Pukul 04.00, saat orang masih tidur lelap dipagi buta, lelaki asal Jogjakarta ini harus sudah bangun dari tidurnya dan bersiap-siap berangkat kerja ke Jakarta.
Inilah salah satu suka duka anggota Polisi yang bertugas di Polda Metro Jaya (PMJ). Seperti yang dilakoni Aiptu M. Ikhsan. Bapak dua anak yang bertugas di bagian verifikasi data Seksi BPKB Dit Lantas PMJ. Ikhsan harus sudah berangkat ke kantor di pagi buta, dimana sebagian masyarakat masih menikmati hangatnya selimut.
Setiap hari berangkat jam 03.30 atau paling lambat jam 04.00 WIB. Maklum ikhsan tinggal di Perumahan Tambun, Bekasi. Supaya tidak telat apel pagi, maka harus berangkat ke kantor pada pagi buta.
Dulu, sebelum punya sepeda motor, ikhsan harus naik angkutan umum untuk pulang pergi ke kantor. Sekitar pukul 05.30, biasanya sudah sampai di kantor. Lalu bersiap-siap untuk mengikuti apel pagi.
Rutinitas ini bagi sebagian orang tentu tidaklah ringan. Selain harus menjaga stamina tubuh, perlu pula sabar menjalaninya. Bagi Ikhsan, pengabdian ini sangat dinikmati dan disyukurinya. Dia tidak pernah mengeluh. Sebab, menjadi Polisi memang sudah pilihan yang diidam-idamkannya sejak kecil.
Pria kelahiran Jogja ini menjadi anggota Polisi sejak 1984. Tak lama kemudian dia langsung ditugaskan sebagai Polisi lalu lintas di PMJ. Di Seksi BPKB, awalnya Ikhsan bertugas di bagian arsip. Tapi sejak empat tahun lalu, tugasnya pindah di bagian verifikasi data.
Kalau ditanya tentang gaji dia menjawab, "Ya... kurang lebih sekitar Rp. 1,8 juta setiap bulan. Itu gaji plus tunjangan. Kalau saya ditanya cukup atau tidak, ya harus dicukup-cukupkan," katanya. Ikhsan tergolong anggota yang masih beruntung. Sebab masih ada anggota lain yang nasibnya kurang mujur. Misal harus jadi sopir angkot untuk menutup kekurangan kebutuhan keluarga.
Pertama kali bertugas di Sat Gasus. bertugas di manapun, katanya, sama saja. Di BPKB, atau di lapangan juga melayani masyarakat.
Dengan sistem pelayanan BPKB saat ini, Ikhsan ternyata ikut senang. Katanya, ada perubahan yang cukup bagus. Ada kemajuan, baik di bidang fasilitas gedung, pelayanan dan tenaga SDM-nya.
Dia juga tak melewatkan untuk menyimak berita menyangkut Polisi lalu lintas. Secara tidak langsung, dia melihat dan mendengar keluhan dari masyarakat. Dari situlah, secara pribadi bertekad untuk memberi pelayanan kepada masyarakat yang dimulai dari diri sendiri.
SUMBER :
Majalah Jagratara, The Police Magazine
Edisi XXV Desember 2006
Kamis, 06 Juni 2013
Rabu, 15 Mei 2013
Hasil Otopsi Jenazah
Tiga jenazah dibawa ke ruang otopsi, ketiganya dalam keadaan tersenyum lebar-lebar lalu dokter forensik melaporkan pemeriksaannya kepada Polisi.
Dokter : "Jenazah yang pertama orang Perancis, mati karena serangan jantung ketika ia berkencan dengan pasangannya, maka ia tersenyum puas.
Yang kedua orang Inggris, ia menang lotere lalu minum-minum hingga keracunan alcohol, makanya ia tersenyum senang."
Polisi : "Jenazah yang ketiga bagaimana ? orang mana dia ?
Dokter : "Orang Indonesia, meninggal karena disambar petir."
Polisi : "????.... Tapi kenapa ia tersenyum ?"
Dokter : "Dia kira sedang di foto untuk di upload ke FB."
Wakkakaakakakkakakk
Dokter : "Jenazah yang pertama orang Perancis, mati karena serangan jantung ketika ia berkencan dengan pasangannya, maka ia tersenyum puas.
Yang kedua orang Inggris, ia menang lotere lalu minum-minum hingga keracunan alcohol, makanya ia tersenyum senang."
Polisi : "Jenazah yang ketiga bagaimana ? orang mana dia ?
Dokter : "Orang Indonesia, meninggal karena disambar petir."
Polisi : "????.... Tapi kenapa ia tersenyum ?"
Dokter : "Dia kira sedang di foto untuk di upload ke FB."
Wakkakaakakakkakakk
Jumat, 10 Mei 2013
Penjahat Bersenjata Hingga Bajak Laut
Keberhasilan jajaran Kepolisian Polda Sumatera Utara dalam membekuk komplotan penjahat bersenjata yang melakukan penyanderaan di Perairan Selat Malaka Oktober 2006 silam tidak lepas dari peran Iwan Muri yang memimpin langsung operasi pembebasan awak kapal Sanlay-X.
Operasi pembebasan tiga orang sandera tersebut dilakukan tim gabungan yang terdiri dari jajaran satuan 1 Reskrim Polda Sumut, Direktorat Polisi Perairan dan Detasemen Khusus 88 Antiteror.
Lewat Kepemimpinan Iwan, tiga orang sandera, kepala kamar Djoko Santoso, Nahkoda Jakob dan mualim Budi Susilo berhasil dibebaskan. "Alhamdulillah kasus ini bisa diselesaikan dengan baik. Atas doa keluarga kita semua selamat,"kata Iwan Muri.
Iwan adalah kelahiran Surabaya 12 Februari 1977. Lulus Akpol tahun 1998. Darah militer menetes dari sang ayang yang Angkatan Laut. Menikah dengan Polwan Pol Air Ida Maryani dan dikaruniai satu putera.
Tujuh tahun menjadi Polisi perairan, semua laut di Nusantara sudah dijelajahinya, khususnya Selat Malaka. Maka berhadapan dengan berbagai bentuk kejahatan di laut seperti bajak laut misalnya sudah tak asing lagi baginya. Bicara soal keberadaan bajak laut, Iwan melihat di Pulau Sumatera ini mereka memiliki jaringan yang cukup kuat selain itu mereka cukup pintar meloloskan diri dari intaian walah para anggota sudah pura-pura jadi nelayan.
Perbedaan mendasar bertugas di laut dan di darat adalah di laut kendalanya merupakan alam yaitu ganasnya ombak dan cuaca. Sekarang Iwan sudah merasakan tugas di darat namun bukan berarti tidak ingin kembali ke laut. Dimana saja siap ditugaskan.
SUMBER :
Jagratara, The Police Magazine
Edisi XXV Desember 2006
Minggu, 21 April 2013
Rumiah Kapolda Wanita Pertama
Berkat perjuangan Kartini banyak kaum perempuan Indonesia yang kini semakin maju dan memperoleh banyak kesempatan untuk menjadi pemimpin. Pengangkatan Polwan Brigjen Pol Rumiah sebagai Kapolda Wanita pertama Banten adalah bukti bahwa perjuangan kartini tidaklah sia-sia. Setelah ada Kapolwil, Kapolres dan Kapolsek di Kepolisian Republik Indonesia juga ada Kapolda Wanita.
Zaman telah berubah, tidak ada lagi persoalan gender untuk sebuah profesionalitas. Dalam konteks kebangsaan, kaum perempuan menyadari posisi dan fungsinya sebagai garda bangsa. Di jajaran Kepolisian Wanita, para Srikandi dengan tegas dan kelembutan fitrahnya, berupaya menjaga amanah dalam mengayomi masyarakat. Etos kerja keras bersemangat emansipasi inilah yang menjadi Kapolda Banten, Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol) Rumiah dijuluki 'Kartini baru abat Millenium'. Pasalnya dialah perempuan pertama yang sejak 14 Januari 2008 menjabat di posisi sangat terhormat di Kepolisian negeri ini.
Perempuan kelahiran TUlung Agung, Jawa Timur, 19 Maret 1953 ini memaknai jabatan sebagai sebuah tanggung jawab besar, komitmen, sekaligus pengabdian. Ibu dua anak yang akrab disapa 'Mbak Rum' ini sempat menempuh pendidikan Sekolah Tinggi Olah raga dan meraih gelar sarjana pendidikan (Spd) di IKIP, Ketintang, Surabaya, tahun 1975. Selanjutnya ia tempuh Sepawil Sukwan angkatan V pada tahun 1978 dan lulus dengan pangkat Letnan Dua (sekarang Ipda, Red).
Sejak bergabung di Polda Metro Jaya sebagai salah seorang Kasubbag Binmas, posisi perempuan yang mengidolakan Nabi Muhammad ini terus menanjak. Ia ditugaskan mulai dari Direktorat Pendidikan Polri, Sepolwan, Paban Madya Personel Mabes Polri, Waka Sepolwan, Kepala Sepolwan, mengikuti Sespati angkatan 5 dan lulus tahun 2003, Divisi Humas Polri. Lemdiklat Polri dan akhirnya berujung pada jabatan strategis, menjadi Kapolda wanita pertama.
Emansipasi yang digulirkan RA Kartini lebih dari seabad silam telah dibuktikan oleh Mbak Rum. Kendati sempat 'merinding dan terkejut' karena ditugaskan - lewat telepon rahasia di suatu malam pada Januari silam - memimpin keamanan di 'kota Pendekar' Banten, toh semua itu menjadi tantangan baginya.
SUMBER :
Majalah Jagratara
The Police Magazine
Edisi XXXVI, Mei 2008
Zaman telah berubah, tidak ada lagi persoalan gender untuk sebuah profesionalitas. Dalam konteks kebangsaan, kaum perempuan menyadari posisi dan fungsinya sebagai garda bangsa. Di jajaran Kepolisian Wanita, para Srikandi dengan tegas dan kelembutan fitrahnya, berupaya menjaga amanah dalam mengayomi masyarakat. Etos kerja keras bersemangat emansipasi inilah yang menjadi Kapolda Banten, Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol) Rumiah dijuluki 'Kartini baru abat Millenium'. Pasalnya dialah perempuan pertama yang sejak 14 Januari 2008 menjabat di posisi sangat terhormat di Kepolisian negeri ini.
Perempuan kelahiran TUlung Agung, Jawa Timur, 19 Maret 1953 ini memaknai jabatan sebagai sebuah tanggung jawab besar, komitmen, sekaligus pengabdian. Ibu dua anak yang akrab disapa 'Mbak Rum' ini sempat menempuh pendidikan Sekolah Tinggi Olah raga dan meraih gelar sarjana pendidikan (Spd) di IKIP, Ketintang, Surabaya, tahun 1975. Selanjutnya ia tempuh Sepawil Sukwan angkatan V pada tahun 1978 dan lulus dengan pangkat Letnan Dua (sekarang Ipda, Red).
Sejak bergabung di Polda Metro Jaya sebagai salah seorang Kasubbag Binmas, posisi perempuan yang mengidolakan Nabi Muhammad ini terus menanjak. Ia ditugaskan mulai dari Direktorat Pendidikan Polri, Sepolwan, Paban Madya Personel Mabes Polri, Waka Sepolwan, Kepala Sepolwan, mengikuti Sespati angkatan 5 dan lulus tahun 2003, Divisi Humas Polri. Lemdiklat Polri dan akhirnya berujung pada jabatan strategis, menjadi Kapolda wanita pertama.
Emansipasi yang digulirkan RA Kartini lebih dari seabad silam telah dibuktikan oleh Mbak Rum. Kendati sempat 'merinding dan terkejut' karena ditugaskan - lewat telepon rahasia di suatu malam pada Januari silam - memimpin keamanan di 'kota Pendekar' Banten, toh semua itu menjadi tantangan baginya.
SUMBER :
Majalah Jagratara
The Police Magazine
Edisi XXXVI, Mei 2008
Selasa, 05 Maret 2013
Diamuk Istri
Seorang Polisi di bagian pengaduan masyarakat menerima telpon, "Selamat malam, bisa dibantu pak?" ujarnya ramah. Dari ujung telpon terdengan gugup, "Tolong, pak ! istri saya mengamuk dan mengancam akan membunuh saya."
Si Polisi pun bertanya, "Apa gara-garanya?" "Sudah tiga hari saya tidak pulang, pak!. Begitu pulang dalam kondisi setengah mabuk, istri saya akhirnya mengetahui saya gak bawa uang ke rumah," aku si pelapor.
"Baiklah, kami akan segera mengirimkan anggota ke rumah anda," kata petugas. "Jangan sekarang, pa !" kata si pelapor, "Soalnya saya masih di jalan. Setengah jam lagi baru sampai rumah."
Sumber :
Majalah Bhayangkara
Edisi Perdana, Februari 2010
Si Polisi pun bertanya, "Apa gara-garanya?" "Sudah tiga hari saya tidak pulang, pak!. Begitu pulang dalam kondisi setengah mabuk, istri saya akhirnya mengetahui saya gak bawa uang ke rumah," aku si pelapor.
"Baiklah, kami akan segera mengirimkan anggota ke rumah anda," kata petugas. "Jangan sekarang, pa !" kata si pelapor, "Soalnya saya masih di jalan. Setengah jam lagi baru sampai rumah."
Sumber :
Majalah Bhayangkara
Edisi Perdana, Februari 2010
Jumat, 01 Maret 2013
Pengalaman Dengan Polisi Solo
Ada seorang kaskuser dengan ID nganjux tertanggal 23-04-2011 pkl:00:24 yang menulis pengalamannya dengan Polisi Solo. Tulisannya menarik apalagi berdasarkan pengalaman pribadi semoga bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi rekan-rekan bhayangkara lainnya dalam melayani, melindungi & mengayomi dengan sepenuh hati. Begini tulisannya :
Mau share pengalaman nih gan, barusan tadi sore kejadiannya, sekitar jam 5.30 PM, di Solo…
ane tadi dari Wonogiri, bermaksud pulang ke Jogja lewat solo. nah sampe di solo, ane ngikutin plang arah klaten, tapi semakin ane ikutin jalannya semakin sempit & makin rusak jalannya, waduh, kayaknya salah jalan ni (kalopun bener pasti jalan alternatif yg nggak enak dilewatin). ane tanya ke tukang bensin eceran (sekalian beli), tapi malah ditunjukin jalan yg semakin aneh, dan akhirnya ane bener2 tersesat (ane bener2 nggak tau solo gan )
akhirnya ane tanya ke polisi yg lagi jaga di pinggir jalan, terus ane tanya :
ane : Maaf permisi pak, mau tanya, jalan arah ke jogja ke mana ya pak?
polisi : blablablabla (lupa penjelasan awalnya hehe), ntar mentok ada pertigaan jalan besar, belok kiri, terus luruuuus & ikutin plang ke jogja…
ane : o ya terima kasih pak…
terus ane ngikutin jalan penjelasan polisi tadi. singkat cerita, ane sampe ke pertigaan jalan besar yg dimaksud polisi tadi, ane ambil jalur paling kiri & pasang lampu sign ke kiri. baru mau belok ke kiri, tiba2 ane liat rambu dilarang belok kiri, ternyata jalan tadi satu arah ke kanan gan, ane langsung berenti & matiin lampu sign, & ane mau belok kanan (krn cuman boleh kekanan).
pas ane mau belok kanan, ada polisi lagi jaga di depan posnya & nunjuk motor ane terus nyamperin. (dalam hati ane, waduh, di tilang deh), terus terjadilah percakapan ane sama polisi tadi :
Polisi : Selamat sore, mau kemana mas?
ane : saya mau ke Jogja pak…
Polisi : bisa liat surat suratnya (tanda tanda mau ditilang, ane pasrah)
ane : ini pak (sambil ngasih SIM & STNK)
polisi : (liat2 surat ane), hmm…, maaf mas, ini jalan satu arah ke kanan & dilarang belok kiri…
ane : maaf pak, tapi saya bener2 nggak tau solo pak, saya tadi tanya jalan arah ke jogja sama pak polisi disana & katanya disini disuruh belok kiri, makanya saya siap2 belok, tapi pas liat tanda dilarang belok, saya kaget, makanya saya langsung berenti…
polisi : ooooo, sebenernya emang jalan ini jalan dari jogja, tapi kalo menuju jogja lewatnya jalan lain mas, motong lewat (pak polisi nyebut nama daerah, ane lupa), terus nembusnya nanti ke sana (nunjuk ke arah kiri) tetep di jalan ini, tapi jalurnya 2 arah…
ane : maaf pak, tapi saya nggak tau jalannya, kalo dari sini, lewatnya mana tu pak…?
Polisi : (mikir….), waduh, motongnya agak susah mas jalannya, gimana kalo saya antar…?
ane : Wah!?!?, (bingung sekaligus agak tenang, baru sekali ane ketemu polisi mau nganter), beneran pak?
Polisi : Ya beneran!!, ayo ikut saya dulu (masuk ke dalem pos)
di dalem pos, Pak polisi tadi balikin SIM & STNK ane
Polisi : yaudah, lain kali ati2 ya, tadi inisiatif kamu dah bagus, liat tanda dilarang belok kiri, langsung siap2 mau ke kanan & nggak mendadak
ane : haaa? (bengong, kok malah muji ane ya????)
Polisi : yaudah kamu ikutin saya dari belakang (sambil nyetater motor)
ane : oke pak, makasih banyak (ane langsung tenang)
ane ngikutin si bapak naik motor, gaya tu pak polisi bawa motornya agak cepet, tapi masih enak untuk diikutin. ane ngikutin tu pak polisi masuk2 jalan yg ribet, terus tau2 nembus ke jalan gede, ada pusat perbelanjaannya (Hyperm*rt kalo gak salah), terus tu Pak polisi minggir, ane berenti di sebelahnya.
Polisi : ini masnya tinggal ngikutin jalan, ntar ada bunderan kecil yg ada tugunya, belok kiri, itu dah arah Klaten Jogja. udah tau to sampe sini..?
ane : udah udah Pak, makasih banyak ya
Polisi : jangan lurus, kalo lurus ntar masnya malah sampe salatiga.
ane : oiya pak, terima kasih banyak ya pak, maaf tadi saya nggak tau kalo itu satu arah (ane sambil salam tempel ngasih duit 20000 gan sebagai tanda terima kasih)
Polisi : wah, nggak usah mas (sambil senyum & balikin duit ane), Jogja masih jauh lho mas, ini buat masnya beli bensin aja.
ane : wah , terima kasih banyak ya pak
Polisi : bawa motornya yang ati2 mas
ane : oke pak…
ane bener2 bingung campur terharu, sumpah, baik banget ni polisi, akhirnya ane lanjut perjalanan ke Jogja & Alhamdulillah sampe di rumah dengan selamat, istirahat, makan, terus bikin trit ini…
ane nggak minta cendol/bata, cuman sekedar share, semoga bisa jadi contoh buat Pak Polisi di daerah lain, ini baru namanya Polisi sejati, bener2 melindungi & mengayomi masyarakat
thanks
sumber :
http://livebeta.kaskus.co.id/thread/000000000000000008111353/perilaku-pak-polisi-solo-yang-patut-dijadikan-contoh/
Mau share pengalaman nih gan, barusan tadi sore kejadiannya, sekitar jam 5.30 PM, di Solo…
ane tadi dari Wonogiri, bermaksud pulang ke Jogja lewat solo. nah sampe di solo, ane ngikutin plang arah klaten, tapi semakin ane ikutin jalannya semakin sempit & makin rusak jalannya, waduh, kayaknya salah jalan ni (kalopun bener pasti jalan alternatif yg nggak enak dilewatin). ane tanya ke tukang bensin eceran (sekalian beli), tapi malah ditunjukin jalan yg semakin aneh, dan akhirnya ane bener2 tersesat (ane bener2 nggak tau solo gan )
akhirnya ane tanya ke polisi yg lagi jaga di pinggir jalan, terus ane tanya :
ane : Maaf permisi pak, mau tanya, jalan arah ke jogja ke mana ya pak?
polisi : blablablabla (lupa penjelasan awalnya hehe), ntar mentok ada pertigaan jalan besar, belok kiri, terus luruuuus & ikutin plang ke jogja…
ane : o ya terima kasih pak…
terus ane ngikutin jalan penjelasan polisi tadi. singkat cerita, ane sampe ke pertigaan jalan besar yg dimaksud polisi tadi, ane ambil jalur paling kiri & pasang lampu sign ke kiri. baru mau belok ke kiri, tiba2 ane liat rambu dilarang belok kiri, ternyata jalan tadi satu arah ke kanan gan, ane langsung berenti & matiin lampu sign, & ane mau belok kanan (krn cuman boleh kekanan).
pas ane mau belok kanan, ada polisi lagi jaga di depan posnya & nunjuk motor ane terus nyamperin. (dalam hati ane, waduh, di tilang deh), terus terjadilah percakapan ane sama polisi tadi :
Polisi : Selamat sore, mau kemana mas?
ane : saya mau ke Jogja pak…
Polisi : bisa liat surat suratnya (tanda tanda mau ditilang, ane pasrah)
ane : ini pak (sambil ngasih SIM & STNK)
polisi : (liat2 surat ane), hmm…, maaf mas, ini jalan satu arah ke kanan & dilarang belok kiri…
ane : maaf pak, tapi saya bener2 nggak tau solo pak, saya tadi tanya jalan arah ke jogja sama pak polisi disana & katanya disini disuruh belok kiri, makanya saya siap2 belok, tapi pas liat tanda dilarang belok, saya kaget, makanya saya langsung berenti…
polisi : ooooo, sebenernya emang jalan ini jalan dari jogja, tapi kalo menuju jogja lewatnya jalan lain mas, motong lewat (pak polisi nyebut nama daerah, ane lupa), terus nembusnya nanti ke sana (nunjuk ke arah kiri) tetep di jalan ini, tapi jalurnya 2 arah…
ane : maaf pak, tapi saya nggak tau jalannya, kalo dari sini, lewatnya mana tu pak…?
Polisi : (mikir….), waduh, motongnya agak susah mas jalannya, gimana kalo saya antar…?
ane : Wah!?!?, (bingung sekaligus agak tenang, baru sekali ane ketemu polisi mau nganter), beneran pak?
Polisi : Ya beneran!!, ayo ikut saya dulu (masuk ke dalem pos)
di dalem pos, Pak polisi tadi balikin SIM & STNK ane
Polisi : yaudah, lain kali ati2 ya, tadi inisiatif kamu dah bagus, liat tanda dilarang belok kiri, langsung siap2 mau ke kanan & nggak mendadak
ane : haaa? (bengong, kok malah muji ane ya????)
Polisi : yaudah kamu ikutin saya dari belakang (sambil nyetater motor)
ane : oke pak, makasih banyak (ane langsung tenang)
ane ngikutin si bapak naik motor, gaya tu pak polisi bawa motornya agak cepet, tapi masih enak untuk diikutin. ane ngikutin tu pak polisi masuk2 jalan yg ribet, terus tau2 nembus ke jalan gede, ada pusat perbelanjaannya (Hyperm*rt kalo gak salah), terus tu Pak polisi minggir, ane berenti di sebelahnya.
Polisi : ini masnya tinggal ngikutin jalan, ntar ada bunderan kecil yg ada tugunya, belok kiri, itu dah arah Klaten Jogja. udah tau to sampe sini..?
ane : udah udah Pak, makasih banyak ya
Polisi : jangan lurus, kalo lurus ntar masnya malah sampe salatiga.
ane : oiya pak, terima kasih banyak ya pak, maaf tadi saya nggak tau kalo itu satu arah (ane sambil salam tempel ngasih duit 20000 gan sebagai tanda terima kasih)
Polisi : wah, nggak usah mas (sambil senyum & balikin duit ane), Jogja masih jauh lho mas, ini buat masnya beli bensin aja.
ane : wah , terima kasih banyak ya pak
Polisi : bawa motornya yang ati2 mas
ane : oke pak…
ane bener2 bingung campur terharu, sumpah, baik banget ni polisi, akhirnya ane lanjut perjalanan ke Jogja & Alhamdulillah sampe di rumah dengan selamat, istirahat, makan, terus bikin trit ini…
ane nggak minta cendol/bata, cuman sekedar share, semoga bisa jadi contoh buat Pak Polisi di daerah lain, ini baru namanya Polisi sejati, bener2 melindungi & mengayomi masyarakat
thanks
sumber :
http://livebeta.kaskus.co.id/thread/000000000000000008111353/perilaku-pak-polisi-solo-yang-patut-dijadikan-contoh/
Minggu, 17 Februari 2013
Truck Brimob di Tengah Tsunami
Gempa bumi disertai gelombang pasang (Tsunami) yang terjadi di penghujung tahun 2004 silam telah menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri langka, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand. Korban paling banyak tentunya diderita oleh Indonesia
Di tengah terjangan tsunami tersebut ada kisah heroik pengorbanan pasukan Brimob untuk menyelamatkan warga di tengah tsunami. Cerita ini penulis dengar langsung dari anggota brimob saat ngobrol santai di lapangan tembak Brimob Polda Kalsel. Sayangnya penulis tidak sempat bertanya siapa nama beliau.
Saat itu beliau di tugaskan dalam misi keamanan di Aceh bersama rekan-rekan beliau yang lain. Satu pasukan Brimob tersebut tengah bertugas di markas Brimob tiba-tiba terjadi gempa. pasukan tersebut mengetahui bahwa setelah gempa tersebut usai akan ada terjangan tsunami sehingga dengan sigap melakukan evakuasi markas. Truk pengangkut sudah dinyalakan dan siap berangkat. Masyarakat di sekitar markas banyak yang meminta pertolongan untuk ikut sehingga truk-truk tersebut tidak kunjung berangkat hingga masyarakat dapat terangkut semua.
Namun, evakuasi tersebut tidak berjalan mulus, evakuasi kalah cepat dengan terjangan tsunami sehingga truk-truk brimob beserta pasukan brimob dan masyarakat di dalamnya dengan cepat tersapu tsunami. Anggota brimob yang menceritakan cerita inipun ikut hanyut terbawa tsunami. Di tengah hidup dan mati beliau berhasil meraih sebuah pohon dan bertahan di sana hingga tsunami reda.
Beliau berhasil bertahan hidup dalam bencana alam tersebut namun banyak rekan-rekan beliau yang meninggal dunia ditelan bencana. Akan tetapi, yang menjadi kebanggaan adalah bahwa walaupun mereka meninggal namun mereka meninggal ditengah usaha menyelamatkan masyarakat dari bencana. hal ini sesuai dengan semboyan Brimob yang berbunyi, "JIWA RAGAKU UNTUK KEMANUSIAAN".
Di tengah terjangan tsunami tersebut ada kisah heroik pengorbanan pasukan Brimob untuk menyelamatkan warga di tengah tsunami. Cerita ini penulis dengar langsung dari anggota brimob saat ngobrol santai di lapangan tembak Brimob Polda Kalsel. Sayangnya penulis tidak sempat bertanya siapa nama beliau.
Saat itu beliau di tugaskan dalam misi keamanan di Aceh bersama rekan-rekan beliau yang lain. Satu pasukan Brimob tersebut tengah bertugas di markas Brimob tiba-tiba terjadi gempa. pasukan tersebut mengetahui bahwa setelah gempa tersebut usai akan ada terjangan tsunami sehingga dengan sigap melakukan evakuasi markas. Truk pengangkut sudah dinyalakan dan siap berangkat. Masyarakat di sekitar markas banyak yang meminta pertolongan untuk ikut sehingga truk-truk tersebut tidak kunjung berangkat hingga masyarakat dapat terangkut semua.
Namun, evakuasi tersebut tidak berjalan mulus, evakuasi kalah cepat dengan terjangan tsunami sehingga truk-truk brimob beserta pasukan brimob dan masyarakat di dalamnya dengan cepat tersapu tsunami. Anggota brimob yang menceritakan cerita inipun ikut hanyut terbawa tsunami. Di tengah hidup dan mati beliau berhasil meraih sebuah pohon dan bertahan di sana hingga tsunami reda.
Beliau berhasil bertahan hidup dalam bencana alam tersebut namun banyak rekan-rekan beliau yang meninggal dunia ditelan bencana. Akan tetapi, yang menjadi kebanggaan adalah bahwa walaupun mereka meninggal namun mereka meninggal ditengah usaha menyelamatkan masyarakat dari bencana. hal ini sesuai dengan semboyan Brimob yang berbunyi, "JIWA RAGAKU UNTUK KEMANUSIAAN".
Langganan:
Postingan (Atom)


