Selasa, 06 Agustus 2013

Bhayangkari Pendiri Paud dan TK


Berawal dari mengajar kursus anak-anak, ibu Eli (37 th) istri dari Bripka Pol Saifudin (BA Polsek Telanaipura), mengawali kariernya sebagai pendiri  sekolah Paud dan TK Junior di Puri Masurai Jambi Selatan.


Eli terlihat sedang mengajar anak-anak di tempatnya mengajar, terlihat suasana dan ruangan yang dibikin sedemikian rupa untuk membuat suasana belajar dan mengajar untuk anak-anak usia dini. Disana terdapat gambar-gambar kartun, poster-poster abjad dan angka serta perlengkapan mengajar lainnya. Tidak lupa juga terdapat rak buku buat anak-anak mengumpulkan buku hasil pekerjaannya hari itu.


Ibu Eli menceritakan pekerjaan ini berawal waktu dulu dia mengajar kursus bahasa Inggris utnuk anak-anak sekolah Xaverius. Lama-lama dia tertarik untuk membuka usaha mengajar anak-anak usia dini di linkungan tempat tinggalnya.

Dalam menggeluti pekerjaan yang sudah dilakoninya kurang lebih 10 tahun, ibu Eli merasa senang dan gembira, “Saya merasa senang bekerja seperti ini mas, memang di segi materi lebih besar gajinya kalau saya mengajar kursus bahasa Inggris, tapi itu kan saya harus full time dan makan gaji sebab kerja dengan orang lain. Di sini saya usaha sendiri dan bias membagi waktu untuk keluarga, setidaknya ada waktu senjangnya buat keluarga. Dalam mengajar saya tidak sendiri tapi dibantu oleh temen-temen juga. Kalu soal materi memang tidak gede tapi yang penting saya bias membantu anak-anak yang tidak mampu belajar membaca dan berhitung itu sudah kepuasan tersendiri bagi saya.” Imbuhnya.


Ibu Eli mengemukakan kalau dia ingin sekali membuka Rumah Baca ataupun Taman Baca gratis untuk anak-anak. Kendalanya sekarang buku-buku bacaan yang dikumpulkan masih minim, karenanya kami berharap ada donatur yang mau memberikan buku-buku baik baru maupun bekas yang layak baca. Buku-buku tersebut sangat berguna bagi kami untuk  menambah perbendaharaan dan bacaan buku kami.

Sumber : 
Majalah Siginjai
Media Informasi Polda Jambi - edisi 1 tahun XV Februari 2013

Selasa, 30 Juli 2013

Ngajak Balapan

Seorang pemuda kebut-kebutan di jalan, kecepatannya saat itu melampaui dari kecepatan maksimal yang ditetapkan di area tersebut. Seperti pemuda tersebut ingin mencoba kemampuan motor balap miliknya yang baru dibeli.

Polisi yang melihat langsung mengejar pengendara motor tersebut. Pengendara motor terus saja melaju, dia sempat melihat Polisi yang sedang mengejarnya. Nammun dia tetap saja ngebut. Pemuda tersebut berpikir, mungkin itu hanya Polisi yang sedang berpatroli.

Polisi yang mengetahui kalau motor yang dikejar semakin kencang melaju, merasa tak mau kalah, dia tak menyerah dan mengejar pengendara motor itu, Polisi menaikkan gasnya, begitupun sang pengendara. Terlihat mereka saling susul-menyusul.

Setelah melalui pengejaran yang seru, akhirnya pengendara motor itu terpojok dan berhasil dihentikan, Polisipun menegurnya....

"Kenapa anda terus ngebut Pak, saya tadi berusaha untuk mengejar anda, anda telah melakukan pelanggaran lalu lintas,"kata Polisi

"Looohh.... Bapak tadi ternyata mengejar saya tooo....???"jawab pemuda lugu.

"Iyaa... dan justru saudara malah semakin kencang... "

"Yaelah Bapak, kenapa gak bilang dari tadi..?? Saya kira Bapak tadi mau mengajak balapan..."" kata pemuda itu dengan santainya....

"Lhoooo..... waahh... waahhhh...."kata Polisi sambil mengeluarkan surat tilang.

Senin, 01 Juli 2013

Hari Lahir Polri Bukan 1 Juli


Banyak ulasan pakar sejarah yang mengangkat sejarah berdirinya Polri. Salah satunya menyatakan bahwa hari bhayangkara pada 1 Juli 1946 bukan merupakan “hari lahir” Polri karena Polri sudah ada sebelumnya. Lebih unik lagi, Surabaya punya “Sejarah khusus tentang Kepolisian”. Di kota pahlawan ini  Polisi pernah melaksanakan “Proklamasi Polisi”. Dalam ejaan lama, dalam Proklamasi Polisi di tulis:

“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia”.

Soerabaja, 21 Agoestoes 1945
Atas Nama Seloeroeh Warga Polisi
Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I

Sejarah mencatat bahwa menjelang pendaratan armada kapal perang Sekutu di Tanjung Perak Surabaya, 25 Oktober 1945, situasi di kota Surabaya semakin mencekam. Kemarahan rakyat terhadap Indo-Belanda yang membonceng rombongan Palang Merah Internasional (intercross) makin menjadi-jadi. Selain pemuda yang bergabung dalam PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat), Polisi juga mempunyai peran yang cukup menentukan menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Ketika menjadi insiden bendera, 19 september 1945, Polisi bergerak cepat mereka menyatu dengan massa. 


Di Surabaya, selain Polisi Umum, ada Pasukan PI (Polisi Istimewa) yang sangat disegani. PI adalah jelmaan  dari CSP (Central Special Police). Apalagi, pada Agustus 1945 itu, hanya Polisi yang masih memegang senjata. Karena, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, penguasa Jepang di Indonesia membubarkan tentara PETA dan Heiho, sedangkan senjata mereka dilucuti. Bung Tomo, pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, meyatakan :

“PETA diharapkan dapat mendukung perjuangan di Surabaya tahun 1945 , tetapi PETA membiarkan senjatanya dilucuti oleh Jepang, untung ada Pemuda M. Jasin dengan pasukan-pasukan Polisi Istimewanya yang berbobot tempur mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya.”
- Bung Tomo

Polisi mempunyai peran yang istimewa dalam masyarakat,kondisi ini dimanfaatkan untuk melakukan pemantapan. Dalam buku Sejarah Kepolisian di Indonesia, disebutkan: “Di Surabaya, Komandan Polisi Istimewa Jawa Timur, Inspektur Polisi Kelas I (Iptu) Moehammad Jasin, memproklamasikan kedudukan Kepolisian pada 21 Agustus 1945.”

Proklamasi Polisi itu merupakan suatu tekad anggota Polisi untuk berjuang melawan tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap, walaupun sudah menyerah. Proklamasi itu juga bertujuan untuk meyakinkan rakyat bahwa Polisi adalah aparat negara yang setia kepada Republik Indonesia. Dengan demikian, rakyat dapat melihat bahwa Polisi bukanlah alat penjajah. Jadi, di Surabaya, Kepolisian Republik Indonesia lahir mendahului keberadaan Polisi di Indonesia yang secara resmi ditetapkan sebagai Hari Bhayangkara, 1 Juli 1946.

Asvi Warman Adam, ahli penelitian utama LIPI, di Radar Jogja (1 Juli 2009), pernah menyampaikan bahwa :
“1 Juli sering dianggap sebagai hari lahir Kepolisian. Padahal instansi itu sudah ada sejak Proklamasi Kemerdekaan, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Di Indonesia, tentara, terutama Angkatan Darat (AD), memiliki kesadaran sangat tinggi tentang pentingnya sejarah. ……….. “

Lebih lanjut dia menjelaskan di kalangan Polisi malah kurang akan kesadaran sejarahnya sendiri. Padahal menurut Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya”. Oleh karena itulah makanya sejarah Kepolisian ini masih banyak yang belum tahu bahkan oleh Anggota Kepolisian sendiri.

Sumber :
Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang
Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia
Diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2010

Kamis, 06 Juni 2013

Pergi Pagi Pulang Petang (P4)

Pukul 04.00, saat orang masih tidur lelap dipagi buta, lelaki asal Jogjakarta ini harus sudah bangun dari tidurnya dan bersiap-siap berangkat kerja ke Jakarta.

Inilah salah satu suka duka anggota Polisi yang bertugas di Polda Metro Jaya (PMJ). Seperti yang dilakoni Aiptu M. Ikhsan. Bapak dua anak yang bertugas di bagian verifikasi data Seksi BPKB Dit Lantas PMJ. Ikhsan harus sudah berangkat ke kantor di pagi buta, dimana sebagian masyarakat masih menikmati hangatnya selimut.

Setiap hari berangkat jam 03.30 atau paling lambat jam 04.00 WIB. Maklum ikhsan tinggal di Perumahan Tambun, Bekasi. Supaya tidak telat apel pagi, maka harus berangkat ke kantor pada pagi buta.

Dulu, sebelum punya sepeda motor, ikhsan harus naik angkutan umum untuk pulang pergi ke kantor. Sekitar pukul 05.30, biasanya sudah sampai di kantor. Lalu bersiap-siap untuk mengikuti apel pagi.

Rutinitas ini bagi sebagian orang tentu tidaklah ringan. Selain harus menjaga stamina tubuh, perlu pula sabar menjalaninya. Bagi Ikhsan, pengabdian ini sangat dinikmati dan disyukurinya. Dia tidak pernah mengeluh. Sebab, menjadi Polisi memang sudah pilihan yang diidam-idamkannya sejak kecil.

Pria kelahiran Jogja ini menjadi anggota Polisi sejak 1984. Tak lama kemudian dia langsung ditugaskan sebagai Polisi lalu lintas di PMJ. Di Seksi BPKB, awalnya Ikhsan bertugas di bagian arsip. Tapi sejak empat tahun lalu, tugasnya pindah di bagian verifikasi data.

Kalau ditanya tentang gaji dia menjawab, "Ya... kurang lebih sekitar Rp. 1,8 juta setiap bulan. Itu gaji plus tunjangan. Kalau saya ditanya cukup atau tidak, ya harus dicukup-cukupkan," katanya. Ikhsan tergolong anggota yang masih beruntung. Sebab masih ada anggota lain yang nasibnya kurang mujur. Misal harus jadi sopir angkot untuk menutup kekurangan kebutuhan keluarga.



Pertama kali bertugas di Sat Gasus. bertugas di manapun, katanya, sama saja. Di BPKB, atau di lapangan juga melayani masyarakat. 

Dengan sistem pelayanan BPKB saat ini, Ikhsan ternyata ikut senang. Katanya, ada perubahan yang cukup bagus. Ada kemajuan, baik di bidang fasilitas gedung, pelayanan dan tenaga SDM-nya.

Dia juga tak melewatkan untuk menyimak berita menyangkut Polisi lalu lintas. Secara tidak langsung, dia melihat dan mendengar keluhan dari masyarakat. Dari situlah, secara pribadi bertekad untuk memberi pelayanan kepada masyarakat yang dimulai dari diri sendiri.

SUMBER :
Majalah Jagratara, The Police Magazine
Edisi XXV Desember 2006 



Rabu, 15 Mei 2013

Hasil Otopsi Jenazah

Tiga jenazah dibawa ke ruang otopsi, ketiganya dalam keadaan tersenyum lebar-lebar lalu dokter forensik melaporkan pemeriksaannya kepada Polisi.

Dokter : "Jenazah yang pertama orang Perancis, mati karena serangan jantung ketika ia berkencan dengan pasangannya, maka ia tersenyum puas.

Yang kedua orang Inggris, ia menang lotere lalu minum-minum hingga keracunan alcohol, makanya ia tersenyum senang."

Polisi : "Jenazah yang ketiga bagaimana ? orang mana dia ?

Dokter : "Orang Indonesia, meninggal karena disambar petir."

Polisi : "????.... Tapi kenapa ia tersenyum ?"

Dokter : "Dia kira sedang di foto untuk di upload ke FB."

Wakkakaakakakkakakk    
  

Jumat, 10 Mei 2013

Penjahat Bersenjata Hingga Bajak Laut


Keberhasilan jajaran Kepolisian Polda Sumatera Utara dalam membekuk komplotan penjahat bersenjata yang melakukan penyanderaan di Perairan Selat Malaka Oktober 2006 silam tidak lepas dari peran Iwan Muri yang memimpin langsung operasi pembebasan awak kapal Sanlay-X.

Operasi pembebasan tiga orang sandera tersebut dilakukan tim gabungan yang terdiri dari jajaran satuan 1 Reskrim Polda Sumut, Direktorat Polisi Perairan dan Detasemen Khusus 88 Antiteror.

Lewat Kepemimpinan Iwan, tiga orang sandera, kepala kamar Djoko Santoso, Nahkoda Jakob dan mualim Budi Susilo berhasil dibebaskan. "Alhamdulillah kasus ini bisa diselesaikan dengan baik. Atas doa keluarga kita semua selamat,"kata Iwan Muri.


Iwan adalah kelahiran Surabaya 12 Februari 1977. Lulus Akpol tahun 1998. Darah militer menetes dari sang ayang yang Angkatan Laut. Menikah dengan Polwan Pol Air Ida Maryani dan dikaruniai satu putera.

Tujuh tahun menjadi Polisi perairan, semua laut di Nusantara sudah dijelajahinya, khususnya Selat Malaka. Maka berhadapan dengan berbagai bentuk kejahatan di laut seperti bajak laut misalnya sudah tak asing lagi baginya. Bicara soal keberadaan bajak laut, Iwan melihat di Pulau Sumatera ini mereka memiliki jaringan yang cukup kuat selain itu mereka cukup pintar meloloskan diri dari intaian walah para anggota sudah pura-pura jadi nelayan.

Perbedaan mendasar bertugas di laut dan di darat adalah di laut kendalanya merupakan alam yaitu ganasnya ombak dan cuaca. Sekarang Iwan sudah merasakan tugas di darat namun bukan berarti tidak ingin kembali ke laut. Dimana saja siap ditugaskan.


SUMBER :
Jagratara, The Police Magazine
Edisi XXV Desember 2006

Minggu, 21 April 2013

Rumiah Kapolda Wanita Pertama

Berkat perjuangan Kartini banyak kaum perempuan Indonesia yang kini semakin maju dan memperoleh banyak kesempatan untuk menjadi pemimpin. Pengangkatan Polwan Brigjen Pol Rumiah sebagai Kapolda Wanita pertama Banten adalah bukti bahwa perjuangan kartini tidaklah sia-sia. Setelah ada Kapolwil, Kapolres dan Kapolsek di Kepolisian Republik Indonesia juga ada Kapolda Wanita.

Zaman telah berubah, tidak ada lagi persoalan gender untuk sebuah profesionalitas. Dalam konteks kebangsaan, kaum perempuan menyadari posisi dan fungsinya sebagai garda bangsa. Di jajaran Kepolisian Wanita, para Srikandi dengan tegas dan kelembutan fitrahnya, berupaya menjaga amanah dalam mengayomi masyarakat. Etos kerja keras bersemangat emansipasi inilah yang menjadi Kapolda Banten, Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol) Rumiah dijuluki 'Kartini baru abat Millenium'. Pasalnya dialah perempuan pertama yang sejak 14 Januari 2008 menjabat di posisi sangat terhormat di Kepolisian negeri ini.

Perempuan kelahiran TUlung Agung, Jawa Timur, 19 Maret 1953 ini memaknai jabatan sebagai sebuah tanggung jawab besar, komitmen, sekaligus pengabdian. Ibu dua anak yang akrab disapa 'Mbak Rum' ini sempat menempuh pendidikan Sekolah Tinggi Olah raga dan meraih gelar sarjana pendidikan (Spd) di IKIP, Ketintang, Surabaya, tahun 1975. Selanjutnya ia tempuh Sepawil Sukwan angkatan V pada tahun 1978 dan lulus dengan pangkat Letnan Dua (sekarang Ipda, Red).


Sejak bergabung di Polda Metro Jaya sebagai salah seorang Kasubbag Binmas, posisi perempuan yang mengidolakan Nabi Muhammad ini terus menanjak. Ia ditugaskan mulai dari Direktorat Pendidikan Polri, Sepolwan, Paban Madya Personel Mabes Polri, Waka Sepolwan, Kepala Sepolwan, mengikuti Sespati angkatan 5 dan lulus tahun 2003, Divisi Humas Polri. Lemdiklat Polri dan akhirnya berujung pada jabatan strategis, menjadi Kapolda wanita pertama.

Emansipasi yang digulirkan RA Kartini lebih dari seabad silam telah dibuktikan oleh Mbak Rum. Kendati sempat 'merinding dan terkejut' karena ditugaskan - lewat telepon rahasia di suatu malam pada Januari silam - memimpin keamanan di 'kota Pendekar' Banten, toh semua itu menjadi tantangan baginya.

SUMBER :
Majalah Jagratara
The Police Magazine
Edisi XXXVI, Mei 2008