Malam itu, Rabu, 10 Desember 2008 terdengar isyarat berupa teriakan-terikan histeris dari atas gunung oleh masyarakat dengan panah siap diluncurkan. Ada Kejadian di Pegunungan Bintang Papua, puluhan massa datang ke Polres untuk meminta kejelasan atas penemuan jenasah (kerangka) yang diduga kepala suku mereka yang telah hilang satu tahun yang lalu.
Keesokan paginya Kamis, 11 Desember 2008 dengan ditemani Kapolres Pegunungan Bintang, Perawat Suudin, tim reskrim dan ident dari Polda Papua berangkat dari bandara Sentani dengan pesawat Sky Treck milik Polri.
“YAKMUM” (dalam agama Islam Assalamu’alaikum) demikian Kapolres membuka orasi singkat sebelum dilakukan proses identifikasi, “….. kami beserta tim dari Polda Papua akan membantu membuktikan siapa sebenarnya kerangka ini…. Jadi tolong masyarakat tetap tenang dan mendukung ….”.
Perwakilan dari masyarakat juga angkat bicara “Kami masyarakat Pegunungan Bintang ingin mendapat kejelasan siapa sebenarnya jenasah (kerangka) ini, dari giginya yang hilang ini adalah Bapak kepala suku kami…. Kami menuntut kejelasan, kalau tidak kami siap perang…”.
Wah bisa kacau ini, dengan Bismillah kami turun ke TKP, proses demi proses kami lewati dengan serius dan berusaha tampil se-ilmiah mungkin, mulai dari pengambilan gambar, sketsa, label, kantong jenasah, sampai fase kedua kami lakukan di depan umum karena tuntutan situasi. Mencuci kerangka yang masih berulat, mencatat, mengukur sampai fase ketiga kami Tanya jawab dengan anggota masyarakat yang kehilangan anggota keluarga.
Ternyata melakukan proses identifikasi di depan umum membawa hasil, masyarakat merasa kagum dengan tahapan identifikasi, apalagi karena kesan menghormati jenasah sangat ditonjolkan. Alhamdulillah jenasah bisa diidentifikasi, dengan bantuan dari keluarga dan teman dekat korban yang menyatakan property yang ada di sekitar jenasah serta perhiasan yang dipakai (gelang kaki, gelang tangan, kaos, rokok, celana) menunjukkan milik kerangka yang ditemukan.
Kapolres akhirnya mengumumkan hasil yang dicapai bahwa jenasah bukanlah kepala suku mereka, masyarakat bisa menerima dengan ikhlas, melan-pelan mereka menurunkan panah dan tombak tanda perdamaian, Pemda mendukung dengan memberikan bantuan kepada keluarga korban. Akhirnya ketenangan kambali ke pegunungan Bintang.
Ingin rasanya kembali ke Jayapura setelah menyelesaikan tugas, akan tetapi kabut membuat penerbangan tidak bisa dilakukan. Akhirnya dengan Kepuasan tersendiri kami bisa tertidur pulas dalam dinginnya udara Pegunungan Bintang.
SUMBER :
Majalah Dokpol
Seorang pria pergi ke kantor Polisi dengan tujuan ingin menemui pencuri yang semalam masuk ke rumahnya yang berniat untuk mencuri
“Oh tidak boleh … Kau akan dapat kesempatan berbicara dengan dia di pengadilan … tenanglah jangan emosi.” Kata Polisi yang bertugas saat itu.
“Oh, tidak, tidak …!” kata pria tersebut.”Aku ingin menemuinya hanya ingin sekedar bertanya, bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumahku tanpa membangunkan istriku? Padahal aku sudah mencoba hal itu selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah berhasil.
Polisi bukan dewa. Sebagaimana orang lain, mereka juga manusia yang memiliki rasa dan jiwa. Bukan pula Robocop atau superman yang serba bisa, sebab mereka pun membutuhkan orang lain untuk menjalani hidup. Inilah sebagian kisah tentang kehidupan Polisi. Ada yang seharusnya dicontoh, ada pula yang tak semestinya ditiru.
SUMBER :
Machdum Sakti Nomor 6 Tahun XIV – Juni 2010
www.machdumsakti.com

Sungguh anugerah tak ternilai didapatkan Ratih Wijaya, salah satu Bhayangkari Korbrimob Polri yang baru saja melahirkan anak kedua berjenis kelamin perempuan tanpa hambatan. Namun dibalik rasa bahagia, dirinya harus melahirkan tanpa didampingi oleh suami yang beberapa jam sebelumnya harus berangkat tugas dalam misi perdamaian PBB di Sudan.
Ditinggal dalam tugas sudah dialaminya sejak belum resmi menjadi isteri Brimob. Selama pacaran saja sudah sering ditinggal tugas ke Aceh, Poso bahkan mau nikahpun harus ditinggal tugas pengawalan selama berbulan-bulan. Itulah resiko isteri seorang anggota Brimob pasti sering ditinggal tugas. Hal ini sudah diketahui karena kebetulan ayahnya juga mantan anggota Brimob.
Ratih Wijaya SH, istri Briptu Mohamad Ramadan ini sudah mengetahui akan keberangkatan suaminya dalam penugasan FPU I pengganti sejak usia kandungannya enam bulan. Bahkan sebelum berangkat tugas untuk FPU I pengganti, suaminya sudah bergabung dalam FPU I bahkan sudah mengikuti pelatihan karena saat itu Ratih sedang hamil anak yang pertama maka suaminya hanya sebagai cadangan dan akhirnya tidak berangkat.
Sedangkan pada FPU I pengganti, kebetulan Ratih juga sedang hamil anak yang kedua. Karena merasa sudah hamil besar maka untuk sementara waktu dia ke mertua sehingga perlu banyak pengawasan. Namun karena pada FPU pengganti ini persiapannya cukup singkat termasuk waktu latihan pra ops, maka menjelang keberangkatan dirinya diminta suami pulang ke rumah agar dapat membantu mencarikan barang untuk keperluan yang dibawa tugas nanti.
Akhirnya dengan perut besarnya dia nekat pergi ke pasar untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan suaminya dengan naik ojeg dan tukang ojeg tersebut juga diminta bantuannya membawa barang-barang yang dibeli. Hal ini dilakukan karena suaminya pada saat itu masih sibuk dengan latihan.
Mengingat semangat suami untuk berangkat tugas, dirinya hanya berpesan kepada suami, “Kalau sudah niat berangkat agar anak isteri jangan dijadikan beban” tuturnya. Terus terang dirinya merelakan suaminya berangkat tugas FPU I pengganti meski sedang hamil besar karena dilihat dari sisi pengalaman tugas mungkin bisa membantu karier meskipun saat melepas suami pergi tugas sudah merasakan mulas hendak melahirkan.
Sebetulnya dengan keberangkatan ini dirinya juga sempat berpikir kalau ditinggal nantinya bagaimana?. Tapi oleh ibunya yang juga seorang isteri pasukan menasehati bahwa kalau pasukan itu hanya dari segi kariernya dia bisa maju,”Jadi apa yang membuat suami maju dalam berkarir harus didukung”, itulah pesannya.
SUMBER :
Majalah teratai
Edisi khusus – 14 Nopember 2009
Ketangkap basah menggondol mobil orang, Sahuri berlagak tak waras. Aktingnya lumayanlah, Ngomong-nya melantur, meja penyidik pun ia gedor. Kursi ikut ditendang. Brak! Bruk! Polisi sempat kaget dibuatnya.
Kalau Pak Polisi emosional, mungkin ia sudah kena tinju. Sahuri, 30 tahun, digelandang ke Kepolsian Resor bojonegoro, Jawa Timur, sejak Kamis dua pekan silam. Lajang itu menjadi tersangka nyolong mobil Toyota avanza.
Menurut Polisi, sahuri merupakan anggota komplotan pencuri mobil di wilayah Bojonegoro yang masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) Polisi. Nah, saat disidik, mendadak warga Sumberrejo, Bojonegoro, ini berakting bak orang gila. Mula-mula ia ngoceh tak karuan.
Pandangannya berlagak kosong. Ketika penyidik menanyakan materi pemeriksaan, jawaban Sahuri jauh melenceng. Ibaratnya, orang nanya A dijawab Z, gak nyambung.
“Kami Tanya bagaimana caranya mencuri (mobil), eh, dia menjawab, sawah saya mau panen, saya mau pulang,” tutur seorang penyidik. Meski sempat keheranan sekaligus kegelian, petugas tak percaya begitu saja.”Ah, dia pura-pura saja begitu,” celetuk penyidik yang lain.
Sahuri tak putus asa. Bukannya sadar dan malu, tetapi malah memperhebat aktingnya. Tiba-tiba saja tangan dan kakinya menghajar meja-kursi pemeriksaan. Keruan saja, ruang penyidik gaduh.”Gayanya seperti orang gila betulan,” penyidik tadi menambahkan.
Penyidik terhenti sesaat. Dua anggota Polisi berusaha menenangkan tersangka yang gila dadakan ini. Setelah kondisi tenang, pemeriksaan dilanjutkan. Identitas tersangka diperiksa lebih teliti.
Ternyata Sahuri memiliki SIM, KTP dan kartu ikatan alumni sebuah perguruan tinggi swasta di Jawa Timur. Polisi mencecar Sahuri soal kartu identitas tadi. “Kalau gila, mana kau punya kartu ini,” begitu ujar penyidik. Sahuripun terpojok. Berakhirlah akting sintingnya.
Kepada penyidik, Sahuri mengaku tindakannya itu ditirunya dari sikap pejabat yang mendadak sakit ketika menjalani pemeriksaan atas kasus korupsi. Biasanya, pemeriksaannya ditangguhkan, atau penahannya dibantar. Dengan berlagak gila, Sahuri berharap kasusnya bisa dibatalkan sekalian. Owalah.....!
SUMBER :
Majalah Gatra
Oleh Arif Sujatmiko
Pada jaman orde baru, seorang petinggi Polisi merekomendasikan anaknya, Heri, yang sudah lulus sarjana untuk menjadi anggota Polisi. Perwira yang menerima rekomendasi itu kelabakan, karena kualitas Heri ternyata setingkat anak TK. Si perwira pun lalu mengajukan pertanyaan ringan saja, “ Tahukah anda apa nama jabatan pimpinan Polisi di tingkat Kabupaten?” Heri kebingungan menjawabnya. “Jangan kuatir,” Kata si perwira dengan bijaksana, “Besok saja anda dating lagi ke sini dengan jawabannya, ya ….! Jangan lupa salam saya untuk Bapak”.
Malam harinya, ketika Heri sudah menemukan jawabannya, sang ayah menanyakan kabarnya, “Bagaimana ? sudah lulus jadi Polisi?”. “Bukan lulus lagi pak,“ jawab Heri,”Saat ini saya bahkan sedang dipersiapkan jadi seorang Kapolres.”
SUMBER :
Majalah Bhayangkara Polda Jatim
Edisi I Februari 2010
Alkisah ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli. Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.
Petani itu merasa tak sabar dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang Perwira Polisi. Polisi itu mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, “Saya bisa saja menangkap pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi anda akan kehilangan seorang tetangga yang sebenarnya bisa jadi teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”
Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.
Baik, saya akan menawari anda sebuah solusi yang mana anda bisa menjaga domba-domba anda supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga anda tetap sebagai teman” kata Polisi. Mendengar solusi pak Polisi, petani itu setuju.
Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi yang ditawarkan pak Polisi. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.
Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng semua anjingnya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah mengganggu domba-domba pak tani, sebagai ucapan terimakasihnya kepada kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani. Sebagai balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman baik.
SUMBER :
JAGRATARA The Police Magazine Edisi 55
Agustus 2010