
Anggota Polri yang bertugas di pedalaman Papua harus memiliki mental yang tebal dalam menghadapi dan menangani semua kendala tugas dan keterbatasan, baik keterbatasan diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Anggota Polres Yahukimo yang bertugas di Distrik Sumohai Kabupaten Yahukimo tanpa mengkesampingkan tugasnya selaku anggota Polisi juga peduli dengan lingkungan sekitarnya. Mereka menyempatkan diri untuk mengajar di salah satu SD yang terdapat pada Distrik tersebut.
Bripda Basri Jaya Tompo anggota Satuan Samapta Polres Yahukimo bersama-sama dengan beberapa rekannya merasa terpanggil untuk memberikan ilmu kepada murid-murid yang ada di SD tersebut. Hal tersebut dilakukan karena melihat keinginan dari masyarakat setempat yang mendorong anak-anak mereka yang masuk usia sekolah untuk bersekolah. Namun sayang, sekolah tersebut terkendala akan kurangnya tenaga pengajar.
Melihat situasi keamanan pada saat, akan dan pada pelaksanaan pemungutan suara berjalan aman dan terkendali, beberapa anggota Polres Yahukimo berinisiatif untuk mengajar di sekolah. walaupun hanya mengajar beberapa pelajaran dasar seperti menghitung ataupun membaca, tetapi kegiatan tersebut berjalan lancar. Murid-murid yang belum mengerti materi yang disampaikan, tanpa ragu langsung ke depan kelas untuk bertanya kepada para pengajar. Padahal bila kita sadari mereka merupakan seorang figur Polisi yang notabene bukan seorang guru. Akan tetapi dengan niat tulus, diimbangi dengan semangat tugas yang luhur maka semua keterbatasan tersebut alhamduliilah dapat teratasi.
SUMBER :
Majalah Rastra Samara Polda Papua.
Edisi Khusus HUT Bhayangkara ke-63 Tahun 2009.
Demikianlah keadaan Polisi Lalu Lintas (Polantas) saat pendahulu Kepolisian bertugas. Pada jaman itu tidak ada lampu trafick light (lampu merah, kuning, hijau di perempatan jalan). Untuk mengatur lalu lintas di perempatan jalan, Polisi berdiri di tengah-tengah perempatan sambil memutar secara manual kode berjalan dan berhenti seperti gambar di samping.
Benda berbentuk kotak pada ujung tiang tersebut bertulis "Berjalan" dan "Berhenti". Polisi di bawahnya memutar bergiliran kode tersebut melalui tuas yang ada di bawahnya secara manual untuk mengatur lalu lintas. Sebuah payung sekedarnya, sedikit membantu untuk menghindari panas dan rintikan hujan.
Pekerjaan tersebut memerlukan dedikasi, ketanggapan dan kejelian. Bagi mereka, menjadi petugas dalam mengamankan arus lalu lintas, merupakan sebuah kebanggaan yang dijalankan secara ikhlas. Dari sini kita bisa membayangkan betapa mulianya amal perbutan tersebut.
Jaman terus berganti, kini rambu-rambu lalu lintas di perempatan jalan bekerja secara otomatis dengan adanya lampu trafick light. Meskipun begitu, nilai jaman dahulu tidak jauh berbeda dengan jaman sekarang, Polisi masih diperlukan di perempatan jalan untuk mengatur lalu lintas dan masyarakatnya.
Meskipun sekarang Polantas di perempatan bekerja lebih mudah, akan tetapi semangat pengabdian yang ikhlas pada jaman dulu harus tetap bersemi pada setiap anggota Polisi pada setiap masanya baik dulu, kini dan yang akan datang. Sehingga mereka sadar, bahwa ini merupakan pekerjaan yang mulia dan bernilai pahala di sisi-Nya apabila dikerjakan dengan tulus ikhlas.
SUMBER FOTO :
Majalah Machdum Sakti
Nomor 2 Tahun XII - Juni 2009
Dalam banyak kisah yang dibuat para pembuat film, sering ada dua wajah untuk menggambarkan Polisi, yaitu Polisi Baik dan Polisi Buruk. Polisi baik adalah mereka yang digambarkan bisa tampil dalam perannya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Polisi buruk adalah mereka yang digambarkan tampil dalam perilaku menakutkan, bersikap mentang-mentang dan mata duitan. (Akhlis Suryapati, Wartawan/Seniman)
SUMBER :
Majalah Jagratara - Edisi Juli 2009)