Kamis, 17 Oktober 2013

Polisi yang "disegani" Bukan "ditakuti"


Sama halnya dengan guru dalam pandangan siswa, ada yang didambakan kehadirannya dan ada guru yang sangat tak diharapkan kedatangannya. Guru yang didambakan biasanya guru yang disegani oleh para siswa.

Begitu pula Polisi dalam pandangan masyarakat terutama pengguna jalan. Kita sebagai pengguna jalan cenderung "takut" pada Polisi bila melanggar aturan.

Tapi yang saya temukan faktanya, ada seorang Polisi yang bukan 'Plantas' sangat disegani para pengguna jalan yang melewati depan pasar Induk Cibitung, Bekasi. "Pak Putu" nama yang sangat familiar di telinga supir angkot. Beliau benar-benar turun ke jalan untuk menertibkan jalan walau bukan Polantas. Sikapnya yang tegas terhadap pengguna jalan yang melanggar lalu lintas sangat berbeda dengan kebanyakan Polisi yang saya jumpai. Pernah suatu ketika dia mengusap kepala pelajar SMA yang tidak menggunakan helm. Yang lebih ekstrim lagi dia pernah memegangi kemudi sebuah motor yang memaksa melaju padahal sedang ditahan untuk memberikan kesempatan pada lajur lainnya. Angkot pun tak ada yang "ngetem" bila dia ada disana. ya... teman-teman Pak Putu yang bertugas di depan Pasar Induk pun bertindak hampir sama. Kada ada supir kendaraan besar yang mencoba memberikan sejumlah uang karena telah melanggar ketertiban, tapi Pak Polisi menolaknya.

Semoga "Pak Polisi" lainnya bisa meneladani sikap Pak Polisi di atas, bahwa menjadi yang disegani jauh lebih indah dan mulia.

Oleh Tati Wartati

diambil dari situs :http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/01/15/polisi-yang-disegani-bukan-ditakuti-430670.html

Selasa, 15 Oktober 2013

Penjaga Toko Buku Dan Intel Polisi

Ada cerita menarik yang ditulis oleh seorang penjaga toko buku di blognya http://zenrustam.blogspot.com. Dia menulis bahwa bahkan sebagai seorang Polisi tidak menjadi halangan dalam mempelajari agama Islam. Inilah cerita faktual dari Al Akh Gugus Gustian :

"Ana izin bercerita sedikit, waktu itu malam hari, ana lupa tepatnya kapan, seperti hari biasa, ana menjaga toko buku dan herbal yg bertempat di jantung ibukota…



Semakin malam, pembeli semakin sepi, lantas datang seorang bapak berpakaian rapih, beliau menanyakan kepada kami (penjaga toko) mengenai kitab Syarah Riyadhus Sholihin yg di bahas di Rod...ja oleh Ust Badrusalam, ana kasih pilihan, beliau mau yg di syarah oleh Syaikh Salim bin Ied Al Hilaly atau yg di syarah oleh Syaikh Utsaimin -rahimahullah-

Dia lupa, seketika itu juga dia mengambil HP-nya, dan berkata “Sebentar ana telpon Ust. Badru dulu (kurang lebihnya seperti ini perkataan dia, ana lupa tepatnya)”, langsung dia telpon dan terhubung dan berbicara ke Ust. Badru, singkatnya Ust. Badru memberi pernyataan kalau yg ia bahas itu ialah yg di syarah oleh Syaikh Aalim bin Ied Al Hilaly.

Ya sudah, ana ambilkan kitab tersebut yg ia pesan, ana penasaran, bagaimana ia bisa memiliki nomer telpon Ust. Badru, dan punya akses ke beliau langsung

Setelah ana tanyakan siapa bapak tersebut dan apa pekerjaannya, bagaimana bisa dia seperti itu, dia menjawab dan sambil bercerita..

“Saya anggota kepolisian di bidang reserse dan intelejen, waktu Syaikh Abdurrazaq datang ke Indonesia yg dulu, saya yg mengawal langung beliau –hafidzahullah-, saya bertanya ke pada Syaikh (dan ada bersama saya ust. Badrusalam sebagai penerjemah): "Syaikh apakah boleh jika pemerintah membuat hukum yg tidak ada di dalam al Qur’an dan Sunnah?, seperti lampu merah, menggunakan helm dan lain-lain?"

lalu Syaikh menjawab:
“Boleh jika pemerintah tidak menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah, seperti jika pemerintah memerintahkan untuk berhenti saat lampu merah, maka hal itu bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat, karena jika tidak ada, maka akan bisa menyebaban kecelakaan, dan seperti halnya helm, jika pemerintah tidak memerintahkan untuk tidak memakai helm, maka ini pun akan memudharatkan masyarakatnya, namun ketika pemertintah memberi peraturan yg dapat menggadaikan aqidah kita, seperti mewajibkan merayakan hari raya selain umat islam, maka tidak boleh di ikuti dan jangan dituruti”,

(bapak polisi tadi juga bercerita) :
"Saat saya mau salaman lantas mencium tangan Syaikh, Syaikh dengan cepat menarik tangannya agar tidak dicium oleh saya, saya bertanya ke ust. Badru, mengapa ko syeikh seperti itu, ust. Badru berkata, Syaikh ingin dihormati seperti manusia lainnya, tidak berlebihan, karena Nabi saja tidak ingin dihormati secara berlebihan oleh para sahabatnya".

Pak polisi tadi bilang, beda sama ulama atau kiai di Indonesia, mereka malah menyodorkan tangan ke jama’ahnya untuk menyiumnya.. (ana dan dia juga lainnya sambil tertawa kecil saat pak polisi itu bercerita hal tersebut)

subhanallah!! Wal hamdulillah… begitu arif dan bijaksananya dakwah yg haq ini, ana sampai kaget, karena dia adalah anggota reserse dan intelejen, subhanallah… ini menjadi pukulan keras bagi mereka yg mengganggap dakwah ini adalah WAHABI dan menganggap dakwah ini dengan sebutan TERORRIS,

Pak polisi tadi juga ternyata punya nomer telpon ust. Firanda dan ust. Zainal, dan mungkin punya akses langsung juga ke mereka, subhanallah…

Semoga Allah memudahkan dakwah ini masuk keseluruh pelosok di negeri yg kita cintai ini..

Sekian, pengalaman yg ana ingat, ana memohon ampun kepada Allah bila apa yg ana tuliskan ini memiliki kesalahan, karena mengingat hafalan ana yg kurang baik, ana pun lupa nama bapak polisi tadi, namun ia sempat memberi kartu nama, yg ia berikan ke bos kami, dan ia berkata, "kalau bapak (bos kami) memiliki kesulitan dalam hukum Negara, bapak bisa telpon ke saya.."


SUMBER :
http://zenrustam.blogspot.com/2012/02/cerita-unik-pengalaman-seorang-penjaga.html 
Diposkan oleh Jay pada Hari Rabu tanggal 12 Februari 2012 

Selasa, 10 September 2013

Perkelahian 2 Ibu Muda

"Lapor, pak....! ada dua ibu-ibu muda yang sedang berkelahi di lapangan yang becek. Sudah setengah jam mereka saling mencakar, sampai-sampai baju keduanya robek dan nyaris telanjang".

"Kenapa baru melapor sekarang?" Kata Polisi.

"Soalnya badan mereka sekarang sudah tertutup lumpur, pak!"....*^%$#@ XD 

Selasa, 06 Agustus 2013

Bhayangkari Pendiri Paud dan TK


Berawal dari mengajar kursus anak-anak, ibu Eli (37 th) istri dari Bripka Pol Saifudin (BA Polsek Telanaipura), mengawali kariernya sebagai pendiri  sekolah Paud dan TK Junior di Puri Masurai Jambi Selatan.


Eli terlihat sedang mengajar anak-anak di tempatnya mengajar, terlihat suasana dan ruangan yang dibikin sedemikian rupa untuk membuat suasana belajar dan mengajar untuk anak-anak usia dini. Disana terdapat gambar-gambar kartun, poster-poster abjad dan angka serta perlengkapan mengajar lainnya. Tidak lupa juga terdapat rak buku buat anak-anak mengumpulkan buku hasil pekerjaannya hari itu.


Ibu Eli menceritakan pekerjaan ini berawal waktu dulu dia mengajar kursus bahasa Inggris utnuk anak-anak sekolah Xaverius. Lama-lama dia tertarik untuk membuka usaha mengajar anak-anak usia dini di linkungan tempat tinggalnya.

Dalam menggeluti pekerjaan yang sudah dilakoninya kurang lebih 10 tahun, ibu Eli merasa senang dan gembira, “Saya merasa senang bekerja seperti ini mas, memang di segi materi lebih besar gajinya kalau saya mengajar kursus bahasa Inggris, tapi itu kan saya harus full time dan makan gaji sebab kerja dengan orang lain. Di sini saya usaha sendiri dan bias membagi waktu untuk keluarga, setidaknya ada waktu senjangnya buat keluarga. Dalam mengajar saya tidak sendiri tapi dibantu oleh temen-temen juga. Kalu soal materi memang tidak gede tapi yang penting saya bias membantu anak-anak yang tidak mampu belajar membaca dan berhitung itu sudah kepuasan tersendiri bagi saya.” Imbuhnya.


Ibu Eli mengemukakan kalau dia ingin sekali membuka Rumah Baca ataupun Taman Baca gratis untuk anak-anak. Kendalanya sekarang buku-buku bacaan yang dikumpulkan masih minim, karenanya kami berharap ada donatur yang mau memberikan buku-buku baik baru maupun bekas yang layak baca. Buku-buku tersebut sangat berguna bagi kami untuk  menambah perbendaharaan dan bacaan buku kami.

Sumber : 
Majalah Siginjai
Media Informasi Polda Jambi - edisi 1 tahun XV Februari 2013

Selasa, 30 Juli 2013

Ngajak Balapan

Seorang pemuda kebut-kebutan di jalan, kecepatannya saat itu melampaui dari kecepatan maksimal yang ditetapkan di area tersebut. Seperti pemuda tersebut ingin mencoba kemampuan motor balap miliknya yang baru dibeli.

Polisi yang melihat langsung mengejar pengendara motor tersebut. Pengendara motor terus saja melaju, dia sempat melihat Polisi yang sedang mengejarnya. Nammun dia tetap saja ngebut. Pemuda tersebut berpikir, mungkin itu hanya Polisi yang sedang berpatroli.

Polisi yang mengetahui kalau motor yang dikejar semakin kencang melaju, merasa tak mau kalah, dia tak menyerah dan mengejar pengendara motor itu, Polisi menaikkan gasnya, begitupun sang pengendara. Terlihat mereka saling susul-menyusul.

Setelah melalui pengejaran yang seru, akhirnya pengendara motor itu terpojok dan berhasil dihentikan, Polisipun menegurnya....

"Kenapa anda terus ngebut Pak, saya tadi berusaha untuk mengejar anda, anda telah melakukan pelanggaran lalu lintas,"kata Polisi

"Looohh.... Bapak tadi ternyata mengejar saya tooo....???"jawab pemuda lugu.

"Iyaa... dan justru saudara malah semakin kencang... "

"Yaelah Bapak, kenapa gak bilang dari tadi..?? Saya kira Bapak tadi mau mengajak balapan..."" kata pemuda itu dengan santainya....

"Lhoooo..... waahh... waahhhh...."kata Polisi sambil mengeluarkan surat tilang.

Senin, 01 Juli 2013

Hari Lahir Polri Bukan 1 Juli


Banyak ulasan pakar sejarah yang mengangkat sejarah berdirinya Polri. Salah satunya menyatakan bahwa hari bhayangkara pada 1 Juli 1946 bukan merupakan “hari lahir” Polri karena Polri sudah ada sebelumnya. Lebih unik lagi, Surabaya punya “Sejarah khusus tentang Kepolisian”. Di kota pahlawan ini  Polisi pernah melaksanakan “Proklamasi Polisi”. Dalam ejaan lama, dalam Proklamasi Polisi di tulis:

“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia”.

Soerabaja, 21 Agoestoes 1945
Atas Nama Seloeroeh Warga Polisi
Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I

Sejarah mencatat bahwa menjelang pendaratan armada kapal perang Sekutu di Tanjung Perak Surabaya, 25 Oktober 1945, situasi di kota Surabaya semakin mencekam. Kemarahan rakyat terhadap Indo-Belanda yang membonceng rombongan Palang Merah Internasional (intercross) makin menjadi-jadi. Selain pemuda yang bergabung dalam PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat), Polisi juga mempunyai peran yang cukup menentukan menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Ketika menjadi insiden bendera, 19 september 1945, Polisi bergerak cepat mereka menyatu dengan massa. 


Di Surabaya, selain Polisi Umum, ada Pasukan PI (Polisi Istimewa) yang sangat disegani. PI adalah jelmaan  dari CSP (Central Special Police). Apalagi, pada Agustus 1945 itu, hanya Polisi yang masih memegang senjata. Karena, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, penguasa Jepang di Indonesia membubarkan tentara PETA dan Heiho, sedangkan senjata mereka dilucuti. Bung Tomo, pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, meyatakan :

“PETA diharapkan dapat mendukung perjuangan di Surabaya tahun 1945 , tetapi PETA membiarkan senjatanya dilucuti oleh Jepang, untung ada Pemuda M. Jasin dengan pasukan-pasukan Polisi Istimewanya yang berbobot tempur mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya.”
- Bung Tomo

Polisi mempunyai peran yang istimewa dalam masyarakat,kondisi ini dimanfaatkan untuk melakukan pemantapan. Dalam buku Sejarah Kepolisian di Indonesia, disebutkan: “Di Surabaya, Komandan Polisi Istimewa Jawa Timur, Inspektur Polisi Kelas I (Iptu) Moehammad Jasin, memproklamasikan kedudukan Kepolisian pada 21 Agustus 1945.”

Proklamasi Polisi itu merupakan suatu tekad anggota Polisi untuk berjuang melawan tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap, walaupun sudah menyerah. Proklamasi itu juga bertujuan untuk meyakinkan rakyat bahwa Polisi adalah aparat negara yang setia kepada Republik Indonesia. Dengan demikian, rakyat dapat melihat bahwa Polisi bukanlah alat penjajah. Jadi, di Surabaya, Kepolisian Republik Indonesia lahir mendahului keberadaan Polisi di Indonesia yang secara resmi ditetapkan sebagai Hari Bhayangkara, 1 Juli 1946.

Asvi Warman Adam, ahli penelitian utama LIPI, di Radar Jogja (1 Juli 2009), pernah menyampaikan bahwa :
“1 Juli sering dianggap sebagai hari lahir Kepolisian. Padahal instansi itu sudah ada sejak Proklamasi Kemerdekaan, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Di Indonesia, tentara, terutama Angkatan Darat (AD), memiliki kesadaran sangat tinggi tentang pentingnya sejarah. ……….. “

Lebih lanjut dia menjelaskan di kalangan Polisi malah kurang akan kesadaran sejarahnya sendiri. Padahal menurut Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya”. Oleh karena itulah makanya sejarah Kepolisian ini masih banyak yang belum tahu bahkan oleh Anggota Kepolisian sendiri.

Sumber :
Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang
Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia
Diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2010

Kamis, 06 Juni 2013

Pergi Pagi Pulang Petang (P4)

Pukul 04.00, saat orang masih tidur lelap dipagi buta, lelaki asal Jogjakarta ini harus sudah bangun dari tidurnya dan bersiap-siap berangkat kerja ke Jakarta.

Inilah salah satu suka duka anggota Polisi yang bertugas di Polda Metro Jaya (PMJ). Seperti yang dilakoni Aiptu M. Ikhsan. Bapak dua anak yang bertugas di bagian verifikasi data Seksi BPKB Dit Lantas PMJ. Ikhsan harus sudah berangkat ke kantor di pagi buta, dimana sebagian masyarakat masih menikmati hangatnya selimut.

Setiap hari berangkat jam 03.30 atau paling lambat jam 04.00 WIB. Maklum ikhsan tinggal di Perumahan Tambun, Bekasi. Supaya tidak telat apel pagi, maka harus berangkat ke kantor pada pagi buta.

Dulu, sebelum punya sepeda motor, ikhsan harus naik angkutan umum untuk pulang pergi ke kantor. Sekitar pukul 05.30, biasanya sudah sampai di kantor. Lalu bersiap-siap untuk mengikuti apel pagi.

Rutinitas ini bagi sebagian orang tentu tidaklah ringan. Selain harus menjaga stamina tubuh, perlu pula sabar menjalaninya. Bagi Ikhsan, pengabdian ini sangat dinikmati dan disyukurinya. Dia tidak pernah mengeluh. Sebab, menjadi Polisi memang sudah pilihan yang diidam-idamkannya sejak kecil.

Pria kelahiran Jogja ini menjadi anggota Polisi sejak 1984. Tak lama kemudian dia langsung ditugaskan sebagai Polisi lalu lintas di PMJ. Di Seksi BPKB, awalnya Ikhsan bertugas di bagian arsip. Tapi sejak empat tahun lalu, tugasnya pindah di bagian verifikasi data.

Kalau ditanya tentang gaji dia menjawab, "Ya... kurang lebih sekitar Rp. 1,8 juta setiap bulan. Itu gaji plus tunjangan. Kalau saya ditanya cukup atau tidak, ya harus dicukup-cukupkan," katanya. Ikhsan tergolong anggota yang masih beruntung. Sebab masih ada anggota lain yang nasibnya kurang mujur. Misal harus jadi sopir angkot untuk menutup kekurangan kebutuhan keluarga.



Pertama kali bertugas di Sat Gasus. bertugas di manapun, katanya, sama saja. Di BPKB, atau di lapangan juga melayani masyarakat. 

Dengan sistem pelayanan BPKB saat ini, Ikhsan ternyata ikut senang. Katanya, ada perubahan yang cukup bagus. Ada kemajuan, baik di bidang fasilitas gedung, pelayanan dan tenaga SDM-nya.

Dia juga tak melewatkan untuk menyimak berita menyangkut Polisi lalu lintas. Secara tidak langsung, dia melihat dan mendengar keluhan dari masyarakat. Dari situlah, secara pribadi bertekad untuk memberi pelayanan kepada masyarakat yang dimulai dari diri sendiri.

SUMBER :
Majalah Jagratara, The Police Magazine
Edisi XXV Desember 2006