Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2015

Briptu Victor Penjaga Merah Putih di Perbatasan Papua

 Menjaga kedaulatan negara di perbatasan, tak cuma dilakukan TNI. Banyak kisah menarik yang juga dialami para anggota kepolisian. Seperti yang dilakukan Kepala Kepolisian Sub Sektor (Kapolsubsektor) Oksamol Briptu Victor Merani.

Beberapa waktu lalu, pengibaran bendera Papua Nugini di Kampung Tomka dan Kampung Autpahik mengejutkan Briptu Victor. Sebabnya, bendera itu berkibar masih di dalam wilayah Indonesia dekat perbatasan Papua Nugini.


Setelah mendengar itu, Victor langsung berkoordinasi dengan pemda dan pemimpin adat setempat. Diputuskan untuk berangkat ke lokasi bersama kepala distrik, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh perempuan untuk melihat secara langsung Kampung Tomka dan Kampung Autpahik.

Perjalanan ini memakan waktu selama empat jam. Viktor dan rombongan harus melalui medan pegunungan, sungai yang tertutup salju serta hutan rimba. Fasilitas dan peralatan yang dibawa pun sangat terbatas.

Namun, jauhnya perjalanan ini tak membuat Viktor dan rombongannya menyerah begitu saja. Semangatnya untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia terus membara.

Setelah empat jam, Viktor dan rombongan tiba di puncak Gunung Taehikin, Setelah mengibarkan merah putih, mereka langsung bergerak di Kampung Tomka dan Kampung Autpahik.



Di kampung itu, Viktor mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari warga kedua kampung tersebut. Mereka mengancam dan mengajak perang. Namun, ancaman itu tak digubris, Viktor tetap menghadapi kemarahan warga dengan tenang.

Dalam pertemuannya dengan warga setempat, Viktor menjelaskan batas-batas wilayah RI dan menyatakan kampung mereka masuk ke dalam NKRI. Pendekatan dan penjelasan ini ternyata mampu meredam emosi warga PNG yang tinggal di perbatasan Indonesia. Dengan sukarela, mereka menurunkan bendera tersebut dan merah putih kembali berkibar.

Tindakan yang dilakukan Viktor ini mendapatkan apresiasi dari Kapolres Pegunungan Bintang. Meski bertugas di daerah terpencil dan seorang diri, Viktor tak pernah mengeluh dan tetap menjalankan tugasnya menjaga kedaulatan NKRI.

Selasa, 01 September 2015

Polisi yang Mampu Lacak Identitas Mayat Berkat Alquran


Ilmu forensik adalah ilmu yang berkutat pada visum dan autopsi mayat. Namun seorang perwira polisi mampu mensinergikan ilmu forensik dengan sejumlah ayat yang ada dalam kitab suci Alquran. Seperti apa?


Ya, dia adalah Aiptu Wazir Arwani Malik, seorang Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Tengah. Perwira yang kesehariannya berkutat di dunia forensik ini mampu mengaplikasikan ayat Alquran saat melakukan olah TKP terhadap mayat.

Pria yang lahir dan dibesarkan oleh keluarga santri di Ponpes Girikusuma, Mranggen Demak, Jawa Tengah itu, kerap mengaplikasikan Surat Yasin ayat 12 dalam tugas forensiknya. Menurutnya pendekatan teologis dalam hal autopsi sangat membantunya dalam memecahkan persoalan forensik yang kerap menjadi tanda tanya.

Apalagi, saat ia harus memecahkan suatu kasus, seperti mayat yang tidak diketahui identitasnya.

"Ilmu forensik itu sudah dibahas dalam Alquran sejak 1.400 tahun lalu. Dalam surat Yasin termaktub, apa yang pernah menjadi perbuatan manusia pasti meninggalkan jejak. Itu yang jadi pedoman saya," terang Aiptu Wazir kepada VIVA co.id di Semarang, Rabu, 6 Mei 2015.

Dalam keyakinannya, tidak ada perbuatan manusia yang tidak meninggalkan jejak. Bahkan suatu benda yang mati bisa berbicara, seperti darah, potongan tubuh, DNA, rambut, pisau bahkan HP.

"Melalui sistem labfor, polisi bisa menggali dalam pengungkapan perkara," papar pimpinan Ponpes Al-Hadi Mranggen Demak itu.

Aspek teologi melalui penafsiran Alquran ini, kata dia, sudah tertulis pasti sejak manusia lahir sampai mati. "Jadi barang bukti itu titik sentral, akan berguna bagi hakim di pengadilan, penyidik, pelaku dan lain-lain, " ujar bapak tiga anak itu.

Dasar itulah yang membuat Wazir selalu tekun dan penuh kesabaran saat bertugas. Karena menurutnya, Alquran bukan sebagai alat ritual saja, melainkan pedoman seluruh aspek kehidupan.

Tak jarang, dalam setiap aktivitas forensik yang sulit, Wazir selalu mendoakan jasad korban, meski masih berupa tulang rambut bahkan organ lain.

"Alquran itu bukan untuk diritualkan, tapi untuk petunjuk, di antaranya pengungkapan perkara seperti tugas seorang polisi. Orang yang saya autopsi saya doakan. Doa itu etika, agar nanti Tuhan beri petunjuk, " beber pria kelahiran Demak, 28 Februari 1968 silam itu.

Bentuk petunjuk dan kemudahan itu bervariatif. Sumber informasi awal bisa diperoleh dari tempat kejadian perkara, misalnya barang yang tertinggal, dari peluru atau lainnya.

Saat berdoa, jelas Wazir, bukan mengirimkan permintaan, namun menyampaikan supaya orang yang belum diketahui identitasnya itu diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan di tempat yang layak.


"Kalau jenazah tanpa identitas, jumlahnya sekira belasan," tambahnya.

Di dalam keluarga, Wazir mengungkapkan, bahwa putra putrinya sudah terbiasa dengan tugasnya sebagai polisi. Bahkan, ketiga anaknya sering melihat foto-foto saat autopsi.

"Anak-anak sering buka laptop saya. Mereka tahu dan itu menjadi proses pembelajaran untuk mengetahui tentang anatomi manusia. Dengan harapan mereka bisa mengenal diri, kemudian Tuhannya," beber dia.

SUMBER :

http://m.news.viva.co.id/news/read/622811-polisi-ini-mampu-lacak-identitas-mayat-berkat-alquran

Rabu, 21 Januari 2015

Kisah Nyata Polisi Menilang Istrinya



Dalam video yang diunggah di YouTube tanggal 17 Mei 2014 mengisahkan tentang seorang Polisi yang menilang seorang wanita pengendara sepeda motor matic yang ternyata adalah istrinya sendiri. Berikut Videonya :



Dalam video tersebut, seorang wanita menerobos lampu merah dan hampir tertabrak oleh pengendara dari arah berlawanan, wanita itu nekat menerobos lampu merah karena sepeda motor yang ada di depannya mengepulkan asap pekat. 

Seorang petugas Polantas yang melihat aksi ini kemudian berlari mengejar wanita tersebut. Dengan sigap, ia berhasil menghentikan dan memberikan surat tilang. Meski sang wanita terlihat marah saat dirinya diberi surat tilang, sang Polantas tetap menilangnya. 

Yang menarik, wanita yang ditilang tersebut ternyata adalah istrinya sendiri. Tampak sang Polisi merasa bersalah terhadap istrinya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Sang Polisi mampir di sebuah toko bunga dan membeli bunga mawar.

Sesampai di rumah, ia mendapati sang istri telah tertidur lelap. Sang Polisi yang tidak ingin mengganggu sang istri yang telah terlelap kemudian meletakkan bunga mawar di samping sang istri. Di tangkai bunga diselipkan sebuah kartu bertuliskan, "MA, MAAF TADI PAPA TILANG, PAPA HARAP MAMA MENGERTI, PAPA CINTA MAMA".


Adegan tersebut merupakan video dari kejadian nyata yang dialami Aiptu Jailani, yang berdinas di Polantas Gresik, Jawa Timur. Kejadian ini direka ulang dalam video berdurasi 4 menit 40 detik video yang dibuat oleh Forum Film Jambi. Dalam video berjudul 'Kisah Nyata Polisi Menilang Istrinya' yang diunggah ke YouTube.


Video yang diunggah 17 Mei 2014 tersebut, telah disaksikan 810.523 kali (22/01/2015) dan mendapat komentar beragam dari pengguna YouTube. Sebagian besar mengapresiasi tindakan Aiptu jailani.

Beberapa komentar tersebut  diantaranya seperti yang ditulis oleh Aris Prayogo, "Jujur ane benci polisi. Tapi kalau ada polisi macam gini, ane salutt banget. Dan semoga semua polisi akan seperti ini. Anti suap, tidak pandang mulu, ramah di depan orang lemah, garang menantang lawan. Bukan sebaliknya, arogan kepada masyarakat awam... tapi takut dengan preman kuat atau gank besar..." 

"Berlinang air mataku lihat video ini.. Bginilah contoh suami istri yg baik.sling memaafkan itu nytany d masakin .demi tugas kerja. Istripun tk d bedakan sdngkn klo di rumah jdi suami yg sangat sayang sma istri...so sweat," tulis Ika Hafis.

Selasa, 15 Oktober 2013

Penjaga Toko Buku Dan Intel Polisi

Ada cerita menarik yang ditulis oleh seorang penjaga toko buku di blognya http://zenrustam.blogspot.com. Dia menulis bahwa bahkan sebagai seorang Polisi tidak menjadi halangan dalam mempelajari agama Islam. Inilah cerita faktual dari Al Akh Gugus Gustian :

"Ana izin bercerita sedikit, waktu itu malam hari, ana lupa tepatnya kapan, seperti hari biasa, ana menjaga toko buku dan herbal yg bertempat di jantung ibukota…



Semakin malam, pembeli semakin sepi, lantas datang seorang bapak berpakaian rapih, beliau menanyakan kepada kami (penjaga toko) mengenai kitab Syarah Riyadhus Sholihin yg di bahas di Rod...ja oleh Ust Badrusalam, ana kasih pilihan, beliau mau yg di syarah oleh Syaikh Salim bin Ied Al Hilaly atau yg di syarah oleh Syaikh Utsaimin -rahimahullah-

Dia lupa, seketika itu juga dia mengambil HP-nya, dan berkata “Sebentar ana telpon Ust. Badru dulu (kurang lebihnya seperti ini perkataan dia, ana lupa tepatnya)”, langsung dia telpon dan terhubung dan berbicara ke Ust. Badru, singkatnya Ust. Badru memberi pernyataan kalau yg ia bahas itu ialah yg di syarah oleh Syaikh Aalim bin Ied Al Hilaly.

Ya sudah, ana ambilkan kitab tersebut yg ia pesan, ana penasaran, bagaimana ia bisa memiliki nomer telpon Ust. Badru, dan punya akses ke beliau langsung

Setelah ana tanyakan siapa bapak tersebut dan apa pekerjaannya, bagaimana bisa dia seperti itu, dia menjawab dan sambil bercerita..

“Saya anggota kepolisian di bidang reserse dan intelejen, waktu Syaikh Abdurrazaq datang ke Indonesia yg dulu, saya yg mengawal langung beliau –hafidzahullah-, saya bertanya ke pada Syaikh (dan ada bersama saya ust. Badrusalam sebagai penerjemah): "Syaikh apakah boleh jika pemerintah membuat hukum yg tidak ada di dalam al Qur’an dan Sunnah?, seperti lampu merah, menggunakan helm dan lain-lain?"

lalu Syaikh menjawab:
“Boleh jika pemerintah tidak menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah, seperti jika pemerintah memerintahkan untuk berhenti saat lampu merah, maka hal itu bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat, karena jika tidak ada, maka akan bisa menyebaban kecelakaan, dan seperti halnya helm, jika pemerintah tidak memerintahkan untuk tidak memakai helm, maka ini pun akan memudharatkan masyarakatnya, namun ketika pemertintah memberi peraturan yg dapat menggadaikan aqidah kita, seperti mewajibkan merayakan hari raya selain umat islam, maka tidak boleh di ikuti dan jangan dituruti”,

(bapak polisi tadi juga bercerita) :
"Saat saya mau salaman lantas mencium tangan Syaikh, Syaikh dengan cepat menarik tangannya agar tidak dicium oleh saya, saya bertanya ke ust. Badru, mengapa ko syeikh seperti itu, ust. Badru berkata, Syaikh ingin dihormati seperti manusia lainnya, tidak berlebihan, karena Nabi saja tidak ingin dihormati secara berlebihan oleh para sahabatnya".

Pak polisi tadi bilang, beda sama ulama atau kiai di Indonesia, mereka malah menyodorkan tangan ke jama’ahnya untuk menyiumnya.. (ana dan dia juga lainnya sambil tertawa kecil saat pak polisi itu bercerita hal tersebut)

subhanallah!! Wal hamdulillah… begitu arif dan bijaksananya dakwah yg haq ini, ana sampai kaget, karena dia adalah anggota reserse dan intelejen, subhanallah… ini menjadi pukulan keras bagi mereka yg mengganggap dakwah ini adalah WAHABI dan menganggap dakwah ini dengan sebutan TERORRIS,

Pak polisi tadi juga ternyata punya nomer telpon ust. Firanda dan ust. Zainal, dan mungkin punya akses langsung juga ke mereka, subhanallah…

Semoga Allah memudahkan dakwah ini masuk keseluruh pelosok di negeri yg kita cintai ini..

Sekian, pengalaman yg ana ingat, ana memohon ampun kepada Allah bila apa yg ana tuliskan ini memiliki kesalahan, karena mengingat hafalan ana yg kurang baik, ana pun lupa nama bapak polisi tadi, namun ia sempat memberi kartu nama, yg ia berikan ke bos kami, dan ia berkata, "kalau bapak (bos kami) memiliki kesulitan dalam hukum Negara, bapak bisa telpon ke saya.."


SUMBER :
http://zenrustam.blogspot.com/2012/02/cerita-unik-pengalaman-seorang-penjaga.html 
Diposkan oleh Jay pada Hari Rabu tanggal 12 Februari 2012 

Jumat, 01 Maret 2013

Pengalaman Dengan Polisi Solo

Ada seorang kaskuser dengan ID nganjux tertanggal 23-04-2011 pkl:00:24 yang menulis pengalamannya dengan Polisi Solo. Tulisannya menarik apalagi berdasarkan pengalaman pribadi semoga bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi rekan-rekan bhayangkara lainnya dalam melayani, melindungi & mengayomi dengan sepenuh hati. Begini tulisannya :

Mau share pengalaman nih gan, barusan tadi sore kejadiannya, sekitar jam 5.30 PM, di Solo…
ane tadi dari Wonogiri, bermaksud pulang ke Jogja lewat solo. nah sampe di solo, ane ngikutin plang arah klaten, tapi semakin ane ikutin jalannya semakin sempit & makin rusak jalannya, waduh, kayaknya salah jalan ni (kalopun bener pasti jalan alternatif yg nggak enak dilewatin). ane tanya ke tukang bensin eceran (sekalian beli), tapi malah ditunjukin jalan yg semakin aneh, dan akhirnya ane bener2 tersesat (ane bener2 nggak tau solo gan )
akhirnya ane tanya ke polisi yg lagi jaga di pinggir jalan, terus ane tanya :
ane : Maaf permisi pak, mau tanya, jalan arah ke jogja ke mana ya pak?
polisi : blablablabla (lupa penjelasan awalnya hehe), ntar mentok ada pertigaan jalan besar, belok kiri, terus luruuuus & ikutin plang ke jogja…
ane : o ya terima kasih pak…

terus ane ngikutin jalan penjelasan polisi tadi. singkat cerita, ane sampe ke pertigaan jalan besar yg dimaksud polisi tadi, ane ambil jalur paling kiri & pasang lampu sign ke kiri. baru mau belok ke kiri, tiba2 ane liat rambu dilarang belok kiri, ternyata jalan tadi satu arah ke kanan gan, ane langsung berenti & matiin lampu sign, & ane mau belok kanan (krn cuman boleh kekanan).
pas ane mau belok kanan, ada polisi lagi jaga di depan posnya & nunjuk motor ane terus nyamperin. (dalam hati ane, waduh, di tilang deh), terus terjadilah percakapan ane sama polisi tadi :
Polisi : Selamat sore, mau kemana mas?
ane : saya mau ke Jogja pak…
Polisi : bisa liat surat suratnya (tanda tanda mau ditilang, ane pasrah)
ane : ini pak (sambil ngasih SIM & STNK)
polisi : (liat2 surat ane), hmm…, maaf mas, ini jalan satu arah ke kanan & dilarang belok kiri…
ane : maaf pak, tapi saya bener2 nggak tau solo pak, saya tadi tanya jalan arah ke jogja sama pak polisi disana & katanya disini disuruh belok kiri, makanya saya siap2 belok, tapi pas liat tanda dilarang belok, saya kaget, makanya saya langsung berenti…
polisi : ooooo, sebenernya emang jalan ini jalan dari jogja, tapi kalo menuju jogja lewatnya jalan lain mas, motong lewat (pak polisi nyebut nama daerah, ane lupa), terus nembusnya nanti ke sana (nunjuk ke arah kiri) tetep di jalan ini, tapi jalurnya 2 arah…
ane : maaf pak, tapi saya nggak tau jalannya, kalo dari sini, lewatnya mana tu pak…?
Polisi : (mikir….), waduh, motongnya agak susah mas jalannya, gimana kalo saya antar…?
ane : Wah!?!?, (bingung sekaligus agak tenang, baru sekali ane ketemu polisi mau nganter), beneran pak?
Polisi : Ya beneran!!, ayo ikut saya dulu (masuk ke dalem pos)
di dalem pos, Pak polisi tadi balikin SIM & STNK ane
Polisi : yaudah, lain kali ati2 ya, tadi inisiatif kamu dah bagus, liat tanda dilarang belok kiri, langsung siap2 mau ke kanan & nggak mendadak
ane : haaa? (bengong, kok malah muji ane ya????)
Polisi : yaudah kamu ikutin saya dari belakang (sambil nyetater motor)
ane : oke pak, makasih banyak (ane langsung tenang)

ane ngikutin si bapak naik motor, gaya tu pak polisi bawa motornya agak cepet, tapi masih enak untuk diikutin. ane ngikutin tu pak polisi masuk2 jalan yg ribet, terus tau2 nembus ke jalan gede, ada pusat perbelanjaannya (Hyperm*rt kalo gak salah), terus tu Pak polisi minggir, ane berenti di sebelahnya.
Polisi : ini masnya tinggal ngikutin jalan, ntar ada bunderan kecil yg ada tugunya, belok kiri, itu dah arah Klaten Jogja. udah tau to sampe sini..?
ane : udah udah Pak, makasih banyak ya
Polisi : jangan lurus, kalo lurus ntar masnya malah sampe salatiga.
ane : oiya pak, terima kasih banyak ya pak, maaf tadi saya nggak tau kalo itu satu arah (ane sambil salam tempel ngasih duit 20000 gan sebagai tanda terima kasih)
Polisi : wah, nggak usah mas (sambil senyum & balikin duit ane), Jogja masih jauh lho mas, ini buat masnya beli bensin aja.
ane : wah , terima kasih banyak ya pak
Polisi : bawa motornya yang ati2 mas
ane : oke pak…

ane bener2 bingung campur terharu, sumpah, baik banget ni polisi, akhirnya ane lanjut perjalanan ke Jogja & Alhamdulillah sampe di rumah dengan selamat, istirahat, makan, terus bikin trit ini…
ane nggak minta cendol/bata, cuman sekedar share, semoga bisa jadi contoh buat Pak Polisi di daerah lain, ini baru namanya Polisi sejati, bener2 melindungi & mengayomi masyarakat
thanks

sumber : 
http://livebeta.kaskus.co.id/thread/000000000000000008111353/perilaku-pak-polisi-solo-yang-patut-dijadikan-contoh/

Minggu, 17 Februari 2013

Truck Brimob di Tengah Tsunami

Gempa bumi disertai gelombang pasang (Tsunami) yang terjadi di penghujung tahun 2004 silam telah menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri langka, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand. Korban paling banyak tentunya diderita oleh Indonesia

Di tengah terjangan tsunami tersebut ada kisah heroik pengorbanan pasukan Brimob untuk menyelamatkan warga di tengah tsunami. Cerita ini penulis dengar langsung dari anggota brimob saat ngobrol santai di lapangan tembak Brimob Polda Kalsel. Sayangnya penulis tidak sempat bertanya siapa nama beliau.

Saat itu beliau di tugaskan dalam misi keamanan di Aceh bersama rekan-rekan beliau yang lain. Satu pasukan Brimob tersebut tengah bertugas di markas Brimob tiba-tiba terjadi gempa. pasukan tersebut mengetahui bahwa setelah gempa tersebut usai akan ada terjangan tsunami sehingga dengan sigap melakukan evakuasi markas. Truk pengangkut sudah dinyalakan dan siap berangkat. Masyarakat di sekitar markas banyak yang meminta pertolongan untuk ikut sehingga truk-truk tersebut tidak kunjung berangkat hingga masyarakat dapat terangkut semua.

Namun, evakuasi tersebut tidak berjalan mulus, evakuasi kalah cepat dengan terjangan tsunami sehingga truk-truk brimob beserta pasukan brimob dan masyarakat di dalamnya dengan cepat tersapu tsunami. Anggota brimob yang menceritakan cerita inipun ikut hanyut terbawa tsunami. Di tengah hidup dan mati beliau berhasil meraih sebuah pohon dan bertahan di sana hingga tsunami reda. 

Beliau berhasil bertahan hidup dalam bencana alam tersebut namun banyak rekan-rekan beliau yang meninggal dunia ditelan bencana. Akan tetapi, yang menjadi kebanggaan adalah bahwa walaupun mereka meninggal namun mereka meninggal ditengah usaha menyelamatkan masyarakat dari bencana. hal ini sesuai dengan semboyan Brimob yang berbunyi, "JIWA RAGAKU UNTUK KEMANUSIAAN".

Minggu, 10 Februari 2013

Allah SWT Menuntun Antasena 509



ALLAH SWT menyertai kami, begitulah yang diyakini Kompol Herry Nooryanto, komandan kapal patroli Dit Polair Baharkam Polri  Antasena 509 beserta awak kapalnya saat kapal tersebut berhasil bersandar di Kepulauan Mentawai. 

Gempa bumi yang disusul tsunami pada 25 Oktober 2010 yang lalu telah memporak-porandakan Kepulauan mentawai, tangis dan air mata keputusasaan mereka yang menjadi korban bencana tersebut seakan terus menari-nari di matanya ungkap Hery Nooryanto yang sepekan kemudian kembali dari Mentawai seusai membawa rombongan Polda Sumbar dalam sebuah misi kemanusiaan ke Mentawai.

Ayah satu anak ini pun bercerita pengalamannya bahwa tanpa campur tangan Allah SWT misi itu mustahil terlaksana. Sebab sejak berangkat memulai perjalanan, hambatan alam menghadang di depan. Cuaca ekstrem yang berubah-ubah,  sepanjang perjalanan diliputi kabut tebal disertai badai dan ombak yang tingginya mencapai 5 – 6 meter seringkali datang tiba-tiba. Hanya karena campur tangan Allah SWT maka Antasena 509 dapat berhasil mencapai tujuan.

Suatu ketika perahu karet kami yang membawa wartawan, personel Polda termasuk tim DVI Polda Sumbar diantaranya seorang dokter wanita yang hendak menjangkau pantai Dusun Pororogat dihempas gelombang setinggi tiga meter sehingga perahu karet terbalik dan menumpahkan seluruh penumpangnya ke air, namun Alhamdulillah semua selamat. Pernah di perjalanan memasuki Muara Selat Sikakap dihadang badai yang dating tiba-tiba disertai kabut. Hujan deras disertai gelombang setinggi 5-6 meter dating mengarah ke lambung kanan kapal. Tak tergambar kepanikan seluruh penumpang Antesena namun lagi-lagi Allah SWT selalu menyertai kami dan menyelamatkan kami.

 Kompol Hery Nooryanto, Sik (kiri) di tumpukan bantuan geladak kapal Antasena 509

Dalam misi kemanusiaan ini, kapal Antasena berhasil mendistribusikan seberat 2 ton bantuan serta memberikan pertolongan dan pengobatan terhadap pengungsi beberapa titik lokasi bencana yaitu Pororogat, Sabiren, Surak Aban, Mapinang, Malakopa, Sabeogukguk, Betumonga, Baru-Baru, Besowa, dan Siuban. Selama melakukan misi ini kemanusiaan ini, tim  juga menemukan 130 mayat. Alhamdulillah berkat bimbingan Allah SWT seluruh awak Antasena selamat hingga misi selesai dilaksanakan.

SUMBER :
Majalah Jagratara, The Police Magazine
Edisi 57 Desember 2010

Selasa, 25 Januari 2011

Ketika Kita Harus Menghargai Polisi

“Saya tidak punya saudara Polisi, bukan pula anak Polisi apalagi seorang Polisi.. Saya hanya ingin melihat sisi lain dari Polisi..”

Beberapa hari yang lalu saya berencana men
gadakan buka puasa bareng dengan teman-teman yang sudah cukup lama tidak ketemu. Meskipun saya “tidak berpuasa”, tetapi tentu tidak ada salahnya ikut dalam acara tersebut.

Berangkat dari kantor menuju lokasi bukber (buka bersama red.) yang berlokasi di Jl. Thamrin tentu harus dilakukan dengan bergegas, karena seperti biasa, Jakarta pasti dihinggapi kemacetan yang luar biasa. Apalagi di bulan Ramadhan, tentu semua orang ingin pulang cepat, semua orang ingin berbuka puasa dirumah.

Hari itu Jakarta dilanda hujan yang lumayan deras, dan hal ini tentu saja membuat Jakarta semakin macet. Dimana-mana terjadi stagnasi kendaraan. Tentu bagi orang yang berpuasa ini merupakan tantangan berat. Disamping lapar dan haus, kemacetan yang luar biasa membuat pikiran sumpek ditambah kekhawatiran (kepasrahan lebih tepatnya) tidak bisa berbuka bersama keluarga yang disayangi.

Integritas seorang Polisi

Memandang dari kaca jendela bus kota, saya melihat sesosok manusia yang dari uniformnya sudah sangat dikenal di negara ini sedang sibuk dan tidak kenal lelah tetap meniup peluitnya untuk mengatur kendaraan yang sudah tidak terkendali. Ya benar, manusia itu adalah seorang Polisi Lalu Lintas.

Hati saya langsung terenyuh melihat kegigihan beliau untuk tetap stay dibawah hujan yang sudah mulai reda demi lancarnya perjalanan orang-orang yang ingin melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing. Entah kenapa saya meyakini bahwa beliau juga seorang muslim, yang kemungkinan besar juga sedang berpuasa. Ketika orang duduk enak didalam mobil yang ber-AC ditemani dengan ta’jil yang banyak, Pak Polisi tersebut tetap sabar mengatur lalu lintas yang terlanjur macet. Jika beliau sedang berpuasa, saya yakin beliau juga merasakan lapar dan haus seperti orang berpuasa lainnya. Saya juga meyakini, Pak Polisi itu juga tentu ingin berbuka puasa dirumah bersama isteri dan anak yang disayangi.

Segala asap yang sudah bercampur baur rela untuk dihirup karena tidak memungkinkan memakai masker sembari meniup peluit/semprit. Celana yang sudah agak basah tentu saja bisa membuat masuk angin apalagi disebabkan oleh perut kosong karena puasa. Di sisi lain, Asuransi kesehatan yang diberikan negara tentu sangat tidak cukup untuk mengcover apabila beliau sakit. Apalagi mengurus asuransi untuk pegawai yang berbelit-belit di Rumah Sakit dan kompensasi yang tidak maksimal (karena pemegang Askes seringkali dianggap sebagai “pasien anak tiri”) tentu tidak sebanding dengan pengorbanan yang diberikan oleh beliau.

Objektivitas

Melihat semua itu saya berfikir, bahwa ada Polisi-Polisi lain yang rela tidak berlebaran demi mengatur lancarnya arus mudik. Ada Polisi-Polisi lain yang melihat orang lain berlebaran, sementara dirinya masih di jalan dan meninggalkan anak isteri yang berlebaran tanpa kehadiran mereka.

Saya memang termasuk orang yang ikut melakukan kritik keras terhadap Polisi. Apalagi melihat berita-berita yang ditayangkan di berbagai media. Tetapi saya juga harus menjaga objektivitas saya dengan mengatakan salut kepada Polisi-Polisi yang masih memiliki integritas dan loyalitas tidak saja kepada institusi dan negara, tetapi juga kepada Tuhan.

Terlepas dari kejadian-kejadian yang tidak enak yang mungkin dialami oleh saya dan teman-teman dengan Polisi Lalu Lintas, saya mengapresiasi loyalitas Pak Polisi itu. Dan ketika menyadari ini semua, saya meyakini bahwa “Harapan untuk menjadikan Polisi sebagai institusi yang berwibawa itu masih ada.” Saya yakin bahwa Kepolisian mampu untuk berwibawa karena bersih, berwibawa karena Jujur dan berwibawa karena Tegas!!

Ketika saya berhasil melewati kemacetan lalu lintas, dan bertemu dengan teman-teman sambil berbuka puasa menikmati hidangan yang menggugah selera, dari kaca gedung yang tinggi itu, saya melihat kebawah dimana ada Pak Polisi yang lain masih sibuk mengatur lalu lintas.
Berbuka duluan ya Pak… (padahal ga puasa..)

Salam hangat buat Pak Polisi di perempatan Palmerah dan Sarinah yang saya lihat pada 24 Agustus 2010 antara jam 16.00 - 18.30 WIB.

Regards

-Ricky Saragih-


SUMBER :

http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/26/ketika-kita-harus-menghargai-polisi/


Kamis, 04 November 2010

Meredam Perang di Pegunungan Bintang


Malam itu, Rabu, 10 Desember 2008 terdengar isyarat berupa teriakan-terikan histeris dari atas gunung oleh masyarakat dengan panah siap diluncurkan. Ada Kejadian di Pegunungan Bintang Papua, puluhan massa datang ke Polres untuk meminta kejelasan atas penemuan jenasah (kerangka) yang diduga kepala suku mereka yang telah hilang satu tahun yang lalu.

Keesokan paginya Kamis, 11 Desember 2008 dengan ditemani Kapolres Pegunungan Bintang, Perawat Suudin, tim reskrim dan ident dari Polda Papua berangkat dari bandara Sentani dengan pesawat Sky Treck milik Polri.

“YAKMUM” (dalam agama Islam Assalamu’alaikum) demikian Kapolres membuka orasi singkat sebelum dilakukan proses identifikasi, “….. kami beserta tim dari Polda Papua akan membantu membuktikan siapa sebenarnya kerangka ini…. Jadi tolong masyarakat tetap tenang dan mendukung ….”.

Perwakilan dari masyarakat juga angkat bicara “Kami masyarakat Pegunungan Bintang ingin mendapat kejelasan siapa sebenarnya jenasah (kerangka) ini, dari giginya yang hilang ini adalah Bapak kepala suku kami…. Kami menuntut kejelasan, kalau tidak kami siap perang…”.

Wah bisa kacau ini, dengan Bismillah kami turun ke TKP, proses demi proses kami lewati dengan serius dan berusaha tampil se-ilmiah mungkin, mulai dari pengambilan gambar, sketsa, label, kantong jenasah, sampai fase kedua kami lakukan di depan umum karena tuntutan situasi. Mencuci kerangka yang masih berulat, mencatat, mengukur sampai fase ketiga kami Tanya jawab dengan anggota masyarakat yang kehilangan anggota keluarga.

Ternyata melakukan proses identifikasi di depan umum membawa hasil, masyarakat merasa kagum dengan tahapan identifikasi, apalagi karena kesan menghormati jenasah sangat ditonjolkan. Alhamdulillah jenasah bisa diidentifikasi, dengan bantuan dari keluarga dan teman dekat korban yang menyatakan property yang ada di sekitar jenasah serta perhiasan yang dipakai (gelang kaki, gelang tangan, kaos, rokok, celana) menunjukkan milik kerangka yang ditemukan.

Kapolres akhirnya mengumumkan hasil yang dicapai bahwa jenasah bukanlah kepala suku mereka, masyarakat bisa menerima dengan ikhlas, melan-pelan mereka menurunkan panah dan tombak tanda perdamaian, Pemda mendukung dengan memberikan bantuan kepada keluarga korban. Akhirnya ketenangan kambali ke pegunungan Bintang.

Ingin rasanya kembali ke Jayapura setelah menyelesaikan tugas, akan tetapi kabut membuat penerbangan tidak bisa dilakukan. Akhirnya dengan Kepuasan tersendiri kami bisa tertidur pulas dalam dinginnya udara Pegunungan Bintang.


SUMBER :
Majalah Dokpol

Minggu, 24 Oktober 2010

Akting Ngibul Sarjana Maling


Ketangkap basah menggondol mobil orang, Sahuri berlagak tak waras. Aktingnya lumayanlah, Ngomong-nya melantur, meja penyidik pun ia gedor. Kursi ikut ditendang. Brak! Bruk! Polisi sempat kaget dibuatnya.

Kalau Pak Polisi emosional, mungkin ia sudah kena tinju. Sahuri, 30 tahun, digelandang ke Kepolsian Resor bojonegoro, Jawa Timur, sejak Kamis dua pekan silam. Lajang itu menjadi tersangka nyolong mobil Toyota avanza.

Menurut Polisi, sahuri merupakan anggota komplotan pencuri mobil di wilayah Bojonegoro yang masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) Polisi. Nah, saat disidik, mendadak warga Sumberrejo, Bojonegoro, ini berakting bak orang gila. Mula-mula ia ngoceh tak karuan.

Pandangannya berlagak kosong. Ketika penyidik menanyakan materi pemeriksaan, jawaban Sahuri jauh melenceng. Ibaratnya, orang nanya A dijawab Z, gak nyambung.

“Kami Tanya bagaimana caranya mencuri (mobil), eh, dia menjawab, sawah saya mau panen, saya mau pulang,” tutur seorang penyidik. Meski sempat keheranan sekaligus kegelian, petugas tak percaya begitu saja.”Ah, dia pura-pura saja begitu,” celetuk penyidik yang lain.

Sahuri tak putus asa. Bukannya sadar dan malu, tetapi malah memperhebat aktingnya. Tiba-tiba saja tangan dan kakinya menghajar meja-kursi pemeriksaan. Keruan saja, ruang penyidik gaduh.”Gayanya seperti orang gila betulan,” penyidik tadi menambahkan.

Penyidik terhenti sesaat. Dua anggota Polisi berusaha menenangkan tersangka yang gila dadakan ini. Setelah kondisi tenang, pemeriksaan dilanjutkan. Identitas tersangka diperiksa lebih teliti.

Ternyata Sahuri memiliki SIM, KTP dan kartu ikatan alumni sebuah perguruan tinggi swasta di Jawa Timur. Polisi mencecar Sahuri soal kartu identitas tadi. “Kalau gila, mana kau punya kartu ini,” begitu ujar penyidik. Sahuripun terpojok. Berakhirlah akting sintingnya.

Kepada penyidik, Sahuri mengaku tindakannya itu ditirunya dari sikap pejabat yang mendadak sakit ketika menjalani pemeriksaan atas kasus korupsi. Biasanya, pemeriksaannya ditangguhkan, atau penahannya dibantar. Dengan berlagak gila, Sahuri berharap kasusnya bisa dibatalkan sekalian. Owalah.....!

SUMBER :
Majalah Gatra
Oleh Arif Sujatmiko