Jumat, 28 Januari 2011

Tugas Pertama Sebagai Polisi


Seorang calon polisi sedang menjalankan tugas pertamanya dalam mobil polisi dengan seniornya yang sudah berpengalaman.

Sebuah panggilan meminta mereka untuk membubarkan beberapa orang yang mondar-mandir di jalan. Polisi itu segera menuju ke jalan yang dimaksud.

Di sebuah sudut jalan terlihat sebuah kerumunan kecil. Calon polisi itu membuka jendelanya dan berkata, “Ayo bubar, bubar.”

Beberapa orang memandang saja, tetapi tak seorang pun bergerak, lalu ia berteriak lagi dengan suara yang lebih keras dan digalak-galakkan, “Ayo cepat bubar… sekarang!!!!”

Karena merasa terancam, kumpulan orang itu mulai bubar, sambil melihatnya dan bertanya-tanya dalam hati.

Bangga dengan tindakannya, polisi muda itu menoleh pada seniornya dan berkata, “Bagaimana bang aksiku tadi?”

“Hebat!!!” kata seniornya, “Baru pertama kali ini aku melihat seorang Polisi membubarkan orang-orang yang sedang menunggu bis di halte!”


SUMBER :
http://www.malau.net/

Selasa, 25 Januari 2011

Ketika Kita Harus Menghargai Polisi

“Saya tidak punya saudara Polisi, bukan pula anak Polisi apalagi seorang Polisi.. Saya hanya ingin melihat sisi lain dari Polisi..”

Beberapa hari yang lalu saya berencana men
gadakan buka puasa bareng dengan teman-teman yang sudah cukup lama tidak ketemu. Meskipun saya “tidak berpuasa”, tetapi tentu tidak ada salahnya ikut dalam acara tersebut.

Berangkat dari kantor menuju lokasi bukber (buka bersama red.) yang berlokasi di Jl. Thamrin tentu harus dilakukan dengan bergegas, karena seperti biasa, Jakarta pasti dihinggapi kemacetan yang luar biasa. Apalagi di bulan Ramadhan, tentu semua orang ingin pulang cepat, semua orang ingin berbuka puasa dirumah.

Hari itu Jakarta dilanda hujan yang lumayan deras, dan hal ini tentu saja membuat Jakarta semakin macet. Dimana-mana terjadi stagnasi kendaraan. Tentu bagi orang yang berpuasa ini merupakan tantangan berat. Disamping lapar dan haus, kemacetan yang luar biasa membuat pikiran sumpek ditambah kekhawatiran (kepasrahan lebih tepatnya) tidak bisa berbuka bersama keluarga yang disayangi.

Integritas seorang Polisi

Memandang dari kaca jendela bus kota, saya melihat sesosok manusia yang dari uniformnya sudah sangat dikenal di negara ini sedang sibuk dan tidak kenal lelah tetap meniup peluitnya untuk mengatur kendaraan yang sudah tidak terkendali. Ya benar, manusia itu adalah seorang Polisi Lalu Lintas.

Hati saya langsung terenyuh melihat kegigihan beliau untuk tetap stay dibawah hujan yang sudah mulai reda demi lancarnya perjalanan orang-orang yang ingin melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing. Entah kenapa saya meyakini bahwa beliau juga seorang muslim, yang kemungkinan besar juga sedang berpuasa. Ketika orang duduk enak didalam mobil yang ber-AC ditemani dengan ta’jil yang banyak, Pak Polisi tersebut tetap sabar mengatur lalu lintas yang terlanjur macet. Jika beliau sedang berpuasa, saya yakin beliau juga merasakan lapar dan haus seperti orang berpuasa lainnya. Saya juga meyakini, Pak Polisi itu juga tentu ingin berbuka puasa dirumah bersama isteri dan anak yang disayangi.

Segala asap yang sudah bercampur baur rela untuk dihirup karena tidak memungkinkan memakai masker sembari meniup peluit/semprit. Celana yang sudah agak basah tentu saja bisa membuat masuk angin apalagi disebabkan oleh perut kosong karena puasa. Di sisi lain, Asuransi kesehatan yang diberikan negara tentu sangat tidak cukup untuk mengcover apabila beliau sakit. Apalagi mengurus asuransi untuk pegawai yang berbelit-belit di Rumah Sakit dan kompensasi yang tidak maksimal (karena pemegang Askes seringkali dianggap sebagai “pasien anak tiri”) tentu tidak sebanding dengan pengorbanan yang diberikan oleh beliau.

Objektivitas

Melihat semua itu saya berfikir, bahwa ada Polisi-Polisi lain yang rela tidak berlebaran demi mengatur lancarnya arus mudik. Ada Polisi-Polisi lain yang melihat orang lain berlebaran, sementara dirinya masih di jalan dan meninggalkan anak isteri yang berlebaran tanpa kehadiran mereka.

Saya memang termasuk orang yang ikut melakukan kritik keras terhadap Polisi. Apalagi melihat berita-berita yang ditayangkan di berbagai media. Tetapi saya juga harus menjaga objektivitas saya dengan mengatakan salut kepada Polisi-Polisi yang masih memiliki integritas dan loyalitas tidak saja kepada institusi dan negara, tetapi juga kepada Tuhan.

Terlepas dari kejadian-kejadian yang tidak enak yang mungkin dialami oleh saya dan teman-teman dengan Polisi Lalu Lintas, saya mengapresiasi loyalitas Pak Polisi itu. Dan ketika menyadari ini semua, saya meyakini bahwa “Harapan untuk menjadikan Polisi sebagai institusi yang berwibawa itu masih ada.” Saya yakin bahwa Kepolisian mampu untuk berwibawa karena bersih, berwibawa karena Jujur dan berwibawa karena Tegas!!

Ketika saya berhasil melewati kemacetan lalu lintas, dan bertemu dengan teman-teman sambil berbuka puasa menikmati hidangan yang menggugah selera, dari kaca gedung yang tinggi itu, saya melihat kebawah dimana ada Pak Polisi yang lain masih sibuk mengatur lalu lintas.
Berbuka duluan ya Pak… (padahal ga puasa..)

Salam hangat buat Pak Polisi di perempatan Palmerah dan Sarinah yang saya lihat pada 24 Agustus 2010 antara jam 16.00 - 18.30 WIB.

Regards

-Ricky Saragih-


SUMBER :

http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/26/ketika-kita-harus-menghargai-polisi/


Rabu, 08 Desember 2010

Surat Kelakuan Baik


Denny ditangkap Polisi karena mencuri tape mobil. Inilah dialog ketika ia diperiksa di kantor Polisi.

“Den, kenapa kamu mencuri?” Tanya petugas.

”Habis, saya terpaksa Pak,” jawab Denny tanpa perasaan bersalah.

”Jawaban klasik!” hardik Polisi, ”terpaksa bagaimana?”

”Iya, Pak. Berani disambar gledek kalau saya bohong Pak. Begini ceritanya. Sya tuh sebenarnya mau cari kantor Polisi, tapi nggak ketemu-ketemu. Tanya ke orang-orang, juga nggak ada yang tahu. Tapi saya nggak kehilangan akal, Pak. Saya malingin aja tape mobil, dan... akhirnya saya sampai juga kan di kantor Polisi.

Antara percaya dan tidak, si petugas pun lalu bertanya,”Memangnya kamu mau apa cari-cari kantor Polisi?”.

“Mau buat Surat Kelakuan Baik untuk tes Polisi, Pak.”

Minggu, 14 November 2010

Mendapat Hadiah 10 Juta Rupiah


Seorang polisi menyetop mobil yang sedang dikendarai Paijo. Polisi itu bilang bahwa sehubungan dengan kampanye hari Keselamatan Di Jalan Raya, Paijo mendapat hadiah uang tunai 10 juta rupiah. Itu karena Paijo mengenakan sabuk pengaman.


Paijo hampir-hampir tak percaya dengan keberuntungan ini.

“Ngomong-ngomong uangnya mau diapain nih?”, tanya pak Polisi tersebut.

“Hmmm….kayaknya akan saya pakai buat bikin SIM, Pak!”, jawab Paijo.

“Jangan dengarkan omongan dia, Pak!”, sela Sarimin, teman Paijo yang duduk di sebelahnya, “Dia suka ngaco ngomongnya kalau lagi teler.”

Udin yang tidur di kursi belakang kemudian terbangun, yang ketika melihat pak Polisi langsung berkata, “Benar kan kata saya, mobil curian kayak gini pasti dikenali polisi.”

Saat itu juga terdengar ketukan dari bagasi belakang, disusul suara Prapto yang berteriak, “Hei, kita udah berhasil lewat perbatasan belum? Ganjanya bikin sesak nafas nih!”

Pak Polisi tiba-tiba jatuh pingsan.


SUMBER :
http://www.malau.net/

Kamis, 04 November 2010

Meredam Perang di Pegunungan Bintang


Malam itu, Rabu, 10 Desember 2008 terdengar isyarat berupa teriakan-terikan histeris dari atas gunung oleh masyarakat dengan panah siap diluncurkan. Ada Kejadian di Pegunungan Bintang Papua, puluhan massa datang ke Polres untuk meminta kejelasan atas penemuan jenasah (kerangka) yang diduga kepala suku mereka yang telah hilang satu tahun yang lalu.

Keesokan paginya Kamis, 11 Desember 2008 dengan ditemani Kapolres Pegunungan Bintang, Perawat Suudin, tim reskrim dan ident dari Polda Papua berangkat dari bandara Sentani dengan pesawat Sky Treck milik Polri.

“YAKMUM” (dalam agama Islam Assalamu’alaikum) demikian Kapolres membuka orasi singkat sebelum dilakukan proses identifikasi, “….. kami beserta tim dari Polda Papua akan membantu membuktikan siapa sebenarnya kerangka ini…. Jadi tolong masyarakat tetap tenang dan mendukung ….”.

Perwakilan dari masyarakat juga angkat bicara “Kami masyarakat Pegunungan Bintang ingin mendapat kejelasan siapa sebenarnya jenasah (kerangka) ini, dari giginya yang hilang ini adalah Bapak kepala suku kami…. Kami menuntut kejelasan, kalau tidak kami siap perang…”.

Wah bisa kacau ini, dengan Bismillah kami turun ke TKP, proses demi proses kami lewati dengan serius dan berusaha tampil se-ilmiah mungkin, mulai dari pengambilan gambar, sketsa, label, kantong jenasah, sampai fase kedua kami lakukan di depan umum karena tuntutan situasi. Mencuci kerangka yang masih berulat, mencatat, mengukur sampai fase ketiga kami Tanya jawab dengan anggota masyarakat yang kehilangan anggota keluarga.

Ternyata melakukan proses identifikasi di depan umum membawa hasil, masyarakat merasa kagum dengan tahapan identifikasi, apalagi karena kesan menghormati jenasah sangat ditonjolkan. Alhamdulillah jenasah bisa diidentifikasi, dengan bantuan dari keluarga dan teman dekat korban yang menyatakan property yang ada di sekitar jenasah serta perhiasan yang dipakai (gelang kaki, gelang tangan, kaos, rokok, celana) menunjukkan milik kerangka yang ditemukan.

Kapolres akhirnya mengumumkan hasil yang dicapai bahwa jenasah bukanlah kepala suku mereka, masyarakat bisa menerima dengan ikhlas, melan-pelan mereka menurunkan panah dan tombak tanda perdamaian, Pemda mendukung dengan memberikan bantuan kepada keluarga korban. Akhirnya ketenangan kambali ke pegunungan Bintang.

Ingin rasanya kembali ke Jayapura setelah menyelesaikan tugas, akan tetapi kabut membuat penerbangan tidak bisa dilakukan. Akhirnya dengan Kepuasan tersendiri kami bisa tertidur pulas dalam dinginnya udara Pegunungan Bintang.


SUMBER :
Majalah Dokpol

Rabu, 03 November 2010

Pencuri

Seorang pria pergi ke kantor Polisi dengan tujuan ingin menemui pencuri yang semalam masuk ke rumahnya yang berniat untuk mencuri

“Oh tidak boleh … Kau akan dapat kesempatan berbicara dengan dia di pengadilan … tenanglah jangan emosi.” Kata Polisi yang bertugas saat itu.

“Oh, tidak, tidak …!” kata pria tersebut.”Aku ingin menemuinya hanya ingin sekedar bertanya, bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumahku tanpa membangunkan istriku? Padahal aku sudah mencoba hal itu selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah berhasil.

Senin, 01 November 2010

Polisi Juga Manusia

Polisi bukan dewa. Sebagaimana orang lain, mereka juga manusia yang memiliki rasa dan jiwa. Bukan pula Robocop atau superman yang serba bisa, sebab mereka pun membutuhkan orang lain untuk menjalani hidup. Inilah sebagian kisah tentang kehidupan Polisi. Ada yang seharusnya dicontoh, ada pula yang tak semestinya ditiru.


SUMBER :
Machdum Sakti Nomor 6 Tahun XIV – Juni 2010
www.machdumsakti.com