Surat Kelakuan Baik untuk tes Polisi, Pak.”