Rabu, 16 September 2015

Brimob Pemilik Pakaian Loreng Pertama di Indonesia

Pada tahun 1950-an, Kesatuan-kesatuan Mobile Brigade aktif mengatasi berbagai gejolak yang bercorak pemberontakan melawan pemerintah yang sah ataupun berupa gerombolan bersenjata di seluruh Indonesia. Komisaris Polisi Tingkat I Moehammad Jasin yang pada saat itu sebagai Panglima Korp Mobile Brigadir Indonesia giat melaksanakan pembenahan organisasi dan pembinaan keterampilan dan kemampuan kesatuan MB untuk mengatasi berbagai gerakan pengacau keamanan tersebut. 

Pada tahun 1953, Beliau mengirimkan kader MB untuk mengikuti pendidikan dan latihan “Rangers” di Filipina. Keputusan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa para kader MB dapat belajar banyak dari keberhasilan pasukan Rangers Filipina dalam menumpas gerombolan bersenjata yang menamakan dirinya “Hukbalahap” di Negara itu. Karena berhasil mengatasi pemberontakan, metode ini dipandang ampuh dan patut dipelajari serta dijadikan pedoman untuk menanggulangi gerakan serupa di tanah air. 

Setelah mengikuti pelatihan di Filipina, pasukan Mobile Brigade melakukan satu latihan uji coba di pegunungan Cirebon yang rawan dengan gerombolan pengacau bersenjata. Satu regu pasukan MB dikirim dipimpin oleh Andi Abdulrachman, seorang kader MB yang telah mengikuti pendidikan dan latihan Rangers di Filipina. 

Pasukan tidak berseragam mulai bergerak pada siang hari untuk melakukan penyelidikan lokasi gerombolan dan tempat persembunyian pimpinannya. Setelah berhasil mengetahuinya, pada malam hari dilancarkan penyerbuan mendadak dan segera menghilang. Gerakan ini berfungsi sebagai perang urat saraf guna menciptakan kekalutan dan kebingungan di pihak gerombolan. Dalam gerakan ini, pasukan MB berhasil membunuh pimpinan gerombolan sehingga anak buahnya kocar-kacir dan masing-masing menyelamatkan diri. Dalam waktu singkat, daerah pegunungan Cirebon dinyatakan bersih dari gerakan pengacau bersenjata. 

Keberhasilan uji coba itu menggugah hati pihak kementerian keamanan sehingga Panglima MB, Moehammad Jasin diminta mendirikan pendidikan Ranger. Atas usul itu, didirikan satu pusat pendidikan dan latihan Rangers di Lido (Bogor). Di tempat ini, dibangun satu asrama yang diperuntukkan bagi kesatuan kader-kader MB alumni dan pelatihan Rangers di Filipina. 

Berdasarkan keterangan M. Jasin dalam buku berjudul Memoar Jasin sang Polisi Pejuang mengatakan bahwa "kesatuan yang lebih dikenal dengan sebutan Batalyon Rangers ini mengenakan seragam militer loreng dan menggunakan tanda-tanda pangkat lapangan yang lengkap.  Pasukan inilah yang pertama kali menggunakan pakaian militer loreng di Indonesia."

Pendidikan Rangers ini mendapat perhatian besar dari berbagai pihak, pihak sipil maupun pihak militer di Indonesia mengirimkan anggota pasukannya untuk mengikuti pendidikan dan latihan ini. 

Peningkatan jumlah anggota batalyon Rangers yang telah mengikuti pendidikan dan latihan membuat status Batalyon Rangers berubah menjadi Resimen Rangers. Kemudian Pada tahun 1959, Presiden Soekarno mengganti nama kesatuan ini menjadi Resimen Pelopor (Menpor). 

Alumni pendidikan dan latihan Ranger disalurkan ke batalyon-batalyon MB yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk itu, dibuka lagi satu pusat pendidikan dan latihan MB yang berintikan Rangers di Porong, Watukosek, Jawa Timur. Pembukaan pusat pendidikan dan latihan ini semakin memperkuat kesatuan-kesatuan MB dalam mengatasi dan menumpas setiap gerakan pengacau keamanan Negara. 

Namun, entah untuk kepentingan dan keputusan politik seperti apa sehingga Menpor resmi dibubarkan pada tahun 1972. Padahal pasukan elit Polri ini sudah banyak memberikan darma baktinya di berbagai tugas penting guna kelangsungan Negara Republik Indonesia, bahkan Menpor juga mempunyai andil besar dalam operasi Dwikora dan Trikora. 

Sebagian sejarah yang mengisahkan tentang sepak terjang Detasemen Pelopor mulai dari kelahiran hinggah dibubarkan ada ditulis dalam buku berjudul, “Resimen Pelopor, Pasukan Elit Yang Terlupakan”. Penulis belum mendapatkan buku ini dan semoga penulis dapat berkesempatan membaca tulisan dalam buku ini.


Sumber : 
Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang 
Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia 
Diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2010

Rabu, 09 September 2015

Pak Harto Alumni Kepolisian


Tak banyak yang mengetahui bahwa Mantan Presiden Republik Indonesia, Soeharto, sebenarnya pernah menjadi Polisi. Bahkan Karier beliau sebetulnya justru dimulai dari Polisi. Lebih dari itu, sesuai dengan pengakuan Pak Harto sendiri dalam otobiografinya, "Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya," Beliau dapat lulus menjadi PETA karena sebelumnya sudah lebih dahulu memperoleh dasar-dasar kemiliteran sewaktu menjadi Polisi. Dengan demikian secara tidak langsung jajaran Polisi sesungguhnya ikut berperan mengantarkan salah satu anggota terbaik dalam mengembangkan karier dan menjalankan kehidupan sampai jenjang presiden. 


Kisah Pak Harto masuk Polisi pun cukup unik. waktu itu keadaan Indonesia sedang di bawah penjajahan Jepang dimana semuanya masih serba sangat sulit. Pak Harto bukanlah tipe orang yang cukup berpangku tangan, apalagi sampai menyusahkan orang lain. Maka Pak Harto pun berangkat ke Yogyakarta mengadu untung.

Mula-mula beliau ikut kursus mengetik di Patuk yang kebetulan letaknya tepat berada di depan asrama Polisi. Pada suatu hari dia membaca pengumuman bahwa Polisi (Keibuho) menerima anggota baru. Setelah sempat agak ragu-ragu akhirnya beliau memberanikan diri mendaftar. Dari sanalah beliau kemudian berhasil menjadi kader sersan nomor satu.

Sejarah menunjukkan, Pak Harto juga mempunyai bakat dan kemampuan yang sangat tinggi untuk menjadi Polisi. Catatan sejarah memang memperlihatkan, sebagai anggota Polisi, Pak Harto mempunyai prestasi yang bagus. Ketika mulai masuk pendidikan sebagai kader sersa, sebetulnya beliau masih terkena penyakit malaria, padahal dia harus menjalan ilatihan keras selama tiga bulan, baik fisik, mental maupun pikiran.

Tapi apa yang kemudian terjadi? dalam keadaan ini yang luar biasa adalah Pak Harto berhasil meraih predikat lulusan paling baik. "Malahan saya lulus nomor satu"/ Katanya dalam biografi beliau. Berangkat dari prestasi sebagai lulusan nomor satu itu Pak Harto diberikan tugas untuk hilir-mudik. Bahkan beliau pun lantas ditugaskan untuk belajar Bahasa Jepang.

 (Skep pengangkatan dan gaji Pak Soeharto sebagai Polisi)

Bakat dan kemampuannya tidak luput dari pengamatan para opsir Jepang. Itulah sebabnya Kepala Polisi Jepang menganjurkan kepada Pak Harto agar beliau masuk PETA. Maka Pak Harto pun ikut saringan untuk jadi anggota PETA. Sekali lagi di sini Pak Harto membuktikan keunggulan dirinya. Dari seluruh pelamar yang berasal dari Yogyakarta, dimana waktu itu Pak Harto tinggal, ternyata hanya beliaulah satu-satunya calon yang diterima berasal dari anggota Polisi. Mengenai hal ini Pak Harto mengatakan, "Memang bisa dimengerti pula karena saya sudah mempunyai dasar pendidikan militer, sehingga saya tidak menemukan kesulitan dalam mengikuti ujian itu."

Menurut mayor Jenderal Polisi (Purn) M. Yassin, Pak Harto pada tahun 1948 pernah hadir dalam HUT Bhayangkara di Yogyakarta. Waktu itu Pak Harto, kata M. Yassin, datang dengan pakaian militer. Namun foto Pak Harto berseragam Polisi sampai sekarang masih belum ditemukan. Dari beberapa saksi yang pernah mengetahui Pak Harto sewaktu menjadi Polisi, diantaranya Y. Supatman (terakhir Kapten Polisi) yang pernah menjadi sopir beliau, dan mantan Lurah Kemusuk, Soewito (yang kebetulan kakak Pak Harto) ternyata juga tidak ada yang memiliki dokumentasinya.

Selasa, 01 September 2015

Polisi yang Mampu Lacak Identitas Mayat Berkat Alquran


Ilmu forensik adalah ilmu yang berkutat pada visum dan autopsi mayat. Namun seorang perwira polisi mampu mensinergikan ilmu forensik dengan sejumlah ayat yang ada dalam kitab suci Alquran. Seperti apa?


Ya, dia adalah Aiptu Wazir Arwani Malik, seorang Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Tengah. Perwira yang kesehariannya berkutat di dunia forensik ini mampu mengaplikasikan ayat Alquran saat melakukan olah TKP terhadap mayat.

Pria yang lahir dan dibesarkan oleh keluarga santri di Ponpes Girikusuma, Mranggen Demak, Jawa Tengah itu, kerap mengaplikasikan Surat Yasin ayat 12 dalam tugas forensiknya. Menurutnya pendekatan teologis dalam hal autopsi sangat membantunya dalam memecahkan persoalan forensik yang kerap menjadi tanda tanya.

Apalagi, saat ia harus memecahkan suatu kasus, seperti mayat yang tidak diketahui identitasnya.

"Ilmu forensik itu sudah dibahas dalam Alquran sejak 1.400 tahun lalu. Dalam surat Yasin termaktub, apa yang pernah menjadi perbuatan manusia pasti meninggalkan jejak. Itu yang jadi pedoman saya," terang Aiptu Wazir kepada VIVA co.id di Semarang, Rabu, 6 Mei 2015.

Dalam keyakinannya, tidak ada perbuatan manusia yang tidak meninggalkan jejak. Bahkan suatu benda yang mati bisa berbicara, seperti darah, potongan tubuh, DNA, rambut, pisau bahkan HP.

"Melalui sistem labfor, polisi bisa menggali dalam pengungkapan perkara," papar pimpinan Ponpes Al-Hadi Mranggen Demak itu.

Aspek teologi melalui penafsiran Alquran ini, kata dia, sudah tertulis pasti sejak manusia lahir sampai mati. "Jadi barang bukti itu titik sentral, akan berguna bagi hakim di pengadilan, penyidik, pelaku dan lain-lain, " ujar bapak tiga anak itu.

Dasar itulah yang membuat Wazir selalu tekun dan penuh kesabaran saat bertugas. Karena menurutnya, Alquran bukan sebagai alat ritual saja, melainkan pedoman seluruh aspek kehidupan.

Tak jarang, dalam setiap aktivitas forensik yang sulit, Wazir selalu mendoakan jasad korban, meski masih berupa tulang rambut bahkan organ lain.

"Alquran itu bukan untuk diritualkan, tapi untuk petunjuk, di antaranya pengungkapan perkara seperti tugas seorang polisi. Orang yang saya autopsi saya doakan. Doa itu etika, agar nanti Tuhan beri petunjuk, " beber pria kelahiran Demak, 28 Februari 1968 silam itu.

Bentuk petunjuk dan kemudahan itu bervariatif. Sumber informasi awal bisa diperoleh dari tempat kejadian perkara, misalnya barang yang tertinggal, dari peluru atau lainnya.

Saat berdoa, jelas Wazir, bukan mengirimkan permintaan, namun menyampaikan supaya orang yang belum diketahui identitasnya itu diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan di tempat yang layak.


"Kalau jenazah tanpa identitas, jumlahnya sekira belasan," tambahnya.

Di dalam keluarga, Wazir mengungkapkan, bahwa putra putrinya sudah terbiasa dengan tugasnya sebagai polisi. Bahkan, ketiga anaknya sering melihat foto-foto saat autopsi.

"Anak-anak sering buka laptop saya. Mereka tahu dan itu menjadi proses pembelajaran untuk mengetahui tentang anatomi manusia. Dengan harapan mereka bisa mengenal diri, kemudian Tuhannya," beber dia.

SUMBER :

http://m.news.viva.co.id/news/read/622811-polisi-ini-mampu-lacak-identitas-mayat-berkat-alquran

Minggu, 30 Agustus 2015

Jadi Polisi itu Sesuatu

Polisi dipuji namun banyak pula ocehan-ocehan yg masuk kedalam institusi kami, mulai dari yg sedikit seram sampai yang sangat seram, caci maki, sumpah serapah, seakan kami tidak ada ada gunanya, dianggap sampah masyarakat.


Sudah santapan sehari-hari, tapi begitu ada kejadian dimasyarakat, mulai dari suami istri yang bertengkar, maling sepatu, maling ayam, lalu lintas macet, ada orang hilang, ada kakek-nenek lupa rumahnya, kami selalu dicari, mana polisi !!,

Bahkan kami terus disindir kalau hilang barang, kalau masih bisa diatasi jangan lapor polisi, karena ada pemeo, kalau melapor hilang kambing bisa bisa malah hilang sapi...

Kami tahu itu semua, namun kami hanya bisa mengelus dada.

Teman teman kami yang bertugas dilapangan, sebagai polisi lalu lintas selalu disindir dengan istilah prit jigo, damai itu Rp. 20.000,- bahwa polantas selalu menjebak pengendara yg salah masuk rambu-rambu larangan, menjebak rambu / marka garis lurus, pada saat kami mau melakukan tilang, selalu dirayu dengan mohon kebijaksanaan pak, bapak baik deh, kalau cewek bapak Ganteng deh, no hapenya berapa pak.

Kalau yang punya bekingan, mereka mengeluarkan katu nama, mengeluarkan kartu anggota Mitra Polisi, anggota ormas atau menelpon kerabat mereka yang kebetulan juga atasan kami, padahal kami sudah bertugas dari pagi buta, saat teman-teman kami yang lain instansi masih terlelap, kami sudah bersiap-siap dijalan,bahkan banyak belum sarapannya, kalau tejadi sesuatu, bisa bisa kami berdinas dijalanan sampai malam hari, menghirup debu jalanan dan gas buangan CO2, kepanasan dan kadang kehujanan.

Pada saat semua orang tersentak dengan bom yang diledakan teroris, kami dengan segenap kemampuan yang kami miliki, mengabaikan rasa takut terdalam kami sebagai manusia, berjudi dengan bom yang dipasang sekelompok orang yang dinamakan teroris, sejujurnya kami juga takut mati, tapi ini adalah tugas kami.

Pada saat belum terungkap mereka bilang intelijen kecolongan, komentar ini itu, tidak mampu, dsb. Namun pada saat bisa cepat menangkap malah dikatakan rekayasa Polisi, ciptaan Polisi, memelihara lahan Teroris dls..

Pada saat kita disentakan dengan maraknya peredaran narkoba, berapa banyak pula anggota kami yang menyamar menjadi bagian dari sindikat narkoba dan tidak sedikit mereka akhirnya menjadi pencandu juga. Berhari-hari, berbulan-bulan, meninggalkan keluarga untuk tugas, bergulat dengan dunia kegelapan untuk mengurai kejahatan sungguh mempertaruhkan nyawa.

Masyarakat tidak memahami bagaimana sulitnya bekerja seperti itu, jangan salahkan kemudian ada yang stres ada yang kalut, ada yang tidak kuat dalam menjalankan tugas. Beruntung Allah SWT masih mematri iman di dada kami.

Itulah sedikit keluh kesahku, karena kami bukanlah robot yg tanpa makan dan minum. Kami juga memiliki hati yang bisa tersakiti, kami juga memikirkan keluarga, anak dan masa depan.

Kami memang belum sempurna, namun terus berusaha memperbaiki diri, terus berupaya untuk melayani yg terbaik dan tekadku pengabdian yg terbaik..

Jangan kami di label, jangan kami di sama ratakan, krn di instansi kami dan instansi instansi yg lain jg sama sepertiku ada yg baik, dan pasti juga ada yg buruk serta tidak disiplin.

Senin, 24 Agustus 2015

Kenapa Baru Lapor...??



Seorang anak kecil tergopoh-gopoh menghubungi Polisi melalui handphone-nya.

Anak : "Hallo Pak Polisi? Tolong pak, saat ini paman saya sedang dikeroyok oleh 4 orang preman".

Polisi : "Sudah berapa lama, Dik?"

Anak : "Sejak 20 menit yang lalu, Pak".

Polisi : "Lho?? Kenapa baru telepon sekarang...??"

Anak : "Soalnya sampai 2 menit yang lalu paman saya masih unggul Pak".

Rabu, 04 Februari 2015

Ada Polisi Baik Sebanyak yang Anda Lupakan

Mungkin Anda seperti saya. Satu-dua kali rumah Anda pernah disatroni maling. Katakanlah dua kali. Selebihnya–sadar atau tidak–Anda bisa tidur nyenyak di malam hari, atau meninggalkan harta benda di rumah untuk pergi berlibur. 

Mungkin Anda seperti saya. Satu-dua kali pernah kecopetan di angkutan umum. Katakanlah dua kali. Selebihnya–sadar atau tidak–Anda sudah ribuan kali menggunakan kendaraan umum. Kesana dan kemari, hingga sampai di kondisi Anda sekarang, tanpa pernah lagi kecopetan. 

Anda mungkin seperti saya. Satu-dua keluarga atau kerabat Anda pernah dibunuh penjahat. Katakanlah dua orang. Selebihnya, ratusan anggota keluarga dan ribuan kerabat Anda hari ini masih menjawab “kabar baiiik. Saya sehat Alhamdulillah….”, ketika Anda tanya kabar dan keadaan mereka. 

Anda mungkin seperti saya. Satu-dua kali pernah harus mengeluarkan uang ekstra ketika berurusan dengan polisi di jalan. Katakanlah dua kali. Selebihnya, jalan-jalan Anda menuju ribuan tujuan relatif teratur. Membuat Anda selamat dan bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang Anda sayangi di rumah.

Ada banyak lagi hal-hal menyangkut keamanan dalam hidup Anda dan keluarga, yang sekali-dua kali gagal diamankan dengan baik oleh polisi. 

Tapi pernahkah Anda berpikir bahwa diluar satu-dua kali kejadian yang menimpa Anda, ada ribuan kali dan hari Anda selamat?. Tentu saja polisi tak seperti malaikat yang mengapit kanan-kiri Anda 24 jam sehari. Namun karena citra keberadaan mereka di sekitar Andalah yang membuat penjahat berpikir tiga kali untuk tidak tiap hari mengganggu Anda.

Mungkin Anda aman bukan semata-mata karena ada polisi. Tapi Anda aman karena para penjahat tahu ada polisi yang bisa sewaktu-waktu menyergap, mengejar bahkan membunuh mereka, demi membela Anda dan keluarga.

Satu hal lagi yang mungkin Anda lupa. Bahwa tiap kali polisi menjaga dan membela Anda, itu artinya mereka meninggalkan keluarga mereka. 

Demi Anda. Budi Gunawan mungkin korup. Mungkin tidak. Djoko Susilo dan Susno Duadji telah mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Sementara Hoegeng telah selamat menunaikan tugas hingga akhir hayatnya, untuk kemudian dikenang sebagai polisi baik sepanjang masa.

Ada bad cop. Ada good cop. Sebutkan profesi Anda. Apapun. Maka pada profesi itu, Anda akan menemukan sekian banyak perilaku jahat yang dilakukan penyandang profesi tersebut. Artinya ada good you, ada bad you dalam profesi. Kecuali Anda tak jujur.

Maka berhentilah mengatakan bahwa hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia; Hoegeng, polisi tidur dan patung polisi, hanya karena Anda lupa atau tidak jujur, bahwa hingga hari ini Anda selamat karena citra keberadaan polisi. 

Be proportional. 

All is fair in love. 
All in love is fair.

SUMBER :
Ditulis oleh salah seorang akun kompasiana bernama Onggo pada tanggal 20 Januari 2015.
Tulisan asli : sosbud,kompasiana.com 

Rabu, 21 Januari 2015

Kisah Nyata Polisi Menilang Istrinya



Dalam video yang diunggah di YouTube tanggal 17 Mei 2014 mengisahkan tentang seorang Polisi yang menilang seorang wanita pengendara sepeda motor matic yang ternyata adalah istrinya sendiri. Berikut Videonya :



Dalam video tersebut, seorang wanita menerobos lampu merah dan hampir tertabrak oleh pengendara dari arah berlawanan, wanita itu nekat menerobos lampu merah karena sepeda motor yang ada di depannya mengepulkan asap pekat. 

Seorang petugas Polantas yang melihat aksi ini kemudian berlari mengejar wanita tersebut. Dengan sigap, ia berhasil menghentikan dan memberikan surat tilang. Meski sang wanita terlihat marah saat dirinya diberi surat tilang, sang Polantas tetap menilangnya. 

Yang menarik, wanita yang ditilang tersebut ternyata adalah istrinya sendiri. Tampak sang Polisi merasa bersalah terhadap istrinya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Sang Polisi mampir di sebuah toko bunga dan membeli bunga mawar.

Sesampai di rumah, ia mendapati sang istri telah tertidur lelap. Sang Polisi yang tidak ingin mengganggu sang istri yang telah terlelap kemudian meletakkan bunga mawar di samping sang istri. Di tangkai bunga diselipkan sebuah kartu bertuliskan, "MA, MAAF TADI PAPA TILANG, PAPA HARAP MAMA MENGERTI, PAPA CINTA MAMA".


Adegan tersebut merupakan video dari kejadian nyata yang dialami Aiptu Jailani, yang berdinas di Polantas Gresik, Jawa Timur. Kejadian ini direka ulang dalam video berdurasi 4 menit 40 detik video yang dibuat oleh Forum Film Jambi. Dalam video berjudul 'Kisah Nyata Polisi Menilang Istrinya' yang diunggah ke YouTube.


Video yang diunggah 17 Mei 2014 tersebut, telah disaksikan 810.523 kali (22/01/2015) dan mendapat komentar beragam dari pengguna YouTube. Sebagian besar mengapresiasi tindakan Aiptu jailani.

Beberapa komentar tersebut  diantaranya seperti yang ditulis oleh Aris Prayogo, "Jujur ane benci polisi. Tapi kalau ada polisi macam gini, ane salutt banget. Dan semoga semua polisi akan seperti ini. Anti suap, tidak pandang mulu, ramah di depan orang lemah, garang menantang lawan. Bukan sebaliknya, arogan kepada masyarakat awam... tapi takut dengan preman kuat atau gank besar..." 

"Berlinang air mataku lihat video ini.. Bginilah contoh suami istri yg baik.sling memaafkan itu nytany d masakin .demi tugas kerja. Istripun tk d bedakan sdngkn klo di rumah jdi suami yg sangat sayang sma istri...so sweat," tulis Ika Hafis.